Korelasi Doa Ibrahim dan Ismail yang “Halim”

1004

Oleh: KH. A. Musta’in Syafi’ie

إِنَّ الْحَمْدَلِلهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّابَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْ اللهَ، اِتَّقُوْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، أَعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ، فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلاَمٍ حَلِيْمٍ  ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ

Pernah terjadi pada zaman Hadratu Rasul Nabiyullah Muhammad Saw. Hari id bertepatan pada hari Jumat. Setelah acara id selesai memang nabi mempersilahkan orang-orang yang menginginkan tidak perlu kembali lagi ke masjid, dalam artian, menjalankan salat Jumat. Menjadi berbagai tanggapan di kalangan fuqoha’. Pertama, itu bersifat umum, tidak memandang apakah tetangga masjid atau orang yang jauh dari masjid. Sehingga boleh, tadi pagi sudah salat Id kemudian cuma salat zuhur saja.

Tidak sama dengan Imamuna as-Syafi’i memandang bahwa statement Hadratu Rasul itu hanya diperuntukkan bagi ahlul bawad, orang-orang yang jauh untuk ke masjid dari pelosok-pelosok. Sedangkan orang-orang yang ada di sekitar masjid, tetap kembali salat Jumat. Terserah mau pilih yang mana, di kitab-kitab fikih biasa disebut dengan judul tawaqu’ul ‘idaini ada dua hari raya terjadi di satu hari.

Kita bisa memetik pelajaran-pelajaran yang ada pada Iduladha. Setiap kali Idul Adha, aktornya sama saja. Nabiyullah Ibrahim, Nabiyullah Ismail, dan ibunda Hajar. Kurban memang tradisi kuno yang sangat beresiko besar. Nabiyullah Ibrahim yang diperkirakan hidup pada 1400 tahun SM, jauh sebelumnya memang tradisi kurban nyawa manusia itu ada. Seperti di Mesir, yang dikurbankan adalah gadis yang paling cantik. Sedangkan di Iraq, yang dikurbankan adalah orang saleh. Di Skandinavia, yang dikurbankan dipilih seorang bayi.

Bahasa kurban, idz qorroba qurbana. Kurban, qoruba yaqrubu. Al Quran tidak menggunakan bentuk fi’il mudhori’yaqrubu  tapi menggunakan bentuk yaqrobu. Tidak sama dengan qurbah, itu bermakna dekat. Kalau qurban yang mengikuti ziyadah alif dan nun, itu bermakna mubalaghoh yang berarti dekat sungguhan. Qira’ah, bacaan. Quran, bacaan sungguhan. Dan lain-lain.

Bahwa begitulah cara mereka untuk berdekat-dekat dengan Allah, menggunakan media-media materi. Menurut persepsi masing-masing. Skandinavia kenapa memilih bayi, karena dianggap bersih. Belum ada dosa. Berarti akses ke Allah itu lebih mudah. Allah Maha Suci dan bayi adalah perantara yang digunakan orang-orang Skandinavia.

Iraq menggunakan (kurban) orang saleh. Karena orang salehlah, yang betul-betul mendekat. Sudah dewasa dengan religious experience, pengalaman keagamaan yang tinggi. Spiritluage ritual. Bagaimana dia bisa suluk, bagaimana ‘irfan, bagaimana menangkap emanasi Tuhan, pancaran nur Tuhan. Maka orang saleh inilah yang harus dijadikan media. Mereka dipilih dan sedia untuk dikurbankan.

Tidak sama dengan budaya Mesir yang memang dipenuhi budaya indah. Belum ada wanita-wanita di dunia ini yang bisa bersolek, Mesir sudah pandai menata rambut. Bahkan, kisah-kisah  seksual  yang disebut dalam al Quran, itu terjadi di Mesir.  Penggodaan Zulaikha kepada Nabi Yusuf.

Untuk itu, persepsi masyarakat Mesir untuk mendekati Tuhan itu diambil indahnya. Tuhan itu Maha Indah. Maka media yang paling cocok untuk men-download keindahan Tuhan adalah mempersembahkan yang terindah, itulah gadis cantik atau miss universe di Mesir.

Tibalah era Ibrahim di kabilah Jurhum. Allah mengoreksi seluruh persepsi masyarakat, yang mau mendekat kepada-Nya. Mau mendekat kepada Allah menggunakan kurban anak manusia, oleh Allah dipandang terlalu mahal. Terlalu besar resikonya. Dan Tuhan sendiri immateri, tidak mau menerima yang materi.

Oleh sebab itu al Quran menunjuk, Allah tidak menerima dagingnya tidak juga menerima darahnya. Tetapi yang dipandang dan diterima Allah adalah walakin yanaluhu at-taqwa minkum. Bagaimana kehebatan bertakwa yang bisa dijadikan untuk mengunduh rahmat Tuhan.

Untuk itu, media yang diambil disini adalah media (padang pasir) yang sangat gersang. Bisa dibayangkan, seorang ibu yang baru melahirkan anak. Tiba-tiba, ditinggal tanpa bekal apapun. Kenapa Tuhan setega itu. Kenapa Ibrahim setega itu. Itu pasti melanggar HAM, mana ada anak  yang mau disembelih. Tetapi dahulu tidak ada HAM, yang ada itu tauhid, Allah.

Juga, dahulu tidak ada  kekerasan terhadap wanita. Koreksi terhadap wanita-wanita sekarang yang cinta dunia. Belanja sedikit, telat sedikit, langsung menggerutu. Hendaklah mencontoh ibunda Hajar. Punya anak kecil, ditinggal begitu saja dan ditanya, “mas, apakah ini kehendakmu sendiri atau perintah Allah?”. Dan Ibrahim menjawab dengan isyarat, “Allah”. Langsung Hajar mengatakan idzan lan yudhoyyi’ana, kalau begitu, tidak mungkin ditelantarkan. Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya jika Allah benar-benar diperankan.

Sangat mustahil. Tetapi tidak mustahil bagi Allah. Media tidak cukup memenuhi syarat. Jangankan rumah, air saja tidak ada  (di padang pasir). Tapi kan ada Allah.

Andaikan peristiwa ini terjadi di Jawa, itu tidak mengherankan. Karena banyak tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, dan mesti mendapat makanan. Tetapi dipilih media yang gersang, ghoiri dzi zar’i. Bisa dibayangkan, bergeraklah kaki Ismail menendang-nendang ke dataran pasir kemudian muncrat air. Begitu meluap, Hajar mendekati lalu mengatakan zam zam, stop stop (berhenti). Kata stop stop itu menjadi kontrol otomatis bagi sumur zam-zam yang kedalam dari permukaan tanah hanya 10,6 kaki. Sekitar 3-4 meter sudah menyumber seperti itu. Dan pada saat-saat yang kritis dipompa per detik itu menghasilkan 8000 liter per detik.

  Ruh Indonesia Adalah Santri

Meskipun dikuras dengan lima kali kecepatan, andaikan itu berkurang banyak. Tapi cukup 11 menit sudah pulih kembali. Karena ada kontrol otomatis dari Hajar, dengan password, zam-zam. Dan jika dibiarkan dipompa terus, sangat mungkin seantero Arab bahkan dunia ini bisa tenggelam.

Tidak masuk akal? Iya. Bagaimanapun tidak masuk akal. Hajar tidak tahu, apa yang terjadi, service yang diberi Tuhan, setelah Tuhan diperankan. Burung-burung yang mempunyai penciuman jauh, begitu ada air yang meluap mereka menghampiri dan terbang di atas sumber itu. Berputar-putar, semakin banyak dan semakin banyak.

Burung-burung yang berputar tersebut, bisa dilihat oleh kafilah-kafilah yang melintas dari kejauhan. “Oh, disana ada burung berputar-putar, pasti disana ada sumber air dibawahnya.” Maka para kafilah dan para pedagang padang pasir itu berangkat dan menuju ke tempat itu.

Disitulah Allah mentakdirkan, bagaimana cara memberikan makanan karena tawakkal (pasrah total). Ada yang datang membawa apel, jeruk, dan yang lain, semua ditukarkan dengan air. Semua yang dibutuhkan oleh Hajar dan Ismail itu dipenuhi oleh Allah. Cukup duduk manis. Karena ketawakkalan.

Ismail besar umur 13 tahun. Ibrahim datang. Tapi ingat pada saat itu, anak yang lama didoakan oleh bapaknya agar Allah segera memberi keturunan, diberikanlah ghulamin halim. Anak yang betul-betul pangerten (mengerti). Meskipun di surah lain dengan redaksi bi ghulamin ‘alim, tetapi pada konteks ini menggunakan ghulamin halim.

Peristiwa Ibrahim dan Ismail ini sebagai koreksi. Sekaligus peringatan kepada kita, apakah betul-betul kita dalam mendidik anak. Itu apa tujuannya. Mencetak anak yang pintar murni, atau anak yang berprilaku benar. Ini persoalannya.

Rabbi habliy min ash-sholihin, kemudian diberitahu dengan informasi, iya Kami beri bi ghulamin halim. Seperti apa kriteria anak yang benar. Hasil pendidikan yang benar itu seperti apa. Yaitu kira-kira seperti Ismail. Karena perintah Allah, “nak, aku tadi malam bermimpi menyembelihmu, fandhur ma dza tara, pikirkanlah apa pandanganmu”. Ismail umur 13 tahun sanggup berkata totalitas tanpa ada catatan. “Ya abati, if’al ma tu’mar, monggo”.

Sungguh minta maaf. Kita sama-sama mempunyai anak. Sama-sama hidup di alam modern. Perhatikan anak kita, kalau dipanggil orang tua itu segera memenuhi panggilan atau tidak. Menurut hasil seminar nasional dulu di Bali tentang fulldays. Salah satu direkomendasikan untuk anak fulldays yang terlalu capek di sekolah. Satu, cenderung uring-uringan. Tiba dirumah sudah capek. Melakukan apa sedikit sudah tidak mau, minta dilayani.

Memang disekolahan diguyur pengetahuan banyak, tapi mohon maaf terkadang menyiapkan pakaian sendiri saja tidak mau. Memakai sepatu sendiri tidak mau. Melepas baju sendiri ogah-ogahan. Apakah seperti itu hasil pendidikan kita kedepan.

Tidak ada, khutbah itu ditujukan kepada siapa dan siapa. Kewajiban khatib adalah menyampaikan. Apa yang dimaksud dengan ghulamin halim. Silahkan orang tua ingin memodernkan diri. Dengan memberikan anak mainan-mainan yang sesungguhnya merusak. Ada game, iPad, tablet, dan sebagainya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang suka bermain begitu itu, cenderung tidak memperdulikan lingkungan. Perhatikan anak-anak kita, waktu makan apakah mereka mau mencuci piringnya sendiri. Apakah ditaruh begitu saja, dan orang tua disuruh untuk mencuci. Apakah begitu, hasi pendidikan kita?Saya tidak membicarakan soal kepintaran, karena al Quran disini tidak bicara pintar tetapi halim.

Untuk itu, mereka-mereka yang main game seperti itu, cenderung ingin menang sendiri. Suka emosi. Bagaimana tidak emosi, bermain game yang sering kalah karena diciptakan (oleh game developer) dengan setengah kalah. Begitu gagal dalam game, seketika membanting barang-barang. Itu menunjukkan, bahwa dia betul-betul sudah mulai agak rusak.

Tidak sama, dengan permainan-permainan orang pedesaan. Permainan petak umpet, gobak sodor, “silahkan kalian bersembunyi”, setelah itu, “dor, kamu kena, kamu kena”. Mereka tahu bagaimana cara bersembunyi, dan mereka punya konsekuensi ketika gagal (kena) dan menjadi yang jaga. Belajar menerima konsekuensi kekalahan. Belajar dari lingkungannya sendiri. Belajar bermain taktik, tapi menerima resiko dari taktik yang diperankan.

Jangan coba-coba, anak desa bermain petak umpet begitu kena tidak mau jaga. Akan dihukum oleh lingkungannya sendiri meskipun sanksi-sanksi itu tidak tertulis.  “Jangan mau bermain dengan anak itu, dia kalah tidak mau jaga.” Akan disanksi menurut lingkungannya sendiri. Bukankah yang begini ini justru lebih mendidik.

Imamuna as-Syafi’i rahimahullah, ketika awal kali mau nyantri kepada imamuna Malik bin Anas, ditanya dahulu. Namamu siapa, Muhammad. Apa komentar Imam Malik, nur fi qolbika. Aku melihat cahaya dihatimu. Wa la tu’fi’hu bi al-ma’ashi. Jangan padamkan cahaya itu dengan maksiat. Untuk itu di pesantren, al-aadab qobla ‘ulum, mendidik anak itu dengan tata krama dahulu sebelum pintar.

Pertanyaan, sekolah siapa yang berani tidak menaikkan kelas terhadap anak yang tidak salat. Yang suka berkata kotor dan berakhlak tidak baik. Apakah ada sekolahan yang menggunakan kriteria itu. Terkadang, ada yang jelas-jelas menyalahi aturan pondok, dikeluarkan dari pondok tapi masih diikutkan ujian negara.

Itu artinya yang dibidik dari lembaga itu hanya nilai saja. Apa artinya sebuah angka. Tapi kalau dirinya sendiri tidak bisa dibentuk seperti ghulamin halim. Inilah PR kita sebagai pendidik. Didik dulu anak kita sebaik mungkin dengan adab, al aadab qobla ‘ulum. Semoga bermanfaat.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْم، وَنَفَعَنابه وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأٓيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، فتقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ تعالى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ البَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ، و الحمد للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ