Kisah Pemimpin Para Ulama

30

Abu Muhammad, Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam bin Abul Qosim bin Al-Hasan bin Muhammad bin Muhadzadzab As-Sulmi  Al-Maghrobi Ad-Damasyqi Al-Mishri As-Syafi’i. Begitulah nama, nasab dan nisbat beliau.

Beliau lahir di Damaskus, Syiria pada tahun 577 H/1181 M. Wafat pada tahun 660 H/1262 M. Beliau meninggal di Qahiroh (Cairo) dan disemayamkan disana.  Banyak gelar yang disematkan kepada beliau, salah satunya yang paling akrab beliau disebut “Sulthon Al ‘Ulama” atau pemimpin para ulama. Hal itu disebabkan karena beliau adalah seorang ulama yang multi ilmu. Menurut Syaikh Mahmud Rizq Salim, gelar “Sulthon Al Ulama” yang melekat pada Imam Izzudin karena luas dan dalamnya ilmu yang ia miliki, imannya yang kuat, hujjahnya yang sulit ditandingi, Zuhudnya dan kecintaannya pada perkara yang hak.

Meskipun beliau baru mulai menuntut ilmu pada usia tua, namun beliau sangat bersemangat menghafalkan kitab dan giat belajar, dan secara berkala mengaji kepada para ulama-ulama besar pada masa beliau, semua itu beliau lakukan untuk menebus masa kecil beliau yang tak sempat mengenyam pendidikan. Ketekunan dan keuletan beliau bisa kita lihat dari sikap beliau yang tak mau memutuskan pelajaran sebelum menyelesaikan nya. Dikisahkan bahwa suatu ketika guru beliau berkata: “Engkau sudah tidak membutuhkan apa-apa dariku lagi”, namun Imam Izzudin tetap saja mengaji dan tekun kepada sang guru hingga selesai kajian kitab yang diajarkan.

Ketekunan beliau juga ditunjukkan dengan jarangnya tidur pada malam hari, beliau pernah berkata bahwa selama 30 tahun beliau tidak tidur sebelum benar-benar memahami kitab yang sedang beliau pelajari. Selain itu lingkungan dimana beliau tinggal, yaitu Damaskus pada waktu itu adalah kawasannya para ulama-ulama yang masyhur dalam berbagai ilmu. Imam  Izzuddin adalah sosok ulama yang haus akan ilmu, ia banyak berguru kepada ulama-ulama hebat pada masanya beberapa diantaranya yaitu Al-Qodhi Abdus Shomad Al-Harostani, Imam Izzudin menceritakan bahwa gurunya ini hafal kitab “Al-Wasith” karya Imam Ghozali. Tak heran jika Imam Izzuddin begitu kagum kepada gurunya tersebut, samoai mengatakan “Tak pernah aku melihat orang yang ahli fiqh seperti beliau”.

🤔  KH. M. Tholchah Mansoer, Sang Intelektual-Kiai

Selain itu keberanian dan ketegasan gurunya dalam mengambil putusan dan hukum sangat membekas dan berpengaruh pada kepribadian Imam Izzuddin, ini Nampak ketika beliau mulai memberikan fatwa, seringkali fatwa beliau berseberangan dengan apa yang dikehendaki oleh para pemimpin-pemimpin daulah Mamalik di Mesir. Imam Izzudin juga memiliki pendapat yang berseberangan dengan raja Najmuddin Ayyub hingga membuat sang raja marah besar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Imam Izzuddin juga pernah belajar dalam bidang Ushul (ilmu tauhid) kepada Syaikh Saifuddin Al-Amidi. Seorang ulama’ yang dikenal sangat pandai dalam bidang ushul dan diskusi (munadhoroh). Imam Izzuddin sangat terpengaruh dengan Syaikh Al-‘Amidi dan mengagumi gurunya itu, Imam Izzuddin mengatakan “Tak pernah aku mendengar orang yang menyampaikan pelajaran sebagus beliau” dan Imam Izzuddin juga pernah berkata “Aku tidak mengetahui kaidah-kaidah berdiskusi kecuali dari beliau”.

Banyak yang dapat kita teladani dari sikap beliau semangat menuntut ilmu yang tak pernah padam meski usia tak lagi muda. Ketekunan dan keuletan beliau bisa kita lihat dari sikap beliau yang tak mau memutuskan pelajaran sebelum menyelesaikannya.

Disusun oleh: Abla (Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang)

Sumber:

http://www.fikihkontemporer.com/2013/07/biografi-imam-izzuddin-ibnu-abdissalam.html
http://www.islamnet.web.id/2010/11/profil-sulthohul-ulama-alizz-bin.html
http://www.islamnet.web.id/2010/11/profil-sulthohul-ulama-alizz-bin.html