KH-Bisri-Sansuri-Tebuireng-org
Kiai Bisri bersama cucunya, Gus Dur, dalam sebuah acara di Denanyar.

 Mendirikan Pondok Saat Usia Muda

Tayu merupakan kawasan pesisir pantai utara Jawa yang terkenal memiliki budaya sosial keagamaan yang kokoh dibandingkan wilayah lainnya di pulau Jawa. Masyarakatnya hidup rukun dalam keragamaan yang ada. Alkisah, seorang anak muda berusia 15 tahun memberanikan diri mengembara menuntut ilmu keluar daerahnya. Dari Tayu ia menuju Kasingan Rembang, dan menjadi santri KH. Kholil Harun.

Kemudian dilanjut ke pondok Kiai Syua’ib Sarang Lasem, Pondok Kiai Kholil Bangkalan Madura dan Hadratus Syaikh M. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang. Di bawah asuhan Kiai Hasyim, santri asal Tayu ini menempuh pendidikan selama 6 tahun di Tebuireng.  Di pondok ini pula ia berteman dengan para santri yang di kemudian hari menjadi tokoh beropengaruh dan pemilik pesantren besar seperti Abdul Manaf (Lirboyo Kediri), As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), Achmad Baidhowi (Banyumas), Abdul Karim (Gresik), Nakhroi (Malang), Abbas (Jember), dan Ma’shum (Maskumambang Sedayu).

Dari ketekunannya dalam memperlajari agama, kepatuhannya kepada kaiai dan keterbukannya sesame santri, mengantarkannya menjadi santri yang berhasil. Bahkan di usia 31 tahun ia telah mendirikan pondok pesantren di Denanyar Jombang, salah satu sumber menyatakan sebagai pondok pesantren pertama di Indonesia yang menerima santriwati putri. Ia tidak asing adalah KH. Bisri Syansuri.

Keluarga

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

KH. Bisri Syansuri lahir di Desa Tayu, Pati, Jawa Tengah pada tanggal 18 September 1886. Ia anak ketiga dari lima bersaudara yang lahir dari pasangan Syansuri bin Abdushomad dan Mariah. Mulai belajar agama pada usia 7 tahun kepada Kiai Sholeh di desa kelahirannya, Tayu, melanjutkan belajar di Kajen, Pati berguru kepada KH. Abdul Salam. Lalu merantau mulai Rembang, Madura hingga Jombang.

Kiai Bisri muda dapat terus menjadi santri karena ia mencuci pakaian dan menanak nasi untuk kawannya, diantaranya Kiai Wahab Hasbullah muda. Segera Kiai Bisri muda menjadi orang kepercayaan Wahab muda karena jujur dan rajin. Jadi, urusannya sudah bukan lagi menyangkut pakaian dan makanan, tetapi sudah berkaitan dengan watak dan tempramen.  

Keinginan untuk memperdalam ilmu agama seperti tak pernah habis, bahkan makin menjadi-jadi. Dari Tebuireng melanjutkan pendidikannya ke Mekkah selama dua tahun. Sekembali dari Mekkah, Kiai Bisri tidak langsung pulang ke Tayu namun memilih menetap di Jombang karena menikah dengan adik KH. A. Wahab Hasbullah, Hj. Chodidjah. Dari pernikahan ini dikarunai enam anak; Achmad Athoillah, Moeasshomah, Solichah, Moesjarrofah, Moechamad Aliaschab, dan Moechamad Sochib. Dalam perjalanan hidupnya, putri Kiai Bisri, Sholihah, menikah dengan pemuda A. Wahid Hasyim putra gurunya, KH. Hasyim Asy’ari. Dari sini kemudian lahir  Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Presiden RI ke-4.

Pecinta Fiqh Sejati

Gus Dur mengatakan bahwa karakter sebagai pecinta Fiqh terbentuk ketika Kiai Bisri nyantri kepada KH. Kholil Bangkalan, dan semakin menguat setelah nyantri di Tebuireng. Kiai Bsiri memang sengaja mendalami pokok-pokok pengambilan hukum agama dalam fiqh, terutama literatur fiqh lama. Tidak mengherankan jika Kiai Bisri begitu kukuh dalam memegangi kaidah-kaidah hukum fiqh, dan begitu teguh dalam mengkontekstualisasikan fiqh kepada kenyataan-kenyataan hidup secara baik. Walaupun begitu, Kiai Bisri tidak kaku dan kolot dalam berinteraksi dengan masyarakat. Hal itu setidaknya terlihat dari upayanya dalam merintis pesantren yang dibangunnya di Denanyar.

Kiai Bisri tidak banyak berkutat dengan penggunaan akal (rasio) sebagaimana Kiai Wahab. Pernah Kiai Wahab bertanya kepada Gus Dur; “Saya dengar kakekmu itu tidak pernah makan di warung?” Gus Dur menjawab, “Memang benar demikian.”  

Kiai Wahab kembali bertanya, “Mengapa?” Gus Dur menjawab, “Kiai Bisri tidak menemukan hadits yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah makan di warung.” Kiai Abdul Wahab menga-takan; “Ya, tentu saja karena waktu itu belum ada warung.” Tetapi pergaulan mereka, tokoh tekstual di satu sisi dan tokoh satunya yang senang menggunakan rasio, ternyata sangat erat. Hal ini tampak ketika ada bahtsul masail.

Kiprah di Politik

Keterliabtan Kiai Bisri dengan politik praktis diawali ketika bergabung dengan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili Masyumi, menjadi anggota Dewan Konstituante dan puncaknya ketika dipercaya menjadi Ketua Majelis Syuro PPP ketika NU tergabung dalam PPP. Salah satu prestasi yang paling mengesankan, ketika Kiai Bisri Syansuri berhasil mendesakkan disyahkannya UU perkawinan hasil rancangannya bersama-sama ulama NU (1974). Padahal sebelumnya pemerintah sudah membuat rancangan undang-undang perkawinan ke Dewan Perwakilan Rakyat.

Di masa penjajahan Jepang, Kiai Bisri berperan aktif dalam membela negara, terbukti dengan kedudukannya sebagai Kepala Staf Markas Oelama Djawa Timur (MOTD) yang berkedudukan di Waru, Surabaya. Jasa Kiai Bisri dalam membesarkan NU juga tak patut dilupakan. Kiai Bisri turut terlibat terlibat dalam pertemuan pada 31 Januari 1926 di Surabaya saat para ulama menye-pakati berdirinya NU. Pada periode pertama, Kiai Bisri menjadi A’wan Syuriah PBNU dan kemudian pada periode-periode berikutnya Kiai Bisri pernah menjadi Rais Syuriah, Wakil Rais Am dan menjadi Rais Am hingga akhir hayatnya.

Diantara kontribusi kepada negeri, KH. Bisri Syansuri mendukung program Keluarga Berencana (KB) padahal banyak yang menentang. Saat itu, KH. Bisri Syansuri dengan merujuk pendapat Imam Al-Ghazali memperbolehkan KB dengan niat untuk kemaslahatan umat dalam berumah tangga. Kiai Bisri dalam banyak sikapnya selalu berpegang teguh pada tekstualitas fikih dan kaedahnya. Namun, menyangkut hajat orang banyak, hajat dan maslahat masyarakat banyak, dalam hal ini misalnya terkait dengan KB, Kiai Bisri seolah-olah melompat dari kebiasaan tekstualitasnya. Ya, sikap Kiai Bisri ini dapat kita maknai sebagai upaya kontekstualisasi fikih dan ajaran agama, sekaligus membuktikan sikap kenegaraannya; sikap nasionalismenya

***

Seperti halnya Kiai Hasyim dan Kiai Wahab, Kiai Bisri Syansuri menjabat sebagai Rais Am NU hingga akhir hayatnya. Beliau wafat dalam usia lanjut 94 tahun pada 25 April 1980 dan dimakamkan di Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang. Rahimahullahu ta’ala wa nafa’ana bihi, Amin.


Penulis: Atunk Oman

Publisher: M. Ali Ridho

SebelumnyaGus Sholah: Rasulullah, Inspirator Semua Ummat Beragama
BerikutnyaBazar Murah, Sambut Pencanangan Kartu Elektrik di Pesantren Tebuireng