Oleh: Yuniar Indra*

Terdapat sebuah falsafah yang berbunyi:

إِنَّ الشَّهْوَةَ تُصَيِّرُ المُلُوْكَ عَبِيْدًا

Syahwat akan menjadikan seorang raja menjadi budak.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sesungguhnya syahwat itu menyebabkan seorang menjadi budak. Orang yang menyenangi sesuatu akan diperbudak olehnya. Sebab orang itu butuh terhadap sesuatu itu. Apalagi orang itu berusaha memperolehnya dengan cara apapun. Misalkan, seseorang menyenangi orang yang nakal, maka akan dipermainkan oleh dia.

Lain halnya ketika kita menjadi ‘Abdullah (hamba Allah)[1]. Ketika kita mencintai-Nya, Allah tidak akan mengecewakan dan memperbudak kita. Justru, Dia memberikan keistimewaan dan anugerah kepada hamba-Nya. Sebab Allah tidak butuh belas kasih kita. Allah hanya butuh penghambaan kita kepada-Nya. Tapi kalau kita memusuhi, maka ya siap-siap untuk dimusuhi oleh Allah juga.

Walhasil, jika kita mencintai dunia maka akan diperbudak olehnya. Namun jika kita mencintai Allah maka akan dimuliakan oleh-Nya. Permasalahannya kita ini hidup dunia. Dan tidak mungkin dapat menghindar dari cinta dunia. Solusinya, sebisa mungkin mendasari cintai kita dengan cinta kepada Allah. Tanpa melibatkan syahwat. Sebab, jika kita melibatkan syahwat maka akal tidak bisa diatur dan tidak mampu menuntun ke arah yang dikehendaki-Nya.

Untuk mengendalikan syahwat kita perlu memupuk kesabaran. Dengan sifat sabar, orang akan tahan uji, bisa menilai segala sesuatu dengan cermat. Kesabaran juga menjadikan seseorang berkedudukan seperti raja. Hingga lambat laun akan tambah naik derajatnya. Melalui sifat sabar pula seseorang akan mendapatkan apa yang diinginkan.

Ada sebuah cerita[2]. Pada dahulu kala terdapat seseorang yang ingin mencari ilmu. Namun niatan tersebut tidak pernah tersampaikan. Hingga keinginannya baru terwujud setelah menikah. Suatu hari orang itu pamit kepada istrinya.

“Saya mau mencari ilmu,” kata Fulan kepada istrinya.

“Kapan?” istrinya bertanya.

“Ya sekarang,” jawab Si Fulan.

“Pulangnya?” istrinya bertanya lagi.

“Pulangnya ya kalau sudah dapat ilmu,” jawab suaminya.

Karena kuatnya keinginan lelaki tersebut. Sang istri mengizinkannya, meskipun kepergiannya tidak terbatas waktu.

Di suatu tempat Fulan bertemu dengan seseorang yang kemudian menjadi gurunya. Lantas Fulan ditanya olehnya. Dan terjadilah percakapan antara keduanya.

Guru: “Kamu mau mencari ilmu?”

Fulan: “Iya.”

Guru: “Sudah seperti ini mau mencari ilmu?”

Fulan: “Iya.”

Guru: “Ya tidak bisa. Kecuali kamu memberi sekian uang!”

Fulan: “Loh saya harus memberi uang?”

Guru: “Iya.”

Fulan: “Ya sudah saya mau kerja.”

Lalu Fulan bekerja dengan waktu yang sangat lama, karena uang yang diminta cukup banyak. Setelah dirasa cukup ia kembali pada orang yang menjanjikan ilmu kepadanya.

“Kamu saya beri ilmu. Syaratnya kamu harus hafal dan bisa mengamalkan,” kata orang itu.

Apa yang diberikan? Isbir[3].

“Kalau sudah hafal amalkan!” pinta gurunya.

Sekian lama waktu berlalu. Fulan sanggup memenuhi tuntutan tersebut. Suatu saat menemui gurunya lagi.

In sya Allah saya sudah hafal dan sudah mengamalkan perintah Anda. Saya ingin ilmu saya ditambah,” kata Fulan.

“Oh mau tambah?” tanya gurunya.

“Iya,” jawab Fulan.

Akhirnya, sang guru memberikan satu ilmu lagi. Wasbir. Persis dengan yang pertama kali diberikan. Dengan syarat serupa.

Lagi-lagi Fulan merasa mampu mengamalkan ilmunya. Kemudian ia meminta untuk ketiga kalinya. Dan dikasih oleh sang guru. Tsumma isbir. Dengan syarat yang sama pula. Lalu gurunya memerintah Fulan agar pulang.

Ia pulang. Berjalan kaki pada malam hari. Kemudian masuk kamar dan terkejut. Karena melihat istrinya tidur dengan seorang lelaki. Akibatnya, emosi Fulan melonjak. Ia menarik pedang dari sarungnya[4]. Hendak membunuh istri dan lelaki itu. Namun niat digagalkan oleh kesabaran Fulan.

Lalu ia duduk dan mengucap, Astaghfirullah berkali-kali. Ucapan Fulan membuat istrinya terbangun.

“Kamu siapa?” tanya sang istri yang sedikit heran melihat perubahan suaminya.

“Aku suamimu!” jawab Fulan dengan lantang.

“Masya Allah, Mas,”  kata istrinya.

“Siapa yang tidur sama kamu itu?” bentak Fulan lagi.

“Itu anakmu, Mas,” jawab istrinya.

Alhamdulillah,” ujar Fulan yang lega hatinya.

“Ada apa kok alhamdulillah?” tanya istrinya.

“Hampir saja kalian meninggal. Untung saja saya sudah dikasih ilmu oleh Allah. Isbir wasbir tsumma isbir,” jawab Fulan.

Sejak itu Fulan paham bahwa maksud dari ketiga ilmu tersebut adalah terus menerusnya melatih kesabaran diri. Karena kesabaran itu tidak terbatas sampai kapan pun.


[1] Abdullah merupakan martabat kita sekarang ini. Baik kita senang ataupun tidak terhadap jabatan tersebut.

[2] Kisah ini diperoleh dari sela-sela pengajian Nasaih al-‘Ibad KH. Muthohharun Afif, Mojokerto

[3] Kalimat perintah bahasa Arab. Dalam bahasa Indonesia berarti “Sabarlah!”.

[4] Kebiasaan orang zaman dahulu ke mana pun  pergi pasti membawa pedang.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaSisi Maqashid Syariah dalam Kitab Adabul Alim wal Muta’allim
BerikutnyaForum Musma, Ajak Mahasiswa Aktif Bersuara