Oleh: Almara Sukma*

Setiap orang pasti menginginkan bisa dekat dengan Allah, terlebih lagi dianggap Allah sebagai kekasih-Nya. Mimpi setiap orang tersebut bisa terwujud apabila ia mau berusaha melakukan hal yang dicintai Allah. Adapun hal-hal yang dicintai Allah di antaranya sebagaimana disebutkan dalam hadis Qudsi:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ ، حَدَّثَنِي شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ ، عَنْ عَطَاءٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ اللَّهَ قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّه

Pendekatan diri hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah dengan sesuatu yang Aku wajibkan padanya. Dan jika hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri dengan nafilah (ibadah tambahan), sehingga Aku mencintainya.”[1]

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam kitab Fathul Bari syarah Shahih Bukhori dijelaskan bahwa ibadah yang paling dicintai Allah adalah melaksanakan hal-hal yang sudah diwajibkan Allah. Hal yang diwajibkan terbagi menjadi dua, yakni:

Pertama, diwajibkan secara lahir. Seperti: shalat lima waktu, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan lain sebagainya yang berhubungan dengan ibadah, meninggalkan zina, tidak membunuh, dan lain sebagainya.

Kedua, diwajibkan secara batin. Seperti, bertakwa kepada Allah, takut kepada Allah, mencintai Allah, dan lain sebagainya.

Apabila seseorang ingin dicintai Allah maka lengkapilah ibadah fardu dengan ibadah sunnah, seperti puasa sunnah Senin-Kamis, puasa sunnah Daud, shalat dhuha, shalat tahajud, dan lain sebagainya. Ibadah fardhu merupakan pokok dari semuanya sedangkan ibadah sunnah adalah cabang dari ibadah fardu. Ibadah sunnah tidak bisa menggantikan ibadah fardu.

Dalam kitab Nasoihul ‘Ibad dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim dijadikan Allah sebagai kekasih sebab tiga hal, yakni: Nabi Ibrahim lebih mendahulukan perintah Allah daripada perintah selain Allah, Nabi Ibrahim tidak pernah perihatin (bersedih hati) dengan urusan-urusan yang sudah ditanggung oleh Allah seperti rizki, dan Nabi Ibrahim tidak pernah makan pagi maupun sore kecuali bersama dengan orang lain.

Kita bisa meneladani sifat nabi Ibrahin di atas agar kita juga bisa dicintai Allah. Semoga kita selalu diberikan kesehatan sehingga bisa melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah.


[1] HR Bukhori no. 6502


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaSering Dianggap Remeh, Ini Bahaya Ghibah
BerikutnyaPerang di Ilalang