Sumber gambar: www.google.com

Oleh: Nur Indah Naailatur Rohman*

Yunani

Peradaban Yunani (Helenisme) ditetapkan sebagai dasar dari peradaban dunia kuno. Adapun pemikir abad modern Yunani adalah Secretes, Plato, Aristoteles dan lain sebagainya. Hasil buah pikir filsuf Yunani tidak banyak berpihak pada hak-hak mendasar manusia. Hal ini dibuktikan oleh munculnya teori Plato yang mengatakan adanya Kota Berdaulat (terhormat). Dikatakan kota terhormat ini adalah ketika kota tersebut sudah memnuhi 3 komponen manusia dengan 3 strata yang berbeda:

  1. Ahli filsafat, menduduki strata pertama karena para ahli filsafat di sini memiliki kewenangan penuh di dalam menentukan hukum.
  2. Bala tentara, merupakan peringkat kedua di bawah para ahli filsafat dan mereka para bala tentara dilatih untuk membunuh tanpa kenal belas kasih sedikitpun kepada orang yang akan dibunuhnya. Mereka tidak mempunyai hak kepemilikan ataupun hak berkeluarga. Mereka menjadikan wanita sebagai milik bersama, sedangkan anak-anak yang lahir dari perempuan tersebut dianggap sebagai anak Negara.
  3. Para pekerja, tugas mereka adalah berkhidmat (mengabdi) kepada para ahli filsafat dan bala tentara, mereka tidak mempunyai hak bebas, apabila sakit para pekerja tersebut tidak diberi tempat untuk beristirahat bahkan mereka dikucilkan.

Romawi

Peradaban Romawi adalah peradaban terbesar di Eropa setelah Yunani. Bangsa Romawi terbagi menjadi 2 kelompok:

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
  1. Kelas majikan: kelas ini merupakan kelas paling atas dan pada kelas ini mereka (majikan) berhak mendapatkan seluruh haknya.
  2. Kelas budak: kelas ini merupakan kelas paling bawah setelah kelas majikan dan para budak di sini tidak memiliki hak untuk mendapatkan kedudukan dalam masyarakat secara mutlak. Dan mereka tidak memiliki hak untuk menuntut orang yang telah menyakitinya dan mereka hanyalah kaum yang tertindas pada peradaban Romawi saat itu.

India

Peradaban India sudah ada kurang lebih pada kurun keenam sebelum Masehi. Ali bin Abdullah bin Fakhrudin Al-Husni (1914-1999 M) menggambarkan bagaimana peradaban India pada waktu itu, bahwa pada peradaban India terbagi menjadi 4 kasta, dan aturan kasta ini dikenal dengan menusastra:

  1. Brahma (tukang sihir dan ahli agama): dalam undang-undang dipaparkan bahwasanya kasta Brahma merupakan barisan tuhan, mereka adalah seluruh mahkluk yang ada di muka bumi. Mereka adalah makhluk paling mulia dan berhak melakukan apa saja.
  2. Satria (ahli perang)
  3. Waisya (petani dan pedagang)
  4. Sudra (pembantu dan budak), mereka adalah kasta terendah, kedudukan mereka tidak ada bedanya dari hewan-hewan bahkan lebih cadasnya lagi, mereka sering dijadikan tebusan atas pembunuhanya anjing dan kucing.

Islam

Peradaban Islam datang mebawa corak baru pada abad ke VI. Nilai universal yang yang dibawa Islam menjunjung tinggi terhadap hak-hak kemanusiaan menjadikan peradaban Islam terasa asing di kalangan Arab Jahiliyah. Nilai kemanusiaan inilah yang menjadikan peradaban Islam berbeda dengan peradaban-peradaban sebelumnya. Agama Islam berperan penting dalam mengentas perbudakan. Di dalam banyak kesempatan, Rasulullah menganjurkan kepada para sahabat untuk memerdakan hamba sahaya (budak) sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist shohih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dan muslim :

مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُسْلِمَةً,أَعْتَقَ اللهُ بِكُلِّ عُضْوِ مِنْهُ عُضْوًا مِنَ النَّار,حَتّى فَرْجَهُ بِفَرْجِهِ

Artinya: “Barang siapa memerdekakan budak muslim, maka Allah akan membebaskanya dengan sebab setiap anggota tubuhnya dari neraka, sampai kemaluanya pun terbebas dari api neraka, sebab kemaluan budak yang ia bebaskan.”

Misi Islam dalam memberantas perbudakan secara bertahap sempurna dengan cara memerdekakan para budak sebagai sanksi atas beberapa kasus pelanggaran, Rasulullah SAW menjadi suri teladan di dalam tingginya semangat Islam untuk mengentas perbudakan. Rasulullah memerdekakan budak sebanyak 63 sepanjang usianya, yaitu 63 tahun umur Rasulullah. Maka secara kalkulasi angka Rasulullah memerdekakan budak setiap tahun hingga akhir hayatnya.

*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

SebelumnyaSaatnya Masyarakat Melek Digital
BerikutnyaKeutamaan Membaca Surat Al Kahfi