Santri Tebuireng Lalaran Alfiyah Ibnu Malik

Oleh: Nur Indah*

Dalam kajian historis peradaban Islam telah mengalami beberapa periode yaitu, periode klasik, periode pertengahan dan periode modern. Dan pada setiap periode selalu menunjukkan nilai – nilai universalisme Islam dalam berbagai aspek kehidupan yang dapat menjadi sebuah pelajaran bagi umat muslim selanjutnya, seperti di era modern ini. Yang pada pembagiannya :

  1. Periode Klasik : 650 – 1250 M
  2. Periode pertengahan : 1250 -1500 M
  3. Periode Modern : 1.500 M – sekarang

Seperti yang kita tahu, kehidupan umat muslim di era modern ini tidak bisa lepas dari stabilisator antara perkembangan ilmu dan teknologi. Oleh karena itu, seni sendiri memiliki nilai strategis dan mempunyai peranan penting di dalam menyelaraskan kehidupan di era modern. Adapun pada masa Islam klasik sangat tampak perkembangan pesat para tokoh intelektual Islam beserta keberhasilanya menciptakan karya-karya monumental yang dapat diwariskan dan tetap terjaga eksistensinya hingga sampai kepada generasi muslim masa kini. Pada peradaban seni literatur Islam klasik akan banyak kita temukan beberapa peninggalan sejarah periode Islam klasik yang tetap eksistensi hingga Islam masa kini.

Seperti halnya nadzom Alfiyah yang merupakan karya dari salah satu ulama’ Andalusia yakni Ibnu Malik. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdullah bin Malik ath-Tha’i al-Jayyani. Laqob al-Andalusy merupakan sebutan kepada Ibnu Malik yang merupakan bangsa Andalus. Beliau telah lama meninggalkan muka bumi ini akan tetapi karyanya tidak akan punah dan selalu terlantunkan oleh khalayak pelajar muslim pada umumnya. Pada masa kini hingga kelak nanti.

Ibn Malik sangat produktif dalam berkarya, beliau dianugrahi kemampuan dan bakat yang luar biasa dalam menulis. Karya-karyanya dalam bidang nahwu bahasa, ilmu ‘Arudl, qira’at dan hadits. Kemampuan menulisnya tidak hanya dalam bentuk prosa, tetapi juga dalam bentuk syair (nazham) sebagaimana didapati dalam beberapa karyanya. Karyanya yang paling dikenal adalah Al-Khulasa Alfiyah adalah buku syair (berirama) tentang tata bahasa Arab dari abad ke-13. Bersama dengan kitab Al-Ajurrumiyah, kitab Alfiyah adalah di antara kitab dasar untuk dihafalkan bagi siswa pesantren selain al-Quran. Di dalamnya terdapat pemaparan ilmu seputar kaidah nahwu dan sharaf.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pada Awal bait nadzham Alfiyah (muqoddimah) beliau menggunakan lafal dari fi’il madhi, fi’il (kata kerja) yang di dalam pelaksanaanya terkandung zaman madhi (lampau atau telah dilewati). Pembukaan dari Alfiyah tersebut yang merupakan dianggap pembukaan yang tidak lazim karena pada umumnya para pengarang kitab (mushannif) mengarang pembukaan kitab dengan lafadz dari fi’il Mudhori’ yang di dalamnya terkandung zaman hal (masa yang sedang terjadi atau sedang dilakukan atau mengandung zaman istiqbal (masa yang akan dilakukan).

Dari muqoddimah tersebut sangatlah terlihat keunikan yang ada dalam kitab Alfiyah Ibnu Malik yang berbeda dengan kitab-kitab yang lainnya. Sehingga tampak pula integritas tinggi pengarang kitab Alfiyah tersebut tak lain adalah Ibnu Malik. Pada saat beliau menyusun dan menulis kitab Alfiyah 1000 Nadzam bait yang menjadi isinya telah beliau simpan dalam memori otak beliau, sehingga Ibnu Malik hanya menyusun dan menulis ulang apa yang sudah ada di memori otak beliau.

Tapi siapa sangka ada hal aneh di dalam penyusunan Kitab Alfiyah Ibnu Malik, di mana dalam penyusunan 1000 bait nadzam itu, Ibnu Malik terhenti saat penyusunan bait ke-5 yang berbunyi:

فا ئقة ألفية ابن معطي  

Artinya “Kitab Alfiyah ini mengungguli kitab Alfiyah Ibnu Mu’ti”.

Ibnu Mu’ti adalah salah satu guru daripada Ibnu Malik yang mengarang 1000 Nadzam juga yang bernama “Alfiyah Ibnu Mu’ti”. Seusai Ibnu Malik menulis baris ke-5 seketika itu hafalan 1000 bait lainya hilang, kemudian untuk mengatasi kesedihan atas hilangnya hafalan, Ibnu Malik pergi berziaroh ke makam Ibnu Mu’ti yakni gurunya. Seusai berziaroh dari makam Ibnu Mu’ti, pada malam harinya Ibnu Malik bermimpi Ibnu Mu’ti sedang menegur dirinya karena dianggap memiliki sikap takabbur atas muqodimah yang ditulisnya”.

Kemudian Ibnu Malik terbangun dari tidurnya dan untuk menebus kesalahannya yakni dengan menyusun 2 bait nadzam sebagai permohonan ampunan dan permintaan maaf, 2 nadzam tersebut berbunyi :

وهو بسبق جائز تفضيلا # مستوجب ثنائي الجميلا

والله يقضي بهبات وافرة # لي وله في درجة الأخرة

Setelah beliau menyusun 2 nadzam tersebut, atas izin Allah SWT hafalan 1000 bait yang pernah hilang dari memori otaknya kembali lagi dan jadilah jumlah nadzam Alfiyah tersebut menjadi 1002 bait.  

Hikmah dari kisah di atas adalah setinggi apapun ilmu yang didapatkan, janganlah sampai terbesit sedikitpun sifat jelek seperti takabur ataupun niat jelek yang berakibat fatal. Oleh karena itu sebagai penerus estafet ulama’ serta penerus estafet perjuangan nadzam Alfiyah Ibnu Malik sudah sepatutnya bagi kita untuk tetap melestarikanya sebaik mungkin.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaMerawat Spirit Humanisme Gus Dur
BerikutnyaNasihat dan Kebijaksanaan Para Kekasih Allah