Oleh: Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari

Anas bin Malik ra. telah menceritakan bahwa, ada seorang lelaki datang kepada Nabi SAW lalu mengatakan :

مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : مَا أَعْدَدْتَ لَهَا ؟  قَالَ : مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ. قَالَ : أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

Kapankah datangnya hari kiamat, wahai Rasulullah ?”. Sabda Nabi SAW : ”Apakah yang sudah kamu siapkan untuk hari kiamat?”. Jawabnya: “Saya tidak menyiapkan apa-apa untuk hari kiamat, tidak banyak shalat, tidak banyak puasa, juga tidak banyak shadaqah, akan tetapi saya mencintai Allah dan Rasul-Nya”. Sabda Nabi SAW: “Kamu akan bersama orang yang kamu cintai”.[1]

(Lelaki di dalam  hadis ini, ada yang mengatakan dia adalah Umar bin Khaththab ra., ada yang mengatakan dia adalah Abu Musa Al Asy’ari ra., ada yang mengatakan dia adalah Abu Dzar ra., dan ada yang mengatakan lainnya).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Diriwayatkan dari Shafwan bin Qudamah ra. berkata: ”Saya telah berhijrah kepada Nabi SAW, saya datang kepada beliau, lalu saya katakan:

يَا رَسُوْلَ اللهِ إنِّيْ أُحِبُّكَ.  قَالَ : اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mencintaimu”. Sabda Nabi SAW: “Seseorang akan bersama orang yang dia cintai”. [2]

Diriwayatkan, bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi SAW lalu berkata :

يَا رَسُوْلَ اللهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَهْلِيْ وَمَالِيْ وَإِنِّيْ لَأَذْكُرُكَ فَمَا أَصْبِرُ حَتَّى أَجِيْءَ فَأَنْظُرُ إِلَيْكَ فَعَـرَفْتُ أَنَّكَ إِذَا دَخَلْتَ اْلجَنَّةَ رُفِعْـتَ مَعَ النَّبِيِّـيْنَ وَإِنْ دَخَلْتُهَا لاَ أَرَاكَ. فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى : وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا. فَقَرَأَهَا عَلَيْهِ

 “Wahai Rasulullah, sungguh engkau adalah orang yang lebih saya cintai dari pada keluarga saya dan harta saya, dan sesungguhnya saya mengingatmu, maka saya tidak sabar sehingga saya datang untuk melihatmu. Lalu saya tahu bahwa engkau, jika masuk surga kelak akan diangkat (di surga atas) bersama para Nabi, dan jika saya masuk surga, saya tidak bisa melihatmu”. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat :“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.[3] Lalu Nabi SAW membacakan ayat ini kepadanya.[4]

(Lelaki di dalam hadis ini, dikatakan dia itu adalah Tsauban ra. maula (budak yang dimerdekakan) Rasulullah SAW Ada yang mengatakan, dia itu adalah Abdullah bin Zaid Al Anshari ra. )

Diriwayatkan dalam hadisnya Anas bin Malik ra. juga, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ أَحَبَّنِيْ كَانَ مَعِيْ فِي اْلجَنَّةِ

Barangsiapa mencintai saya, maka dia akan bersama saya di surga”.[5]

Di dalam hadisnya Abdullah bin Mas’ud ra. menyebutkan: “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW lalu berkata:

يَا رَسُـولَ اللَّهِ كَيْفَ تَقُـولُ فِى رَجُـلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seorang lelaki yang mencintai suatu kaum padahal dia belum pernah bertemu mereka ?”. Maka  Rasulullah saw bersabda :“Seseorang akan bersama orang yang dia cintai”.[6]

Maksud hadis diatas adalah bahwa orang yang kurang keshalehannya tapi dia mencintai orang-orang yang lebih lebih sempurna kesalehannya, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka. Sebagaimana dikatakan oleh syair :

أُحِبُّ الصَّالِـحِيْنْ وَلَسْـتُ مِنْـهُمْ  *  لَعَـلِّيْ أَنْ أَنَـالَ بِـهِمْ شَــفَاعَةً

وَ أَكْرَهُ مَنْ بِضَاعَتُهُ اْلمَعَاصِيْ  *  وَ إِنْ كُنَّا سَوَاءً فِى اْلبِضَاعَةِ

Saya mencintai orang-orang shaleh, meskipun saya bukan termasuk golongan mereka, karena saya berharap semoga saya memperoleh syafaat lantaran mereka”.

Dan saya tidak suka orang yang suka bermaksiat, meskipun kami sama-sama suka berbuat maksiat”.

Demikian juga para shiddiqin, syuhada’, dan shalihin yang mereka itu merupakan pewaris para Nabi, shalawatullahi alaihim ajma’in, maka barangsiapa mencintai mereka, dia akan memperoleh syafaat mereka dan akan dikumpulkan bersama mereka kelak di akhirat dengan idzin Allah.


*Diterjemahkan oleh Ustadz Zainur Ridlo, M.Pd.I. dari kitab Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari 


[1] Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

[2] Hadis riwayat Imam Thabrani.

[3] An Nisa’ ayat 69.

[4] Hadis riwayat Imam Thabrani.

[5] Hadis diceritakan oleh Al Ashbihani dalam kitab “At Targhib” bersumber dari Anas ra. Lihat buku “Subulul Huda wa Ar Rasyad fi Sirati Khairil Ibad, jilid 11, halaman 430.

[6] Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

SebelumnyaKelemahan Umat Islam
BerikutnyaSaling Bersinergi, Pangdam dan Kapolda Kunjungi Pesantren Tebuireng