Seri Kiprah KH. Hasyim Asy’ari #17

Oleh: M. Abror Rosyidin*

Saat berada di Mekkah, Kiai Hasyim belajar kepada beberapa ulama dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda. Mereka semua datang dari berbagai negara dan suku bangsa.

Di sana, Kiai Hasyim juga berkumpul dan membentuk organisasi pelajar muslim yang berikrar sumpah nasionalisme religius untuk memerdekakan negara-negara masing-masing yang dijajah.

Dari situlah muncul ilham persinggungan pemikiran antara beliau dan para pelajar lain, termasuk kepada para pembaharu. Salah satu gurunya, Syaikh Khatib al Minangkabawi merupakan ulama Haramain dari tanah Minang (sekarang Sumatera Barat).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Gurunya tersebutlah yang memperkenalkan pemikiran pembaharuan, Panislamisme, dll, yang dipelopori Rashid Ridha, Muhammad Abduh, dan Jamaluddin al Afghani. Pemikiran semacam itu punya spirit ingin memperjuangkan negara Islam dari imprealisme dan kolonialisme barat.   

Di Indonesia, pemikiran ini diilhami oleh organisasi Sarekat Islam (SI) yang dibentuk oleh HOS Tjokroaminoto, tokoh pembaharu Islam Indonesia pada 1912. Organisasi ini merupakan pengembangan dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang berdiri pada 1905 oleh Hadji Samanhudi yang awalnya memang hanya bergerak di bidang ekonomi dan sosial.

SI meluaskan jangkauan ke bidang politik dan agama dengan tujuan memperjuangkan umat Islam Indonesia bebas dari imprealisme dan kolonialisme barat.  Hal itu tak luput dari sorotan Kiai Hasyim yang saat itu sudah menjadi Pengasuh Pesantren Tebuireng.

Memang saat itu, muncul berbagai organisasi sosial yang menjadi wadah beragam gerakan masyarakat di Nusantara. Masing-masing memiliki corak dan orientasi yang beraneka-macam.

Salah satu yang tumbuh saat itu adalah organisasi sosial kemasyarakatan yang bercorak Islam. Bahkan tidak segan menggunakan nama Islam sebagai nama organisasinya.

Sekalipun menggunakan nama besar “Islam”, tetapi menurut Kiai Hasyim ternyata keberadaan organisasi-organisasi semacam ini tidak selalu mencerminkan nilai-nilai Islam yang sebenarnya.

Para pemimpinnya berasal dari kalangan yang tidak memiliki pengetahuan tentang Islam yang pepak dan jangkep. Apalagi para anggotanya. 

Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari menyoroti fenomena kemunculan organisasi Islam itu. Hal ini beliau tulis dalam kitab Risalah Kaff Al-‘Awwam ‘An Al-Khaudh Fi Syirkah Al-Islam (Risalah Pencegah Orang Awam Masuk Organisasi Sarekat Islam).

Ini merupakan sebuah kitab kecil yang masih berbentuk manuskrip. Dalam bagian depan naskah yang beredar, terdapat keterangan bahwa salinan naskah ini diperoleh oleh Zaki Khoirul Umam dari Dr. Yahya Mahmudi Sa’id, di Riyadh Arab Saudi pada Muharram 2015.

Pada bagian akhir naskah itu, tertera keterangan bahwa risalah kecil itu selesai ditulis pada malam Kamis, 18 Ramadan 1331 H yang bertepatan dengan tanggal 1 Agustus 1913.

SI memang pada saat itu, lagi ciamik-ciamiknya. Bobot perjuangan dan pergerakannya dilirik umat Islam. Bahkan dapat menarik Kiai Mas Mansyur, seorang kiai dari keluaga tradisionalis, pesantren, alumnus Pesantren Tebuireng, untuk mengikutinya.

Bahkan Kiai Mas Mansyur bersama gurunya HOS Tjokroaminoto pernah datang ke Tebuireng bertemu sang gurunya, Hadratussyaikh menyanggah tuduhan Kiai Hasyim soal Sarikat Islam. Kiai Mas Mansur ingin berdiskusi dengan gurunya soal hakikat pembaruan Islam.

Ketiga tokoh ini bertemu dengan didampingi oleh Kiai Wahab dan Kiai Wahid muda.  SI menarik minat banyak orang untuk bergabung. Sejarah mencatat, pada masa kepemimpinan HOS Cokroaminoto, anggota SI mencapai 2,5 juta orang. Anggotanya berasal dari berbagai kalangan, khususnya anak-anak muda. Banyak di antaranya merupakan tokoh pergerakan nasional.

Secara pribadi, HOS Cokroaminoto merupakan guru para pemimpin nasional seperti Soekarno, Agus Salim, Semaoen, Kartosoewiryo, Mas Mansyur dan lain-lainnya.

Hal ini menunjukkan pengaruh kuat HOS Cokroaminoto dan SI-nya. SI pernah melakukan demonstrasi besar menolak sebuah majalah yang dianggap menghina Nabi Muhammad SAW.

Dengan menggunakan nama Tentara Kanjeng Nabi Muhammad, SI memobilisasi massa melakukan demonstrasi di Surabaya, Jawa Timur. Sekalipun memiliki reputasi nasional serta melahirkan tokoh-tokoh besar di zamannya, tetapi SI memerlukan waktu untuk membenahi organisasi dan kualitas kadernya.

Selama masa pembentukan itulah muncul ketegangan dengan sesama umat Islam. Hal ini mendorong KH. Hasyim Asy’ari memberi catatan tersendiri. Catatan terhadap praktik sosial keagamaan merupakan bentuk kepedulian Kiai Hasyim terhadap masyarakat Muslim agar senantiasa menjalankan ajaran agama dengan baik.

Risalah yang beliau tulis terlihat bukan untuk menjatuhkan, tapi melakukan kritik yang membangun agar dapat memperbaiki dan mewujudkan sinergitas antar kelompok Islam. Buktinya beliau selalu menggaungkan persatuan umat Islam. 

Hal-hal yang dikritisi oleh Kiai Hasyim tentang SI adalah adanya janji setia kepada setiap anggota, adanya beban biaya sebagai keanggotaan yang tidak ditemukan ‘iwadh (ganti)-nya, prilaku sebagian anggotanya yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam, doktrin tidak perlu banyak mengaji (belajar agama Islam), dan doktrin fanatisme yang tinggi sehingga siapapun yang tidak bergabung kepada SI dipertanyakan keislamannya.

Beberapa hal inilah yang membuat Kiai Hasyim merasa terganggu untuk mengkritik. Entah bagaimana bisa terjadi, tulisan itu sampai pada gurunya sewaktu di Mekkah, Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi.

Syaikh Ahmad Khatib yang berada di Mekkah meresponsnya dengan menulis buku pembelaan berjudul Tanbih al Anam fi ar-Radd ‘ala Risalah “Kafful ‘Awami ‘ani Khaudhi fi Syirkatil Islam”.

Kitab yang terbit di Mesir pada 1914 itu akhirnya beredar di Jawa dan sampai pada tangan Kiai Hasyim, salah satu murid kinasih Syaikh Khatib. Tidak akan mungkin direspon sedemikian rupa, jika bukan karena hubungan istimewa antara guru dan murid, interaksi diskusi mereka tentu sudah lama sangat kental dan intens. 

Sesudah membaca dengan cermat Tanbih al-Aman, KH Hasyim Asy’ari mengirimkan surat kepada Syaikh Ahmad Khatib. Isinya antara lain mengakui kekeliruan perspektifnya terhadap SI. Bahkan, belakangan kemudian pendiri Nahdlatul Ulama itu memberikan dukungan moril kepada organisasi pimpinan HOS Tjokroaminoto tersebut.

Inilah buah korespondensi dan interaksi pemikiran guru-murid yang sempat berseberangan pandangan tentang suatu hal.  Sayang kitab balasan dari Syaikh Ahmad Khatib sampai sekarang belum ditemukan, walau pernah diterbitkan di Mesir.

Ada kabar, bahwa kitab itu disimpan di Leiden Belanda. Lagi-lagi Belanda ya, suka banget menyembunyikan manuskrip ulama-ulama kita. Harapan jika kitab itu ditemukan, bisa menambah khazanah menarik korespondensi guru-murid dalam menyikapi sebuah fenomena umat. 

Ulama dulu, ketika berseberangan menggunakan media keilmuan seperti kitab, surat, dan risalah ilmiah, sebagai jawaban atas ketidaksepakatan terhadap pemikiran tertentu seorang ulama lain atau tokoh lain.

Kiai Hasyim sendiri pernah menulis bantahan soal hukum kentongan ketika berseberangan dengan KH Faqih Maskumambang dalam kitab al Jasus fi Bayani Hukmi an Naqus. Kiai Faqih juga menulis kitab pembelakaan atas tulisan Kiai Hasyim, yaitu kitab Hazzur Ru’us fi Radd al Jasus ‘an Tahrim Naqus. Lagi, saat KH. Abdullah Yasin Pasuruan, ayah Kiai Hamid, menulis mandhumat atau bait-bait syi’ir tentang beberapa masalah.

Kiai Hasyim mengkritik beberapa hal dalam bait syiir itu, dan menuliskannya dalam kitab Ziyadah at Ta’liqat. Keduanya terlihat hebat dalam ilmunya masing-masing, namun tidak sampai debat kusir nan kosong, berbobot dan ilmiah. 

Lagi, contoh hebatnya kemampuan manajemen perbedaan pendapat Kiai Hasyim. Saat berselisih paham dengan KH. Dahlan Ahyad. Keduanya adalah pendiri NU. Saat pelebaran Masjid Paneleh Surabaya yang terkendala adanya lahan pemakaman kuno yang berada di dekatnya mengelilingi.

Polemik semakin runyam saat penggalian tanah, ditemukan bekas-bekas tulang belulang manusia.  Maka diadakanlah bahsul masail  pada 28 Dzulhijah 1342 H. Di situlah Kiai Hasyim dan Kiai Dahlan berseberangan. Kiai Hasyim setuju dilanjutkan, sedangkan Kiai Dahlan menolak.

Keduanya mempunyai argumentasi masing-masing dan dasar yang kuat. Akhirnya, berdasarkan musyawarah tersebut, diambil suara terbanyak yang memperbolehkan meneruskan pembangunan Masjid Paneleh. 

Kiai Dahlan Ahyad yang tak sepakat, mufaraqah terhadap keputusan tersebut. Bahkan sepanjang hidupnya tak berkenan untuk sholat di Masjid Paneleh.

Cerita menarik ini direkam oleh KH. Wahab Chasbullah dalam buku Penyerap Gemuruh. Tapi perbedaan itu, tidak mengurangi keharmonisan keduanya. Bahkan Kiai Dahlan Ahyad pernah menjadi Wakil Rais Syuriah, saat Kiai Hasyim masih menjadi Rais Akbar NU. 

Itulah betapa interaksi pemikiran ulama-ulama nusantara terdahulu sangat elok nan indah diserap. Teladan yang luar biasa. Mereka semua adalah orang-orang alim.

Bahkan Kiai Hasyim saat itu sudah punya pesantren besar, pimpinan organisasi besar, dan bergelar ulama besar Hadratussyaikh. Terhadap guru masih tawadu, terhadap sesama ahli ilmu masih menghargai, terhadap santrinya pun menyayangi, seperti kepada Kiai Mas Mansur. Walau di antara mereka terjadi perbedaan pendapat terhadap problematika. 

Yang paling menarik memang perbedaan pendapat antara Kiai Hasyim dan Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi. Interkasi guru murid ini sisi menariknya adalah keberanian murid mengutarakan pendapat, dan kemauan guru menjawab si murid.

Setelah guru menjawab, murid dengan penuh tawaduk menerima. Ini siklus keilmuan yang tidak bisa kita bantah hebatnya. Sekarang ini banyak orang berdebat tapi tidak punya etika, lempar kursi sampai ancam-ancaman membunuh. Rebutan roti tidak jelas. Kalau beliau-beliau kan, tidak rebutan apa-apa, tujuannya adalah kemaslahatan umat dan perngembangan ilmu pengetahuan. 

*Anggota Tim Pusat Kajian Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

SebelumnyaOspek di Era Pandemi, Begini Kondisinya
BerikutnyaAncaman Bagi Orang yang Tidak Bersyukur