Foto : Kopi ireng

Oleh: KH. Abdul Hakim Mahfudz

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena dengan anugerah maupun inayah-Nya kita diberi kelonggaran waktu, sehingga kita bisa melaksanakan shalat Jum’at di tempat ini. Dengan rasa syukur itu marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, yakni melakukan apa yang diperintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. Hal ini sejalan dengan apa yang kita cita-citakan, yaitu menggapai derajat kemuliaan di hadapan Allah.

Namun untuk mencapai tingkatan ini dibutuhkan kesungguhan dalam pelaksanaannya, agar kita mampu melakukan dengan benar. Yaitu dengan meningkatkan pemahaman kita terhadap hukum-hukum dan aturan agama. Oleh karena itu kita membutuhkan ilmu untuk menjadi tangga menuju ketakwaan.

Allah Swt. berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)

Yang dimaksud furqan dalam ayat tersebut adalah ilmu atau pengetahuan yang bisa digunakan untuk membedakan antara sesuatu haq dan bathil.

Jamaah Jum’at yang Berbahagia.

Kita menyaksikan bahwa ilmu pengetahuan adalah kemuliaan, cahaya, dan keutamaan, sedangkan kebodohan adalah keburukan, bencana, dan kehinaan. Ilmu yang bermanfaat adalah sumber utama dan merupakan sumber air yang paling segar dan berkumpulnya hal-hal kebaikan. Dengan ilmu yang bermanfaat kita bisa membangun kejayaan dan peradaban, sedangkan dengan kebodohan pilar-pilar bangunan akan lapuk, bangunan akan roboh dan umat manusia akan runtuh.

Oleh karena kedudukan ilmu yang tinggi dalam agama Islam yang mendorong kita untuk menguasainya, menganjurkan untuk mempelajarinya, dan menyerukan untuk menempuh jalannya. Islam juga mengajarkan bahwa mencari ilmu yang bermanfaat adalah gerbang menuju gerbang menuju surga.

Rasulallah bersabda:

   مَنْ سَلَكَ طَرِيْقَا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا ؛ سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَي الْجَنَّةِ

Barang siapa menempuh jalan mencari ilmu, maka dimudahkan jalannya menuju surga”.

Hadirin yang Berbahagia

Selanjutnya, perintah membaca adalah yang seruan pertama yang digunakan di dalam Islam. Hal itu dilakukan dalam rangka mengingatkan pentingnya ilmu pengetahuan, meningkatkan nilainya, memantapkan pondasi bengunan mental dalam umat, membangun peradaban umat, membuka rahasia kemajuan dan perkembangan eksistensinya, yakni pengetahuan tentang kitabullah dan sunnah Rasulullah.

Kitabullah, sunnah rasul, juga mengandung segala macam ilmu pengetahuan yang berguna bagi umat manusia dalam melanjutkan perjalannya. Sehingga manusia, khusunya umat Islam bisa membuat peradabannya sejalan dimana mereka hidup. Seraya tetap memegang teguh aqidah dan ajaran-ajaran Islam. Dalam kitabullah banyak sekali ayat yang mengangkat topik penting ini, di antaranya:

.إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ .. الاية

Sering didapati juga dalam sunnah Nabi Muhammad baik sunnah qouliyyah maupun amaliyah informasi adanya kedudukan tertinggi dalam masalah ini.

Lalu, generasi salafus shalih telah mencatat hal-hal cemerlang, serta membuat model paling menakjubkan dalam hal cinta kepada ilmu pengetahuan. Sebab mereka telah melintasi gunung pasir yang luas dalam rangka mencari ilmu. Sehingga mereka tercatat mewarisi peradaban ilmiah yang beragam. Ditambah perpustakaan Islam yang berisi berbagai disiplin ilmu pada masa itu memempati kedudukan tertinggi. Hal itu tidak lain karena pertolongan Allah SWT. Kemudian berkat niat ikhlas yang tidak dinodai oleh katamakan duniawi.

Jamaah Jum’at yang Berbahagia  

Kita telah memahami posisi ilmu begitu penting dalam kehidupan kita, terutama ilmu syariat Islam. Perlu diketahui bahwa syariat tidak hanya mengajarkan tentang akidah. Tapi juga mengajarkan akhlak dan adab. Rasulullah pernah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna adalah orang yang paling baik akhlaknya”. Ibnu Umar juga pernah berkata, “Kami lebih membutuhkan adab meskipun sedikit, daripada ilmu meskipun banyak”.

Masa kini, adab bagi pencari ilmu sering diabaikan. Hubungan antara murid dan guru, maupun diantara para guru bahkan para dengan para santri seringkali tidak sejalan dengan akhlak. Sama halnya ketika kita secara tidak sadar memberi penghormatan terhadap orang lain dipengaruhi oleh kepentingan dan penampilan orang tersebut. Sedangkah menjaga adab merupakan bagian dari perintah agama.

Saatnya bagi kita untuk memperhatikan dan meninggikan adab dalam mencari ilmu yang telah dijaga dan dijalankan oleh ulama terdahulu. Sehingga ilmu dapat memberi manfaat, bukan hanya pada tatanan duniawi namun juga tatanan ukhrawi. Ada beberapa akhlaq yang harus diperhatikan oleh penuntut ilmu.  

Yang pertama, pencari ilmu harus meyucikan hati dari segala pelanggaran-pelanggaran yang dimurkai allah. Imam nawawi dalam Muqaddimah syarh al-muhaddab berkata, “seyogyanya bagi seorang penuntu ilmu menyucikan hatinya dari kotoran-kotroan sehingga ia layak meghafal dan mengamalkannya”.

Pada suatu kesempatan Imam Malik memberi nasihat kepada muridanya Imam Syafi’i, kala itu sang guru merasa takjub dengan kecerdasan muridnya, “Wahai Muhammad (Imam Syafi’i) bertakwalah kepada Allah Swt. jauhilah maksiat, sesungguhnya Allah telah meletakkan cahaya di dalam hati, maka janganlah engkau padamkan cahaya itu dengn kemaksiatan”.

Yang kedua, ikhlas karena Allah di dalam mencari ilmu. Seseorang tidak diperkenankan mencari ilmu karena ingin kemuliaan diri sendiri belaka. Hal ini memberi pengertian bahwa ketika mencari ilmu, maka harus menanggalkan semua kebanggaan. Mulai dari kebanggaan nasab, kedudukan, harta yang dimiliki. Semuanya dilepaskan demi terjun meraih ilmu, baik ilmu melalui tangan guru dan ulama’ dengan penuh keikhlasan kepada Allah.

Sejalan dengan firman Allah Swt :

 وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ

Yang ketiga, penuntut ilmu harus selalu mengambil faidah atau manfaat dimanapun ia berada. Pencari ilmu mesti jeli melihat, mengamati, dan meraih dari tiap jengkal langkah hidupnya. Abu Al-Bahtani berkata, “Duduk bersama suatu kaum yang ilmunya lebih baik daripada saya, lebih saya sukai daripada duduk dengan kaum yang derajat ilmunya lebih rendah terhadap diriku”. Mengapa?, jawabannya, “Jika aku duduk orang yang dibawahku (keilmuannya) aku tidak bisa mengambil manfaat, tapi jika aku duduk dengan orang yang diatasku (keilmuannya) aku bisa mengambil manfaat sebanyak-banyaknya”.

Yang keempat, bersikap sederhana pada makanan dan minuman. Makan dan minum adalah kebutuhan siapa saja, namun hal ini tidak lantas untuk berlebih-lebihan, khususnya untuk pencari ilmu. Dalam wasiyatul hikmah, dari Lukman al-Hakim berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, jika perut telah terisi penuh maka pikiran akan beku, pikiran akan berhenti mengalir, dan badan akan lumpuh dalam ibadah”. Imam Syafi’i bekata, “Aku tidak pernah merasa kenyang sejak enam belas tahun silam, karena kenyang akan membebani badan, mengeraskan hati, dan menghilangkan kecerdasan”.

Semoga kita dapat menyerap ilmu yang diajarkan kepada dan mampu mengamalkannya dengan akhlaq al-karimah.

وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ,
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ,
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Pentranskip: Yuniar Indra Yahya

SebelumnyaKunjungan Staff Kemenag RI ke Pesantren Tebuireng
BerikutnyaRatusan Santri Ponpes Al-Amin Tasikmalaya Kunjungi Tebuireng