KH. Achmad Roziqi Jelaskan Hubungan Nasionalisme dengan Pesantren Tebuireng

55
Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, KH. Achmad Roziqi memaparkan terkait nasionalisme dan Tebuireng dalam bedah buku “Menggali Api Pancasila” di Tebuireng (foto: irsyad)

Tebuireng Online– Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bekerja sama dengan Jejaring Duniasantri dan Tebuireng Media Group, menggelar Sarasehan Nasional sekaligus Launching Buku berjudul Menggali Api Pancasila. Acara ini berlangsung di Aula Lantai 3 Gedung Yusuf Hasyim, Tebuireng, pada Sabtu (23/8/2025).

KH. Achmad Roziqi, Rektor Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, hadir memberikan sambutan mewakili Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa ketika berbicara tentang Pancasila dan kemerdekaan Indonesia, nama Pesantren Tebuireng tidak dapat dilepaskan dari sejarah tersebut.

“Di Pesantren Tebuireng ada satu ungkapan legendaris dari KH. Musta’in Syafi’i, yakni ‘jika tidak ada Tebuireng, maka tidak akan ada kemerdekaan Indonesia’,” ujarnya.

Lebih lanjut, KH. Roziqi menyampaikan pentingnya sarasehan ini sebagai ruang untuk mengkaji lebih jauh keterkaitan Tebuireng dengan Pancasila dan perjuangan kemerdekaan.

Baca Juga: Hadir ke Tebuireng, Ngatawi Al-Zastrow Ungkap Sosok Inspirasinya

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Karena itu, kita perlu hadir bersama BPIP untuk menilai apakah hubungan Tebuireng dengan Pancasila dan kemerdekaan benar adanya atau sekadar ilusi. Hal ini nanti akan dijelaskan lebih dalam oleh keynote speaker kita, Prof. KH. Yudhyandi,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, KH. Roziqi juga menekankan peran besar Hadratusyyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dalam perjuangan bangsa. Ia mengutip karya jurnalis Asad Syahab berjudul Al-Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari Wa Ladi Istiklali Indonesia, yang menceritakan sumpah perjuangan Kiai Hasyim bersama sahabat-sahabatnya saat menuntut ilmu di Makkah.

“Ketika menempuh pendidikan di Hijaz, Hadratusyyaikh bersama para ulama dari berbagai negeri berikrar memperjuangkan kemerdekaan bangsanya masing-masing. Beliau bersumpah, setibanya di tanah air, akan meninggikan kalimat Allah dengan mengembangkan ilmu dan pendidikan,” jelasnya.

Menurutnya, KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa ilmu adalah jalan untuk membebaskan bangsa dari penjajahan. Dari sinilah lahir pandangan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran agama, melainkan sejalan dengan nilai-nilai luhur Islam.

Baca Juga: Gus Kikin: Mari Kita Teruskan Warisan yang Telah Ditinggalkan Pendahulu Kita

“Dengan ilmu, kita bisa memahami urgensi berdirinya sebuah bangsa. Dengan ilmu pula kita melihat bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan ideologi agama apa pun. Inilah semangat yang diajarkan Hadratusyyaikh, yang terinspirasi dari Fathul Makkah,” terangnya.

Di akhir sambutan, KH. Roziqi berpesan agar api perjuangan Hadratusyyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari tetap menyala melalui Pesantren Tebuireng.

“Hadratussyaikh memang sudah wafat, demikian pula para masyayikh. Namun Tebuireng tidak akan pernah padam. Pesan yang diwariskan jelas: nasionalisme dan religiusitas adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Seperti yang kita kenal dalam ungkapan Hubbul Wathan Minal Iman, mencintai tanah air adalah bagian dari iman,” pungkasnya.



Pewarta: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary