Mbah Yai Habib Ahmad, Pengasuh Kitab Shohih Bukhori-Muslim Pesantren Tebuireng

Oleh: KH. Fawaid Abdullah*

Tahun 1993, saat saya menjadi siswa Madrasah Salafiyah Syafi’iyah Aliyah Tebuireng, Yai Habib Ahmad memangku Kitab Kifayatul Akhyar, kitab Fiqh standar kurikulum pesantren lazimnya. Saat itu saya sudah kelas 2 Aliyah Tebuireng. Beliau masuk setidaknya yang saya ingat, 2/3 kali dalam seminggu. Pelajaran Fiqh, dengan Kitab Kifayatul Akhyar.

Tatkala masuk kelas, beliau biasanya langsung duduk sebentar sambil membuka kitabnya, lalu membacanya perlahan-lahan.

Kadang, Mbah Yai Habib Ahmad tidak bawa kitab, tetapi langsung menuju ke salah satu santri di antaranya saya dan beberapa teman kelas 2.A1 (khusus jurusan Agama). Beliau langsung membaca kitab Kifayatul Akhyar dengan memakai kitab salah satu siswa, sambil gantian berkeliling dalam kelas itu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Begitu sabar Yai saat mulang ngaji di kelas. Saking sabarnya, siswa atau santri yang banyak tidur (tatkala mulang), dibiarkan saja. Satu pun tidak ditegur atau dibangunkan. Ini berjalan dari 1993-1994, dua tahun Mbah Yai Habib Ahmad mulang Kitab Kifayatul Akhyar, kitab Fiqih itu.

Setelah saya lulus Aliyah Tebuireng tahun 1995. Mbah Yai Habib konon tetap mulang ngaji kitab baik di sekolah maupun di Pondok Tebuireng.

Tatkala Gus Ishom Hadziq (KH. Ishomuddin Hadziq), cucu Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang sangat tersohor dikenal Alim ‘Allamah, tidak lagi mulang kitab Shohih Bukhori-Muslim di serambi masjis Tebuireng karena sudah wafat. Tidak ada yang “berani” meneruskan mulang 2 kitab Hadist masyhur tersebut.

Setelah saya tidak lagi di Tebuireng, lepas tahun 2000-an, konon yang menggantikan posisi Gus Ishom adalah beliau ini, Mbah Yai Habib Ahmad.

Termasuk setelah Gus Ishom rampung mendokumentasikan karya-karya sang Kakek, dan diteruskan Allahyarham Gus Zaki Allahummaghfirlahu menjadi kitab Irsyadul Sari (kumpulan karya Hadratussyaikh), beliau lah yang rutin ngaji pasaran setiap Ramadan tiba, mulang kitab Shohih Bukhori-Muslim.

Sebelum Gus Ishom Hadziq, kitab Shohih Bukhori-Muslim dibaca oleh Allahyarham Mbah Yai Syansuri Badawi, Santri Hadratussyaikh, berasal dari Cirebon, yang juga ‘Alim.

Saya termasuk yang pernah khatam ngaji kitab Shohih Bukhori-Muslim kepada beliau Mbah Yai Syansuri Badawi, lalu dilanjutkan oleh Gus Ishom tatkala mulang Kitab Shohih Muslim, saya juga sempat ikut ngaji langsung kepada beliau.

Mbah Yai Habib Ahmad memang sangat dikenal dan masyhur dengan kesabarannya. Suara beliau yang khas, menambah kewibawaan beliau saat mulang, walau dibumbui ada santri yang tertidur, beliau tetap asyik membaca kitab daripada membangunkan santri yang asyik tidur. Toh barokahnya tetap mengalir. InsyaAllah. Wallahu A’lam…

Saya bersaksi bahwa beliau ini ‘alim dan baik. Innahu ‘Alim wa Shalih wa min ‘Ibadikasshalihien.

Wajabat Lahu Al Jannah…

Untuk Hadratussyaikh Mbah Yai Hasyim Asy’ari dan semua para Masyayikh Tebuireng dan Dzurriyyah mari khusus-kan tawassul Faatihah…

Lahum Al Faatihah…

 

@AbahLora_Channel

Santri Tebuireng 1989-1999

SebelumnyaTerus Berinovasi, MAPABA PMII Komisariat Hasyim Asy’ari Digelar Virtual
BerikutnyaProfil Singkat KH. Habib Ahmad (Penerus Tradisi Klasik dan Pecinta Anak Yatim)