tebuireng.online—Setelah tahun lalu sukses mengadakan Kuliah Kerja Nyata Parsipatori Action Research (KKN PAR) 2014 di Ngimbang, Lamongan, tahun ini Ma’had Aly Hasyim Asy’ari kembali mengadakan acara tersebut di Ds. Carangwulung, Wonosalam, Jombang. Uniknya, waktu pelaksanaan berbeda dengan tahun lalu yang dilaksanakan sebelum hingga Ramadhan penuh. Sedangkan tahun ini waktu pelaksanaan dibagi mejadi dua, seminggu sebelum Lebaran dan dua minggu setelah Lebaran.

Keunikan ini tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah karena efektifitas tugas para peserta yang sebagian besar adalah para pembina santri dan pengurus pondok. “Kami mencoba objektif, tak ingin menghambat kinerja para pembina, tapi KKN ini tetap bisa jalan”, terang Mudir MAHA, Ustadz H. Nur Hannan, Lc., M.Hi.

Hal yang sama diungkapkan Ust Agus Afandi selaku Dosen Pembimbing KKN PAR MAHA. Menurut beliau secara efektifitas program, waktu yang disediakan sangat disayangkan hanya tiga minggu. Hal ini, kata beliau, relatif singkat, karena untuk program  KKN PAR berbeda dengan KKN biasa yang bersifat bakti sosial. Sedangkan KKN PAR, jelas beliau, lebih kepada analisa, penelitian, dan menemukan titik permasalahan utama beserta solusinya di tengah masyarakat.

Salah satu peserta, Abdul Wajid merasakan hal yang sama. Ia dan teman-temannya sebagai peserta KKN PAR yang berjumlah 25 orang, merasa bingung untuk membagi waktu tiga minggu tersebut guna menyelesaikan tugas. Namun karena merupakan program wajib dan kemanfaatan kegiatan yang dirasa sangat besar, mereka akan berusaha sekuat tenaga melaksanakan tugas tersebut. “Kami mah santai sekarang, nggak mikirin waktu lagi, laksanakan apa adanya, dan diambil manfaatnya”, ungkap Wajid.

Fokus objek tempat KKN PAR adalah Dsn. Ngeseng dan Dsn. Segunung, Ds. Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Tempat yang terletak di kaki gunung Anjasmoro itu merupakan daerah paling tinggi di Jombang, berbatasan dengan Kabupaten Malang dan Kabupaten Mojokerto.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Daerah yang terkenal sebagai penghasil kopi, cengkeh, dan coklat tersebut merupakan daerah dengan tingkat toleransi keagamaan yang tinggi, dimana penganut agama Islam, Kristen, dan Budha hidup saling berdampingan, tanpa ada konflik berarti.

Para peserta memulai sesi pertama KKN PAR 2015 ini pada Minggu  (05/07)  dan berakhir hingga Minggu (12/07). Selama seminggu sesi pertama ini, para peserta dituntut untuk fokus pengumpulan data dan analisis masalah yang akan menentukan titik fokus program.

Setalah itu, KKN PAR MAHA 2015 akan dilanjutkan pasca lebaran, tapatnya pada tanggal 25 Juli mendatang selama lebih dari dua minggu. Sesi Kedua ini difokuskan pada aksi konkrit mengatasi titik masalah yang menjadi fokus utama. (abror)

SebelumnyaBPRS Lantabur Tebuireng Santuni Dhuafa’ dan Anak Yatim
BerikutnyaLSPT Tebarkan Hikmah Ramadhan Bersama Dhuafa