Santri Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari memberikan testimoni dan menceritakan tentang masa-masa nyantri di Pesantren Tebuireng, pada malam puncak harlah 120 tahun Pesantren Tebuireng. (Foto: Kopi Ireng)

Tebuireng.online– Ribuan santri dan masyarakat memenuhi komplek maqbarah masyayikh hingga halaman Pesantren Tebuireng, Ahad (25/8/19). Ramainya suasana dalam rangka malam puncak acara harlah 120 tahun Pesantren Tebuireng. Pada acara tersebut hadir sejumlah santri KH. Hasyim Asy’ari yang ditujukan untuk memberikan testimoni santri Kiai Hasyim serta menceritakan kehidupan selama nyantri di Pesantren Tebuireng.

KH. Affandi, salah seorang santri Hadratussyaikh menceritakan kebiasaan Kiai Hasyim saat masih di sekolah dulu. “Mbah Hasyim saat sekolah pasti berangkat lebih dulu dan mendahului teman-temannya. Kemudian beliau menata bangku, dan membersihkan kelas,” kenang KH. Affandi.

Selain itu KH. Affandi yang benar-benar tapak sepuh itu juga bercerita tentang kebiasaan-kebiasaan Kiai Hasyim yang suka membaca istighfar dan salawat usai salat fardhu.

“Orang yang mau membaca salawat dan istighfar insyaAllah selamat asalkan ikhlas lillahi ta’ala,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, KH. Affandi memberikan pesan dan petuah yang diambil dari peristiwa datangnya Belanda, “jika ada musuh, berlari, jika diam maka akan ditangkap dan dianiaya,” pesannya dengan suara yang masih sangat jelas.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Maksud dari pesan KH. Affandi yaitu jika seseorang dihadapkan dengan sesuatu yang tidak cocok maka sebaiknya dijauhi. Artinya, seseorang jangan sampai membahayakan dirinya sendiri dan agamanya.

Tidak hanya LH. Affandi, santri KH. Hasyim Asy’ari yang lain, yaitu KH. Abu Bakar yang berasal dari Bandung, Jombang juga hadir pada malam puncak harlah. Beliau menceritakan tentang gangguan Jepang pada masa itu. “Saat ada kerusuhan, kiai mengumpulkan santri dalam masjid untuk membaca Yasin yang diikuti langsung oleh kiai,” cerita KH. Abu Bakar tentang cara Hadratussyaikh menanggapi kerusuhan waktu itu.

Hadir pula, KH. Ruhan Sanusi, yang mendapatkan kesempatan terakhir dalam sesi tanya jawab bersama para santri. KH. Ruhan Sanusi menuturkan tentang betapa ketatnya Kiai Hasyim dalam memberlakukan peraturan salat jamaah bagi santri. “Mbah Hasyim selalu menjaga santri untuk terus berjamaah, Mbah Hasyim tidak hanya mengajari santri ilmu lahiriyah namun juga ilmu batiniyah,” tuturnya saat ditanyai tentang kondisi salat jamaah santri di masa Kiai Hasyim.

Demikian para santri Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari memberikan kesaksian sejarah tentang Kiai Hasyim, yang diingat dan masih merasa dekat dengan sosok beliau meski sudah menua.

Pewarta: Luluatul Mabruroh

Publisher: RZ

SebelumnyaGus Kikin, Harapan dan Tantangan Tebuireng Kedepan
BerikutnyaPiala Pengasuh 2019 Pesantren Tebuireng Resmi Dibuka