tebuireng.online – “Islam Nusantara bukan aliran baru, bukan ajaran baru, bukan madzhab baru” terang Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj dalam sambutannya di pembukaan Muktamar NU ke-33 di alun-alun Jombang (01/07/15).

Islam Nusantara telah menjadi topik hangat di kalangan umat Islam. Banyak yang mendukung, tak sedikit pula yang menolak. Dalam muktamar kali ini tema membumikan Islam Nusantara diusung sebagai salah satu solusi untuk menciptakan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Terlepas dari pro-kontra perdebatan Islam Nusantara, masyarakat tetap perlu berharap pada prototipe yang mulai dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama ini. Tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang didengungkan selama ini seputar Islam Nusantara mampu memberikan efek yang nyata bagi NU dan Indonesia.

Mengutip penjelasan Kang Said, “Kita patut bersyukur bisa memperoleh anugerah hidup di Nusantara ini. Islam Nusantara sendiri terilhami dari sepak terjang Walisongo. Oleh karena itu apapun yang bisa kita lakukan untuk meneruskan dan membalas pengorbanan Walisongo haruslah dilandasi empat semangat: Ruhuddin (semangat agama), Ruhul Wathoniyah (semgangat kebangsaan), Ruhul Ta’abudiyah (semangat ke-bhinekaan) , dan Ruhul Insaniyah (semangat kemanusiaan) .

Acara yang dibuka langsung oleh Presiden Jokowi yang secara eksklusif ini dimeriahkan juga oleh pembacaan puisi oleh penyair asal Pulau Garam, KH Zawawi Imron. Dihadiri pula oleh Bu Mega, Ibu Negara, Menteri Agama RI Lukman Hakim, Menpora; Imam Nahrawi, Mendikbud;Anis Baswedan, Gubernur Jawa Timur dan wakilnya beserta jajaran, termasuk KH Salahuddin Wahid Pengasuh Pesantren Tebuireng.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

KH Salahuddin Wahid sendiri mencoba menerapkan pembelajaran dan memberi edukasi Islam Nusantara dalam kehidupan real. Terbukti dengan adanya pembangunan Museum Islam Nusantara Hasyim Asyari yang sedang dibangun di kawasan sekitar Pondok Pesantren Tebuireng. Rancangan Museum Islam Nusantara sendiri muncul sebelum prosesi rencana Muktamar ke-33 NU. Muncul sebagai keprihatinan akan banyaknya anak muda yang kurang paham sejarah islam di Indonesia dan juga memberikan edukasi kepada umat untuk mempertegas kehadiran Islam Nusantara, bukan hanya sebagai wacana tetapi fakta sejarah bagaimana Islam datang ke nusantara.

Semoga Muktamar ke-33 NU di Jombang ini berlangsung dengan lancar, baik dan benar. Terhindar dari segala macam hal yang mencoreng marwah NU. (MSP/Lutfi)