sumber gambar: tribun style

Oleh: Luluatul Mabruroh*

Selama ini, yang dipahami dari ibadah puasa adalah menahan rasa lapar dan dahaga sejak fajar terbit hingga matahari terbenam. Selain menahan lapar dan dahaga adalah keharusan bagi setiap muslim beriman untuk menahan nafsu untuk menyempurnakan ibadah yang telah diperintahkan oleh Allah SWT.

Lebih jauh lagi, Imam Ghazali mengklasifikasikan puasa menjadi 3 macam. Yaitu puasa awam, khusus dan khususul khusus. Dalam bahasa mudahnya bisa disebut puasa biasa, istimewa, dan istimewa.

Puasa awam dianggap sebagai gerbangnya puasa. Untuk mencapai tingkat puasa khusus, muslim harus melalui puasa awam terlebih dahulu. Yang dimaksudkan dengan puasa awam adalah mencegah memasukkan sesuatu ke dalam perut dan menjaga kemaluan dari memenuhi keinginannya. Puasa pada tingkat awam hanya mendapat lapar dan haus namun tidak menghalanginya dari kemaksiatan dan nafsu lainnya.

Tingkatan puasa selanjutnya adalah puasa khusus. Puasa khusus adalah puasa awam yang mana juga memperhatikan aspek fisik. Namun tidak hanya sampai berhenti pada fisik, puasa khusus juga berusaha mencegah pandangan, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Orang yang berada pada tingkat khusus memiliki kesadaran untuk selalu menahan keinginan-keinginan lahiriah yang berupa anggota-anggota badan dengan kenikmatan yang diinginkan oleh anggota tersebut. Tujuan untuk menemukan kenikmatan yang sebenarnya adalah ketenangan batin.

Menurut Imam Ghazali, pada hakikatnya puasa sebagai media untuk bisa dekat dengan Allah SWT dan hal tersebut benar-benar berfungsi apabila orang yang melaksanakan puasa dilandasi oleh kemauan yang kuat dan motivasi untuk berada sedekat mungkin dengan Allah melalui cara mengalahkan keinginan-keinginan yang bersifat lahiriah.

Tingkatan puasa yang terakhir adalah puasa khususul khusus. Puasa khususul khusus hanya bisa dicapai oleh anbiya (para Nabi), shiddiqin, serta auliya’. Umat Islam yang ingin sampai pada tahap ini harus melalui dua tahap puasa yang sebelumnya. Pada tingkat khususul khusus, kesadaran untuk menahan nafsu tidak hanya sampai pada batas lahiriah namun juga sampai pada hati dan batin.

Puasa hati dari segala cita-cita hina dan segala pikiran duniawi serta mencegahnya dari selain keberadaan Allah. Puasa khususul khusus akan menganggap batal bilamana memikirkan hal-hal duniawi, sehingga hatinya lupa terhadap Allah SWT kecuali masalah dunia yang mendorong pada arah pemahaman agama, sebab hal tersebut dianggap sebagai tanda ingat terhadap akhirat.

*Alumnus Pondok Pesantren An-Nuqayah Guluk-guluk Sumenep.

SebelumnyaLima Kegelapan serta Penerangnya
BerikutnyaProblematika Asa