Oleh : Moh. Minahul Asna*

Kebahagiaan menjadi tujuan utama semua orang. Demi memeroleh kebahagiaan, banyak orang yang bekerja siang malam tak kenal lelah. Beberapa juga ada yang rela menjual diri, menipu, mencuri, dan sebagainya hanya untuk memperoleh kebahagiaan. Kebahagiaan itu relatif. Sekaya apa pun manusia, tidak menjamin ia hidup bahagia. Sebaliknya semiskin apa pun juga tidak menjamin ia hidup sengsara. Terutama dalam zaman yang semakin canggih, tuntutan hidup semakin tinggi, kemajuan dalam diri dalam intelektualitas pun tak luput dari keadaan ini.

Revolusi Industri 4.0 mengubah semua sendi dalam kehidupan. Mulai dari sektor bisnis, pendidikan bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan manusia dalam hidup di dunia pun semakin kompleks.

Manusia tercipta sebagai makhluk yang paling sempurna. Manusia memiliki jasmani yang diliputi oleh hawa nafsu dan rohani yang diliputi oleh akal. Dengan kedua hal tersebut, manusia mengalami berbagai macam kondisi yang sangat berbeda. Satu sisi dengan dominan hawa nafsu, manusia akan menjadi makhluk yang lebih hina dari binatang. Sebaliknya, dengan akal yang bisa menguasai hawa nafsu, manusia akan menjadi makhluk yang lebih mulia dari pada malaikat. Jasmani dan rohani memuat manusia memiliki dua hubungan yang saling berkaitan yaitu hablun min Allah (hubungan dengan Allah) dan hablun min an-nas (hubungan dengan Manusia).

Dengan dua hal itu, menuntut manusia untuk menyeimbangkan keduanya, senantiasa beribadah dan mengharap ridha Allah dan menjaga hubungan antar sesama. Lalu bagaimana kunci kebahagiaan yang tepat? kekayaan, kemuliaan, atau kekuasaan?

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Imam al-Ghazali menawarkan konsep yang sederhana dalam memandang kebahagiaan. Bagaimana pun zaman, kebahagiaan tetap suatu hal yang abstrak dan relatif. Dalam tingkatan itu, Imam al-Ghazali berpendapat bahwa kebahagiaan akan tercapai ketika manusia sudah bisa menundukkan nafsu kebinatangan dan setan dalam dirinya dan menggantinya dengan sifat malaikat. Sedangkan kebahagiaan tertinggi adalah ketika manusia telah terbuka hijabnya dengan Allah, ia bisa melihat Allah dengan mata hatinya, atau dalam bahasa Imam al-Ghazali telah sampai kepada tahap ma’rifatullah.

Wallahu A’lam


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari