sumber ilustrasi: detikcom

 

 

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه لا نبي بعده

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

وَوَصَّیۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَ ٰ⁠لِدَیۡهِ إِحۡسَـٰنًاۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ كُرۡهࣰا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهࣰاۖ وَحَمۡلُهُۥ وَفِصَـٰلُهُۥ ثَلَـٰثُونَ شَهۡرًاۚ حَتَّىٰۤ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِینَ سَنَةࣰ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِیۤ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِیۤ أَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَعَلَىٰ وَ ٰ⁠لِدَیَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَـٰلِحࣰا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِی فِی ذُرِّیَّتِیۤۖ إِنِّی تُبۡتُ إِلَیۡكَ وَإِنِّی مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِینَ

Masih membicarakan panduan Al Quran bagi manusia. Khususnya bagi kita yang sudah dewasa, sebab  kehidupan ini sesungguhnya dimulai pada usia 40 tahun. Seperti Muhammad diangkat sebagai Rasul pada usia empat puluh tahun. Ada enam item dalam ayat Al-Ahqaf: 15 di atas. Kali ini kita membicarakan item dengan topik an a’mala salihan tardhahu (amal saleh yang diridai Allah).

Kaitanya dengan bulan ini, kita tahu bahwa ada tiga nabi yang keluar angkasa dengan berbagai tipe. Pertama, Nabi Idris AS, yang pernah singgah di surga dan keenakan dan tidak pernah kembali. Kedua, Nabi Isa AS, karena sesuatu yang sangat emergency, maka Tuhan perlu segera memutuskan untuk dievakuasi ke langit. Dan sampai saat ini belum kembali.

Ketiga, Nabi Muhammad SAW, bukan karena rekreasi ataupun emergency, tapi karena audisi menghadap Tuhan untuk menerima perintah-perintah dari langit. Oleh karenanya, dengan sekejab Hadraturrasul kembali lagi ke Bumi untuk menyampaikan pesan-pesan langit demi kehidupan umat manusia menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Hari ini, tentang sosok Nabi yang kedua—Isa As—yang dipersengketakan tiga agama besar. Agama yang memandang Isa ibn Maryam ini anak zina yang membuat sial. Yang menyebabkan sialnya dunia, maka harus dibunuh.

Kebalikannya keyakinan Nasrani yang menganggap  bahwa Isa ini anak Tuhan yang disejajarkan di sana. Sedangkan yang ketiga agama Islam memandang bahwa Isa adalah manusia yang mempunyai banyak keistimewaan. Namun tetap ada darah manusia, bukan anak Tuhan dan juga bukan anak zina pembawa sial. Tapi manusia yang ditunjuk Tuhan menjadi Nabi.

Latar belakang Nabi satu ini memang sangat menakjubkan. Bagaimana mungkin Tuhan membuat atraksi yang membingungkan manusia di dunia ini. Begitulah cara Tuhan mendemonstrasikan kekuasannya. Sehingga bersifat pengujian mana tanggapan mereka terhadap seorang gadis bersih pingitan yang hebat, bernama Maryam. Dengan fisik dan batin yang sangat baik (nabatan hasanan), sehari-hari juga terpingit di ruangan tertutup, tapi tiba-tiba hamil.

Hamil itu adalah takdir Allah untuk mendemonstrasikan kekuasaan Allah. Agar semuanya tahu bahwa untuk menciptakan manusia hanya cukup lantaran ibu saja. Seperti Hawa dulu yang diciptakan lewat bapak (Adam) saja. Juga seperti Adam yang kelahirannya tanpa ibu dan bapak. Andaikata dibandingkan antara Adam dan Isa, maka Adam lah yang lebih berhak dituhankan dari pada Isa, karena Adam penciptaannya tanpa ibu dan bapak.

Untuk itu tanda-tanda keajaiban sejak kecil sangat mengagumkan. Karena pribadi yang berbarakah. Di situlah, Maryam—bermakna ‘abidah khadimah (seorang cewek yang penuh dedikasi kepada Tuhannya—semua berubah ketika melahirkan Isa. Pohon-pohon kurma tiba-tiba berbuah manis dan sekaligus matang. Sungai kering di sampingnya juga tiba-tiba  mengalir air jernih.

Oleh karena itu, kelahirannya yang hebat ini tidak dibaca oleh orang sebagai keberkahan dari dirinya sendiri, namun ia dimitoskan sebagai anak Tuhan. Dan Allah juga telah mengantisipasi hal ini, untuk membentengi tuduhan masyarakat terhadap Isa anak zina dan Maryam pelacur.

Allah sudah memberi petunjuk kepada Maryam, jika nanti ditanya para demonstran yang menuduhnya placur, maka silahkan cukup dengan isyarat jari telunjuk kepada bayi Isa (fa asyarat ilaih). “Kalian kalau ingin tahu identitas bayi yang saya kandung ini tanyakan padanya langsung.” Kata Maryam kepada penuduhnya.

Wajar saja para penuduh menyangkal, “Kaifa nukallimu man kana fil mahdi sabiyya” (gendeng kon, bagaimana mungkin kami bicara dengan seorang bayi). Pada saat yang mencekam itu, tiba-tiba Isa memperkenalkan identitasnya, “Inni ‘abdullah” (sesungguhnya saya ini manusia biasa, hamba Allah). Ucapan itu secara otomatis memblokir keyakinan-keyakinan agama yang salah presepsi kepada Isa.

Kelanjutan dari identitas itu, “ataniy al-kitab” (saya diwahyuhkan sebuah Injil). Memang ada sosok manusia yang diangkat jadi nabi sejak kecil, seperti Isa ini, termasuk juga Nabi Yahya. Maka tidak heran jika di sekitar kita ada beberapa anak yang sedari kecil sudah cerdas luar biasa. Selanjutnya, “waja’alani nabiyya” (sejak kecil saya jadi Nabi).

Ditambah “waja’alani mubarakan ainama kuntu” (saya selalu diberkahi Allah kapan dan di mana saja). Lalu “wa aushani fi al-salati wa al-zakati, ma dumtu hayya” (Allah berpesan agar kami selalu salat dan berzakat selama hidup).

Bisa dilihat perintah kepada Isa untuk kaumnya adalah salah dan zakat. Bukan peribadatan dengan iringan musik pop, gitar, lagu-lagu, band, orgen. Kalau peribadatan seperti itu dapat dipastikan berasal dari budaya murni daerah Eropa. Karena di Yerussalem tempat asal Yesus tidak pernah ada budaya tersebut.

Termasuk wasiat Allah kepada Isa adalah “wabarram bi walidati” (berbakti kepada ibuku). Hanya kepada ibu, karena Isa tidak punya bapak. Perlu ditebali, ibu saja, bukan kedua orang tua. Hal itu memberi indikasi bahwa mereka yang mengatakan Isa anak Tuhan Bapa adalah kekeliruan.

Terakhir, Isa diperintah Allah berkata,

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Dan (kata ‘Isa as) kesejahteraan dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, wafat & dibangkitkan hidup kembali (QS Maryam, 19:33)

Yang perlu ditekankan adalah bahwa konteks dari ucapan selamat kelahiran (Natal) kepada Isa itu ketika Isa sebagai Nabi, bukan Isa yang dianggap anak Tuhan. Oleh karenanya, mereka yang berdalih ayat ini sebagai dalil ucapan Selamat Natal—menurut siyakul kalam­­­­—tidak pada tempatnya. Memang sebaiknya kita harus selalu berhati-hati terhadap sikap yang dapat mengkhawatirkan kualitas keimanan kita.

Dari kami, ingin berpesan untuk kita semua agar ada semangat pemurnian akidah di agama kita sendiri dari hal-hal yang mengkhawatirkan. Dalam hal ini benar-benar meluruskan anggapan Isa sebagai Tuhan atau pun anak Tuhan, dan bahwa yang paling logis adalah Isa sebagai Nabi.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Pentranskip: Yuniar Indra Yahya

SebelumnyaSeperti Apa Pengabdian Kita pada Allah?
BerikutnyaPesan Isra Mikraj untuk Kehidupan Sehari-hari