Kemandirian Adalah Marwah Santri, Gus Shodiq Ajak Kader Tebuireng Miliki Usaha Sendiri

27
Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, Dr. KH Noor Shodiq Askandar, SE., MM. (Gus Shodiq), membekali calon pembina Pesantren Tebuireng dengan visi kewirausahaan (entrepreneurship) di Balai Diklat Trensains, Jombok, Ngoro, Minggu (08/03/2026). Foto: Fatih

Tebuireng.online- Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, Dr. KH Noor Shodiq Askandar, SE., MM. (Gus Shodiq), membekali calon pembina Pesantren Tebuireng dengan visi kewirausahaan (entrepreneurship). Dalam Diklat Calon Kader Pembina di Balai Diklat Trensains, Jombok, Ngoro, Minggu (08/03/2026), beliau menekankan pentingnya kemandirian ekonomi bagi kaum sarungan.

Gus Shodiq menjelaskan bahwa jiwa wirausaha sejatinya telah melekat dalam tradisi pesantren melalui nilai kemandirian dan kerja keras. Menurutnya, menjadi pengusaha adalah jalan bagi santri untuk memperluas kemanfaatan bagi umat.

Dalam paparannya, Gus Shodiq mengingatkan para peserta agar tidak membatasi diri pada profesi tertentu setelah lulus atau saat mengabdi. Beliau memberikan teladan nyata dari Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai pedagang jujur dan amanah sebelum maupun sesudah diangkat menjadi rasul.

“Jangan menjadi santri yang hanya bergantung pada gaji sebagai guru, tetapi harus memiliki usaha sendiri untuk kemajuan ekonominya. Rasulullah SAW telah memberikan teladan; beliau pernah menjadi penggembala dan juga seorang pedagang,” tegas Gus Shodiq.

Beliau menambahkan bahwa wirausaha bukan sekadar mencari keuntungan pribadi, melainkan instrumen untuk membuka lapangan pekerjaan dan mempermudah masyarakat dalam menjalankan ibadah melalui penyediaan kebutuhan hidup.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Lebih lanjut, Gus Shodiq memaparkan bahwa inti dari entrepreneurship adalah menumbuhkan kepercayaan (trust) dan kemauan bekerja keras. Jika nilai-nilai ini dimaknai sebagai bentuk kebermanfaatan, maka setiap santri seharusnya memiliki jiwa kewirausahaan.

“Dunia santri sesungguhnya sudah dibiasakan dengan kemandirian. Nilai-nilai tersebut tinggal diimplementasikan dalam kehidupan nyata agar menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya.

Sesi materi berlangsung dinamis dengan diskusi mengenai strategi membangun usaha di lingkungan pesantren. Menutup pemaparannya, Gus Shodiq berpesan agar para calon pembina menjaga marwah Pesantren Tebuireng dengan menjadi pribadi yang solutif bagi problematika ekonomi masyarakat.

“Ciri khas Tebuireng adalah mencetak kader yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi nusa dan bangsa. Semangat inilah yang harus dijadikan spirit dalam mengabdi kepada umat,” pungkasnya.

Baca Juga: Kunci Manajemen Pesantren ala Kiai Junaidi: Pahami Lapangan dan Perkuat Keikhlasan


Pewarta: Fatih Maulana

Editor: Sutan