(ilustrasi: M. Iqbal)

Oleh: Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari*

Termasuk mengagungkan kemuliaan Nabi SAW adalah mengagungkan semua yang terkait dengan Nabi SAW dan apa saja yang dikenal karena Nabi SAW. Begitu juga mengagungkan Nabi SAW dengan memuliakan tempat-tempat yang pernah dihadiri Nabi SAW, atau yang pernah beliau singgahi, dan tempat-tempat lain seperti Makkah, Madinah, gedung-gedung peninggala beliau, dan apa saja yang pernah disentuh oleh Nabi SAW.

Diriwayatkan dari Shafiyah binti Najdah ra berkata:

“Abu Mahdzurah ra. memiliki rambut jambul di depan kepalanya, jika dia duduk dan dia lepaskan jambulnya, maka jambul itu akan menyentuh tanah, lalu dikatakan kepadanya : ”Tidakkah kamu mencukurnya?”. Dia menjawab: ”Aku tidak mau mencukurnya, karena jambul ini pernah disentuh Rasulullah SAW”.[1]

Di dalam topi Khalid bin Walid ra. terdapat beberapa helai rambut Nabi SAW, lalu topi tersebut jatuh di dalam sebagian peperangan, maka Khalid bin Walid ra. berusaha merebutnya, dan para sahabat kurang suka dengan apa yang dilakukan Khalid karena mengakibatkan banyaknya sahabat yang terbunuh. Maka Kahlid bin Walid ra. berkata: ”Saya melakukan itu bukan karena merebut topinya, tapi karena rambut Nabi SAW yang tersimpan di dalam topi tersebut, agar saya tidak kehilangan berkahnya, dan tidak sampai jatuh ke tangan orang-orang musyrik”.[2]

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ibnu Umar ra pernah terlihat meletakkan tangannya di atas tempat duduk Nabi SAW di mimbarnya, kemudian dia letakkan tangannya di wajahnya dan mengusapkannya untuk mengambil berkah tempat sentuhan Nabi SAW[3]

Ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah sakit, dia berwasiat agar rambut dan beberapa kuku Nabi SAW yang dia miliki dikubur bersamanya. Dia berkata: “Jika saya telah mati, maka letakkanlah rambut dan beberapa kuku Nabi SAW ini di kafanku”. Maka mereka melakukan wasiat itu.[4]

Diriwayatkan, bahwa Imam Ahmad bin Hambal ra. memiliki rambut Rasulullah SAW, lalu beliau ikatkan rambut tersebut di lengan baju beliau untuk mengambil berkahnya.[5]

Diriwayatkan dari Anas ra. : ”Nabi SAW jika hendak melakukan shalat subuh, datanglah para pelayan Madinah dengan membawa tempat-tempat yang di dalamnya terdapat air. Maka tidaklah air itu didatangkan kepada beliau, melainkan beliau memasukkan tangan beliau ke dalam air tersebut. Terkadang para pelayan itu datang pada Nabi SAW di waktu pagi yang dingin, lalu Nabi SAW memasukkan tangannya di dalam tempat air tersebut”.[6]

Diriwayatkan juga dari Anas ra. berkata :

“Saya benar-benar telah melihat Rasulullah SAW di saat tukang potong rambut memotong rambut beliau, dan para sahabatpun mengelilingi beliau, karena mereka ingin jangan sampai ada sehelai rambut yang jatuh melainkan jatuh di tangan seorang lelaki”.( Hadis riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad )

Diriwayatkan juga dari sahabat Anas ra. berkata :

“Nabi SAW pernah masuk rumah Ummu Sulaim, lalu tidur di atas tempat tidurnya sedangkan Ummu Sulaim tidak berada di rumahnya”. Kata sahabat Anas ra: “Maka pada suatu hari, Nabi SAW tidur di atas tempat tidurnya, lalu Ummu Salim dipanggil, lalu dikatakan padanya: ”Ini adalah Nabi SAW telah tidur di rumahmu di atas tempat tidurmu”. Kata sahabat Anas ra: ”Maka datanglah Ummu Sulaim melihat Nabi SAW telah berkeringat sampai mengalir ke sepotong kulit yang ada di atas tempat tidur. Ummu Sulaim membuka beberapa wadah, kemudian menyeka keringat Nabi SAW,lalu memerasnya ke dalam botol-botolnya. Nabipun kaget, lalu bersabda: ”Apakah yang sedang kamu lakukan, wahai Ummu Sulaim?”. Dia menjawab: ”Wahai Rasulullah, kami berharap mendapatkan berkahnya untuk anak-anak kami”. Sabda Nabi SAW: ”Kamu benar”. ( Hadis riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad )

Diiriwayatkan bahwa, Syaiikh Abdullah bin Al Hakim Al Jauhari ra., ketika datang ke Madinah untuk berziarah, ketika telah mendekati rumah-rumah Madinah, diapun turun dari kendaraannya, lalu berjalan dengan menangis seraya menyanyikan lagu:

وَلَمَّا رَأَيْنَا رَسْـَم مَنْ لَمْ يَـدَعْ لَنَا  *  فُؤَادًا لِعِرْفَانِ الرُّسُوْمِ وَلاَ لُبـًّـا

نَزَلْنَا عَنِ اْلأَكْوَارِ نَمْشِيْ كَرَامَةً  *  لِمَنْ بَـانَ عَنْـهُ أَنْ نَلُـمَّ بِهِ رُكْبًا

Dan ketika kami telah melihat tanda orang yang tidak pernah hilang dalam hati dan ingatan, karena populernya tanda-tanda itu”,

“Maka kamipun turun dari kendaraan  rombongan untuk menghormati kemuliaan orang yang akan kami kunjungi”.

Diriwayatkan dari sebagian orang shalih, bahwa di saat mereka melihat  Madinatur  Rasul  SAW  mereka  mulai  berpantun  dengan  mengatakan :

رُفِـعَ اْلحِجَـاب لَنَـا فَـلاَحَ لِنَاظِـرٍ  *  قَـمَرٌ تَقَـطَّـعَ دُوْنَــهُ اْلأَوْهَــــامُ

وَ إِذًا اْلمَطِـيُّ بِنَـا بَلَّغْـنَ مُحَمَّـدًا  *  فَظُهُوْرُهُنَّ عَلَى الرِّحَالِ حَرَامُ

قَرَّبْنَنَا مِنْ خَيْرِ مَنْ وَطِئَ الثَّرَى *  فَـلَـهَا عَلَيْنَــا حُـرْمَـةٌ وَ ذِمَــامُ

“Hijabpun telah tersingkap di hadapan kami, dan tampaklah bulan bagi yang memandangnya, sehingga sirnalah semua khayalan”.

“Dan onta-ontapun tiba-tiba telah menyampaikan kami kepada Muhammad, sehingga punggung onta-onta itu haram bagi para pengendaranya”.

“Onta-onta itu telah mendekatkan kami kepada sebaik-baik orang yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini, sehingga bumi ini harus mendapatkan jaminan penghormatan”.

Diriwayatkan dari sebagian masyayikh, bahwa mereka berhaji dengan jalan kaki, lalu ditanyakan kepada mereka tentang hal itu. Mereka menjawab: ”Seorang hamba yang telah melarikan diri tidak akan berani kembali ke rumah tuannya dengan naik kendaraan, seandainya saya bisa berjalan di atas kepalaku, saya tidak akan berjalan di atas kakiku”.

Qadhi ‘Iyadl, rahimahullah ta’ala, berkata :

“Dan tempat-tempat yang telah dimakmurkan dengan wahyu dan ayat-ayat yang diturunkan, tempat mondar-mandirnya Jibril dan Mikail, tempat naik turunnya para Malaikat dan ar Ruh, tempat gemuruhnya suara tasbih yang mensucikan Allah, tempat tanah suci yang meliputi jasad Sayyidil Basyar SAW, tempat sumber tersebarnya agama Allah dan sunnah Rasul-Nya, tempat madrasah-madrasah yang mengajarkan ayat-ayat, tempat masjid-masjid untuk shalat, tempat terhimpunnya segala keutamaan dan kebaikan, tempat munculnya bukti-bukti dan mu’jizat-mu’jiat, tempat ibadah-ibadah agama, tempat tanda-tanda kebesaran umat Islam, tempat peristirahatan Sayyidil Mursalin SAW, dan tempat hijrahnya khatamin Nabiyyin SAW, tempat dimana kenabian memancar sumbernya, dan gelombang airnya melimpah, tempat turunnya risalah, dan bumi yang pertama kali tanahnya menyentuh kulit al Musthafa SAW, adalah layak untuk diagungkan halaman-halamannya, dihirup keharumannya, dicium rumah-rumahnya dan alam sekitarnya, serta dinding-dindingnya :

يَا دَارَ خَيْرِ اْلمُسْـلِمِيْنَ وَمَنْ بِـهِ  *  هُـدِيَ اْلأَنَـامُ وَخُـصَّ بِاْلآيـَـاتِ

عِـنْـدِيْ لِأَجْلِـكَ لَوْعَـةٌ وَصَبَابَـةٌ  *  وَتَشَــوُّقٌ مُتَوَقِّــدُ اْلجَـمْــــرَاتِ

وَعَلَيَّ عَهْدٌ أَنْ مَلَأَتْ مَحَاجِـرِيْ  *  مِنْ تِلْكُمُ اْلجُدْرَانِ وَاْلعَرْصَـاتِ

لَأَعْـفِـرَنَّ مَصُـوْنَ شَـيْبَتِيْ بَيْنَهَا  *  مِنْ كَـثْرَةِ التَّقْبِيْـلِ وَالرَّشْــفَاتِ

لَوْلاَ اْلعَـوَادِيْ وَاْلأَعَـادِيْ زُرْتُهَا  *  أَبَدًا وَلَوْ سَـحْبًا عَلَى اْلوُجْـنَاتِ

لكِنْ سَـأُهْدِيْ مِنْ حَفِـيْـلِ تَحِيَّتِيْ  *  لِقَطِـيْنِ تِلْـكَ الـدَّارِ وَاْلحُجُـرَاتِ

أَزْكَى مِنَ اْلمِسْـكِ اْلمُفَتَّقِ نَفْحَـةٌ  *  تَغْـشَــاهُ بِاْلآصَـالِ وَ اْلبُكْــرَاتِ

وَتَخُصُّــــهُ بِـزَوَاكِى الصَّلَـــوَاتِ  *  وَ نَوَامِـى التَّسْـــلِيْمِ وَاْلبَـرَكَاتِ

“Wahai rumah sebaik-baik orang Islam, tempat orang yang menjadi petunjuknya para makhluk, yang diistimewakan dengan ayat-ayat”.

“Karenamu, hati ini penuh cinta dan rindu, rindu yang membara laksana bara api”.

“Saya telah berjanji, jika saya telah memandang rumah-rumah dan pelatarannya”,

“Saya pasti akan menabur-naburkan debu yang ada di antara rumah-rumah itu ke atas ubanku yang terpelihara, sebagai tanda banyaknya ciumanku dan seluruh tubuhku”.

“Kalau bukan karena kesibukan dan para musuh yang menghalangiku, saya akan selalu mengunjungi tempat ini, meskipun harus diseret di atas pipiku”.

“Akan ku persembahkan penghormatanku yang agung kepada para penghuni kamar-kamar di rumah itu”.

“Dengan penghormatan yang lebih harum dari pada minyak misik yang menebarkan harumnya di tengah-tengah penghuni itu di waktu pagi dan sore”.

“Dan penghormatan khusus dengan shalawat yang paling suci, salam dan berkah yang tiada henti”.


*Diterjemahkan oleh Ustadz Zainur Ridlo, M.Pd.I. dari kitab Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari 


[1] Al Mustadrak Ala Ash Shahihain, Ma’a Ta’liqaat Adz Dzahabi Fi At Talkhish, Imam Al Hakim, jilid 5m halaman 249. Al Mu’jam Al Kabir, Imam Thabrani, jilid 6, halaman 311. Ma’rifat Ash Shahabah, Imam Abu Nua’im Al Ashbihani, jilid 10, halaman 90.

[2] Umdatu Al Qari Syarah Shahih Al Bukhari, jilid 15, halaman 276. Mausu’ah Ad Difa’ ‘An Rasulillah s.a.w, jilid 6, halaman 194.

[3] Asy Syifa Bi Ta’rifi Huquqi Al Mushthafa, jilid 2, halaman 57.

[4]  Umdatu Al Qari Syarah Shahih Al Bukhari, jilid 1, halaman 302. Thabaqaat Al Kubra, Imam Ibnu Sa’ad, jilid 5, halaman 406.

[5]  Fatawa Al Azhar, jilid 10, halaman 344.

[6] Hadis riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad

SebelumnyaPeringati Hari Kemerdekaan RI, MASS Tebuireng Gelar Perlombaan Asyik
BerikutnyaRisalah Nasihat Imam al-Ghazali untuk Santrinya (Bagian-3)