Pembedah, Ustadz Ahmad Roziki, pembanding, KH. A. Musta’in Syafi’ie dan moderator Syahrul Ramadhan saat Bedah Kitab Dardil ala Qishatil Mi’raj di ruang lobi kampus Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng pada Rabu (25/04/2018).

Tebuireng.online— Kisah Isra’ Nabi Muhammad SAW sudah dianggap banyak didominasi oleh fakta, tetapi Mi’raj Nabi Muhammad yang dituangkan dalam kitab ad Dardir ala Qisshoti al Mi’raj yang ditulis oleh Syaikh Najmuddin al Ghaithi dianggap masih butuh validasi. Kajian dalam kitab tersebut sama dengan ilustrasi yang butuh syarah atau penjelasan, karena sangat mungkin di dalamnya terdapat cerita israiliyat (kabar yang dinukil dari Bani Israil).

Hal itu disampaikan oleh KH. A. Musta’in Syafi’ie ketika menjadi pembanding dalam acara Bedah Kitab ad Dardir ala Qisshoti al Mi’raj yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasantri (BEM) Ma’had Aly Hasyim Asy’ari (MAHA) Tebuireng pada Rabu (25/04/2018). Dalam kesempatan itu, Kiai Ta’in mengomentari penjelasan pembedah kitab tersebut, Ustadz H. Ahmad Roziqi.

“0,05 detik berdasarkan kecepatan cahaya jarak yang di tempuh dari Nabi Muhammad SAW dari Masjid al Haram hingga Masjid al Aqsha. Sungguh di luar nalar manusia. Hanya Isra’ yang ditegaskan dalam Al Quran,  sementara Mi’raj hanya sedikit terdapat dalam surat an Najm,” ungkap Kiai Ta’in.

Menurut pakar tafsir Tebuireng itu, Jika seseorang tidak mempercayai Isra’ maka hukumnya lebih berat daripada tidak mepercayai Mi’raj. “Pembuktian yang diminta hanya Isra’ saja,  karena menurut pandangan akademik Isra’ itu lebih banyak fakta. Jadi kitab tersebut masih butuh tindak lanjut lagi,  tidak serta merta membaca lalu selesai. Karena masih butuh syarah yang lebih luas,” tambahnya.

Presma MAHA, Syarif Hidayatullah mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak atas partisipasinya dalam menyukseskan acara tersebut. “Semoga dengan adanya acara isra’ mi’raj serta bedah kitab ini dapat memperluas keilmuan yang bermanfaat sehingga kita mampu mengamalkan sesuai dengan ajaran islam,” lanjutnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ia menjelaskan, sebelum bedah buku diadakan, seluruh mahasantri telah mengkaji dan berdiskusi mengenai kitab tersebut dalam dua tahap. Tahap yang pertama dilaksanakan secara terpisah di masing-masing wisma atau pondok, sedangkan tahap yang kedua dikaji bersama di Maktabah (perpustakaan) MAHA, baik mahasantri putra maupun putri pada Senin (23/04/2018).


Pewarta:            Rofiqotul Annisa

Editor/Publisher: M. Abror Rosyidin

SebelumnyaSeorang Peziarah Makam Gus Dur Meninggal Saat Baca Doa
BerikutnyaBedah Kitab ad-Dardir ala Qishshati al-Mi’raj