Sumber gambar: https://www.islamkafah.com

Oleh: Yayan Mustofa*

Ketika nonton film Hollywood, Lion, yang rilis 2016, seketika itu pula teringat peristiwa pengeluargaan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW terhadap Muhajirin dan Anshar. Nicole Kidman yang mengangkat Dev Patel dan Keshav Jadhav sebagai anak bukan dilatarbelakangi mandul. Ada komitmen antara Nicole dengan David Wenham untuk tidak mempunyai anak, dan mengangkat anak-anak yayasan panti untuk diasuh.

Begitu pula dalam sejarah hijrah. Bahkan salah satu sahabat Anshar, Sa’ad bin Ar-Rabi’ yang diperkeluargakan dengan Abdurrahman bin Auf dari Muhajirin pernah menawarkan istri untuk dipersunting. Satu keluarga Anshar menanggung satu Muhajirin dan menjadi keluarga baru mereka.

Ikatan kekeluargaan ini tidak lantas memutuskan jalur nasab asalnya. Nicole tetap memberikan kelonggaran kepada Dev untuk mencari keluarganya dan menjalin lagi setelah sekian lama terputus karena rentetan nasib.

Konsep kekeluargaan dalam film itu katanya diangkat dari kisah nyata. Begitu juga kisah Anshar dan Muhajirin dari kisah nyata. Konsep tersebut tidak berhenti menjadi sejarah semata yang kemudian rapi di rak-rak perpustakaan. Pasalnya, ada gerakan Tasawuf-Tarekat Syadzili Rifai Qadiri yang menerapkannya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Gerakan itu bertumpu pada dua kaki. Planet Mercy sebagai penggalang dana dan gerakan sosial, serta Madina Institute sebagai pendidikan keagamaan (ushuluddin). Siapa saja yang berminat belajar agama di Madina Institute dalam kondisi lemah secara finansial, mereka akan menopang. Satu pelajar ditanggung satu keluarga dari pengikut tarekat. Mereka merasa senang dengan tambahan keluarga baru yang sedang belajar, “walau kana bihim khososoh”, meskipun harus bersusah payah.

Dengan konsep tersebut, tarekat itu bisa menerobos beberapa negara, antara lain South Africa (SA), United State of America (USA), United Kingdom (UK), Malaysia, dan masih berusaha memperluas ajarannya, cinta kasih seperti yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW, ke negara lain.

Sedikit berandai-andai. Kalau misalkan santri-NU (khususnya alumni) masih sam’an wa tha’atan kepada kiai dan satu komando. Lantas sang kiai berkeinginan mengentaskan anak-anak yang susah sekolah untuk ditampung dan ditanggung seperti konsep keluarga di atas, pasti akan membantu pendidikan generasi muda penerusnya. Tinggal dikalikan santri-NU yang sudah mapan berapa dan menanggung berapa anak.

Paling tidak, tamanni ini berlanjut sampai pada empat puluh lima tarekat di Indonesia yang muktabarah. Katakan pengikutnya adalah orang-orang yang fanatik terhadap sang mursyid, dan beliau memberikan aba-aba perkembangan keilmuan dan ikatan kekeluargaan. Hasilnya paling tidak, tidak mengecewakan.

Konon, ikatan mursyid dan murid adalah ikatan janji setia, bai’ah. Seperti halnya hubungan santri dengan kiai. Ada yang hanya sekedar mengenal kiainya saja, ada yang lebih dekat karena mengabdi di ndalem kasepuhan, dan ada yang lebih intim karena membantu perjuangan sang kiai sehingga sering diajak diskusi atau sekedar berbincang. Setidaknya masuk bai’ah itu seperti abdi ndalem yang sudah siap bersusah payah demi melayani sang kiai agar menjadi wasilah meraih keberkahan hidup di dunia dan akhiratnya sekaligus sebagai ungkapan terima kasih yang tak akan bisa mereka balas. “Ana abdu man ‘allamani walau harfan”, ungkap Sayyidina Ali as.


*Penulis adalah Tim Pustaka Tebuireng

SebelumnyaRapat Kerja Ormawa FAI Unhasy
BerikutnyaTersenyum di Penghujung Hayat