Peserta dalam launching buku biografi Prof. Dr. H. Ridlwan Nasir MA, di Aula Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (06/05/17). (Foto : Rahmat)

Tebuireng.online- Aula Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya menjadi lokasi peluncuran buku biografi Prof. Dr. H. Ridlwan Nasir MA, Sabtu (06/05/17). Buku setebal 370 halaman ini merupakan karya persembahan ulang tahunnya yang ke-66. Dalam peluncuran buku ini, selain dihadiri oleh penulisnya, hadir pula para kolega dan murid-murid profesor kelahiran Tegal ini.

Prof. Ridlwan, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur ini, menuturkan apabila biografi dirinya ini ditulis untuk pengingat bagi anak-cucu serta para muridnya. “Setidaknya dari buku ini keturunan saya bisa belajar banyak dari kehidupan saya selama ini.” kata pria yang juga pernah menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Ampel selama dua periode ini dalam sambutannya.

Menurutnya, melalui buku ada berbagai pelajaran hidup yang bisa dipetik dari perjalanannya selama ini. Hal ini berbeda apabila hanya disampaikan melalui lisan yang daya jangkau, durasinya lebih pendek dan gampang dilupakan. Melalui buku, siapa pun bisa belajar kapan pun dan di manapun.

Buku yang ditulis oleh Chafid Wahyudi, Wasid Mansyur, Rijal Mumazziq Z, Ali Hasan Siswanto serta Ach. Syaiful A’la ini mengupas perjalana hidup Prof. Ridlwan sejak menjadi yatim di usia 40 hari, belajar di Pondok Tebuireng, menapak karir sebagai aktivis PMII, menjabat sebagai Rektor UINSA, Direktur Pascasarjana UINSA hingga ketua tim seleksi Ketua KPU Nasional.

Rentang perjalanan panjang inilah yang membuat tim penulis sepakat membukukan biografi Prof. Ridlwan. Sedangkan Prof. Masdar Hilmy, Ph.D yang merupakan Wakil Direktur Pascasarjana UINSA menjelaskan apabila buku “Menyongsong Takdir, Meniti Asa” adalah hamparan perjalanan yang pantas diapresiasi dalam sebuah buku. Dia menuturkan perjumpaan awalnya dengan Prof. Ridlwan dan bagaimana metode sang profesor dalam memenej waktu, menjalin relasi, hingga menjadi organisatoris yang baik. “Apalagi beliau ini punya banyak ijazah amalan dari para kiai, yang juga diijazahkan kepada murid-muridnya.” kata Prof. Masdar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Di antara amalan rutin yang dilakukan Prof. Ridlwan adalah Shalawat Badawiyah yang dia dapatkan melalui KH. Adlan Aly, Pengasuh PP. Walisongo Cukir Jombang. Amalan inilah yang biasanya dia ijazahkan untuk para mahasiswanya. Sedangkan Prof. Ali Aziz, MA, salah satu koleganya, menjuluki Prof. Rodlwan sebagai Doctor Humoris Causa karena koleksi humornya yang berlimpah. “Di manapun Mas Ridlwan ini ada, pasti ada humor terbaru. Makanya beliau ini awet muda dan tampaknya nggak pernah susah,” kata dai yang baru saja pulang dari berdakwah di Amerika ini.


Pewarta : M. Rahmatullah

Editor : Munawara, MS

Publisher : Rara Zarary

SebelumnyaKeislaman dan Keindonesiaan Menurut Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari
BerikutnyaBelajar dari Prof. Ridlwan Melalui Biografinya