Untuk mencari ilmu yang manfaat dan barokah, sering kali disalahartikan oleh pelajar yang kurang keilmuannya dalam masalah agama. Ketika mereka melihat seorang santri yang disuruh Kyainya melakukan hal-hal yang diluar nalar mereka. Seperti kalau santri zaman dulu disuruh ke sawah, disuruh menggembala kambing kyainya.

     Ilmu yang bermanfaat tidak akan pernah diperoleh jika tidak memuliakan ilmu dan ahlinya. Dalam Ta`lim Al Muta`alim disebutkan “mereka yang mencari pengetahuan hendaklah selalu ingat bahwa mereka tidak akan pernah mendapatkan pengetahuan atau pengetahuannya tidak akan berguna, kecuali kalau ia menaruh hormat kepada pengetahuan tersebut dan juga menaruh hormat kepada guru yang mengajarkannya”. Hormat kepada guru bukan hanya sekedar patuh.

     Sebagaimana dikatakan oleh Sayyidina Ali, “saya ini hamba dari orang yang mengajar saya, walaupun itu hanya satu kata saja”. Banyak hal-hal yang terjadi dipesantren jika orang melihat seperti itu tidak mungkin. Salah satunya ialah barokah dari para Kyai dan Dzuriyahnya (sanak family). Ini sering terjadi pada orang-orang dahulu, dimana mereka yang tinggal dipesantren untuk menambah wawasan mengenai ilmu pengetahuan tidak hanya sekedar ingin pintar, akan tetapi ada tujuan yang lebih penting dari itu, yakni bagaimana ilmu yang sudah diperolehnya dengan perjuangan dan susah payah dapat berguna atau bermanfaat untuk masyarakat.

     Dan kesuksesan tergantung pada dirinya sendiri, terkadang ada santri berfikiran bahwa cukup dengan mendapat barokah tanpa adanya usaha belajar. Lha wong barokah itu datangnya dari usaha belajar kita, bagaimana bisa barokah itu datang sendiri tanpa belajar.


fatikhOleh, Fatihudin, Mahasiswa Mahad Aly Tebuireng

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
SebelumnyaMencetak Generasi Berakhlak Qurani
BerikutnyaPendidikan Islam Multikultural Menurut KH. Abdurrahman Wahid