Ilustrasi memberi

Hari Asyura adalah hari kesepuluh di bulan Muharram. Pada hari ini banyak peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di masa lampau, sehingga hari ini menjadi salah satu hari yang dimuliakan dalam Islam, dan orang yang melakukan kebajikan pada hari ini memperoleh ganjaran dari Allah Swt.

Salah satu bukti ganjaran yang diperoleh seseorang yang memuliakan hari Asyura ialah cerita yang termaktub dalam banyak literatur klasik, salah satunya ialah kitab fiqh I’anat Ath-Thalibin, karya Abu Bakr Syatho Ad-Dimyathi (1892 M)

Seorang fakir miskin melakukan puasa sunah hari Asyura bersama keluarganya. Si fakir tersebut tidak memiliki sesuatu apapun di rumahnya untuk berbuka puasa.

Hingga suatu saat, ia mencoba keluar rumah, lalu singgah di pasar. Di sana ia melihat seorang laki-laki pemilik toko tengah membentangkan tikar dan menumpukkan emas dan perak di atas tikar tersebut.

Datanglah fakir tersebut kepada laki-laki itu, sembari berkata, “Wahai tuanku, aku adalah orang fakir. Semoga engkau dapat memberikanku pinjaman satu dirham saja, untuk aku belanjakan takjil buka puasa untuk keluargaku. Karena itu, aku akan mendoakanmu hari ini.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Laki-laki tersebut memalingkan wajahnya dari orang fakir tersebut dan sama sekali tidak memberinya sesuatu apapun.

Pulanglah si fakir tersebut dengan hati yang hancur dan menangis bersedih. Di tengah perjalanan, ada seorang Yahudi melihatnya. Melihat si fakir itu sedang menangis, Yahudi tersebut datang menghampirinya dan berkata, “aku melihatmu berusan berbicara dengan tetanggaku?”

“Iya. Aku bermaksud meminjam satu dirham kepadanya untuk keluargaku berbuka puasa. Namun, ia menolak, tidak mau memberikan hartanya.”

“Kemudian, kukatakan padanya aku akan mendoakanmu hari ini.”

Yahudi tersebut bertanya, “Hari apa sekarang?”

“Hari Asyura,” jawab si fakir tersebut serta menyebutkan sebagian kemuliaannya.

Mendengar bahwa hari ini adalah hari Asyura, Yahudi tersebut lantas memberikan 10 dirham kepada si fakir. Kembalilah fakir tersebut kepada keluarganya dan berbuka dengan uang yang diberikan oleh orang Yahudi.

Ketika malam tiba, laki-laki penjaga toko tadi bermimpi seakan kiamat telah terjadi. Dan saat itu, ia ditimpa kesedihan dan kehausan yang luar biasa. Di tengah musibah tersebut, ia melihat ada sebuah istana yang terbuat dari mutiara putih, pintunya dari permata berwarna merah. Kemudian Yahudi itu mengangkat kepalanya seraya memohon kepada pemiliki istana ini agar diberikan air untuk menghilangkan rasa haus dahaganya.

Tiba-tiba terdengar seruan, “Istana ini milikmu dahulu. Namun, karena engkau menolak seorang fakir yang datang kepadamu waktu itu, namamu dihapus dari istana ini diganti dengan nama tetanggamu, orang Yahudi tersebut, yang telah membantu fakir miskin waktu itu.”

Maka, saat pagi tiba, laki-laki penjaga toko tersebut terus mengutuk dan mencela dirinya sendiri. Kemudian laki-laki tersebut mendatangi tetangganya yang Yahudi lalu berkata, “Kebenaran berada padamu,” ujarnya kepada Yahudi.

“Apa maksudmu?” tanya Yahudi.

“Engkau menukar pahala 10 dirham yang engkau berikan kepada fakir miskin waktu itu dengan harga 100 dirham kepadaku,” ucap laki-laki tersebut.

“Demi Allah, meski ditukar dengan 100.000 dinar pun (10 dinar yang telah diberikan ke orang fakir), seandainya engkau memasuki istana yang aku lihat semalam, maka aku tidak akan mungkin masuk ke dalam istana itu (orang Yahudi tersebut tidak akan mau menukar pahala 10 dirhamnya, meski ditukar 100.000 dinar, karena melihat ganjarannya yang sangat besar di akhirat nanti),” lanjut laki-laki tersebut.

Lalu, tetangganya yang Yahudi itu bertanya, “Siapa yang memberitahumu tentang hal ini?”

“Dzat yang menjadikan segala sesuatu hanya dengan ucapan ‘kun’ (jadilah), maka terjadi. Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa dan tidak ada tandingan bagi-Nya, serta aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya.”

Cerita ini dinukil oleh Syaikh Ad-Dimyathi dari kitab berjudul Ar-Raudh Al-Faiq, karangan Syaikh Syu’aib Al-Huraifisy (1407 M)


Disadur oleh Al Fahrizal, mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari