Kunjungi Tebuireng, Ning Alissa Tekankan Santri Harus Siap Jadi Pemimpin Indonesia

46
Alissa Qotrunnada Wahid saat berkunjung ke Pesantren Tebuireng Jombang (foto: ra)

Tebuireng.online— Alissa Qotrunnada Wahid atau yang akrab disapa Ning Alissa saat kunjungan ke Tebuireng menegaskan, bahwa menjadi santri di Pesantren Tebuireng merupakan sebuah keistimewaan yang tidak hanya berkaitan dengan pencarian ilmu agama, tetapi juga pembentukan karakter dan kepemimpinan.

Hal tersebut disampaikan dalam wawancara langsung bersama Tim Tebuireng Online saat kunjungannya ke Tebuireng dalam rangka ziarah bersama rombongan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, pada Jumat (3/4/2026).

Dalam keterangannya, Ning Alissa menekankan bahwa santri harus mampu memanfaatkan lingkungan pesantren sebagai ruang belajar yang menyeluruh.

Baca Juga: Arifah Fauzi Apresiasi Manajemen dan Disiplin Santri Tebuireng Saat Kunjungan Kerja

“Menjadi santri Tebuireng itu keistimewaan. Banyak sejarah yang bisa dipelajari di sini, jadi bukan hanya sekadar mencari ilmu agama saja tafaqquh fiddin, tapi harus belajar semua dimensi di Tebuireng. Artinya, bisa belajar tentang poro yai dan nyai-nya, sejarahnya seperti apa, keteladanannya seperti apa, belajar dari proses yang dialami menjadi santri bersama santri yang lain, bersama pengasuh, sehingga tidak hanya dapat pengetahuan, tapi juga nilai-nilai keteladanan,” ujarnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ia juga menegaskan pentingnya menjadikan pesantren sebagai tempat membentuk kontribusi nyata bagi masyarakat.

Ning Alissa Wahid bersama Menteri PPPA ditemani Dzurriyah dan rombongan menziarahi makam Masyaikh Tebuireng (foto: ra)

“Yang paling penting belajar jadi khoirunnas anfauhum linnas yang sesungguhnya. Karena lulusan Tebuireng sudah banyak yang menjadi pemimpin terbaik Indonesia. Jadi menjadi santri di Tebuireng itu artinya mendapatkan kesempatan untuk belajar menjadi pemimpin, dan pemimpin Indonesia. Itu yang harus dimanfaatkan, jangan hanya menghafal atau mengetahui, tapi harus mengambil inspirasi,” imbuhnya.

Menanggapi fenomena santri yang enggan kembali ke pondok setelah liburan, Ning Alissa memberikan pandangan reflektif bahwa kesenangan sejatinya bergantung pada cara seseorang memaknai proses belajar.

Baca Juga: Ketua Bidang BPP HIPMI Kunjungi Tebuireng, Dorong Sinergi Kewirausahaan Berbasis Nilai

“Memang kehidupan yang namanya liburan itu pasti menyenangkan. Tetapi kita nggak balik ke pondok pun liburan tetap berhenti. Yang sekolah di luar pondok juga tetap harus masuk sekolah. Jadi sebetulnya dimanapun tergantung kitanya. Kita bisa bersenang-senang sambil belajar itu di pondok, di luar pondok pun bisa saja justru menderita,” jelasnya.

Ia turut mengutip pesan dari sang ayah, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, tentang pentingnya perilaku dalam menentukan hasil pendidikan.

“Almarhum Gus Dur pernah mengatakan, sekolahnya baik kelakuannya buruk ya hasilnya buruk. Begitupun sebaliknya, sekolahnya buruk kelakuannya baik hasilnya bakal baik. Nah kita masuk di Tebuireng itu sudah mendapatkan sekolah yang baik, berarti menjadi buruk atau tidak kan tergantung kita,” tuturnya.

Di akhir wawancara, Ning Alissa berpesan agar para santri tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar di pesantren.

“Menyenangkan atau tidak kehidupan di pondok ya tergantung kita. Kita mendapatkan ilmu dan pengalaman yang banyak juga tergantung kita. Jadi jangan malas-malasan ke pondok, karena di pondok pun kita bisa bersenang-senang sambil tetap mengasah diri,” pungkasnya.



Pewarta: Albii

Editor: Rara Zarary