sumber gambar: shopee.co.id

“Tujuan pendidikan bukanlah meningkatkan pengetahuan namun untuk menciptakan kemungkinan bagi seorang anak untuk menemukan dan bereksplorasi, untuk menciptakan manusia yang mampu melakukan hal-hal baru.” (Jean Piaget)

Sesorang pernah berkata pendidikan adalah jantung segala profesi. Tanpa pendidikan tidak mungkin lahir manusia-manusia maniak buku yang intelektualis, tidak akan berdiri gedung-gedung tinggi kampus tempat berdiskusi, tidak akan lahir pemuda pemuda agen perubahan penuntut keadilan. Bahkan tidak akan lahir pula kemerdekaan Indonesia. Pendidikan bukan tentang nilai dan pencapaian tapi tentang membentuk jiwa pembelajar, menemukan hal-hal baru  oleh diri sendiri.

Namun yang selalu saya herankan, betapapun telah bertahun-tahun lamanya Indonesia merdeka dengan gedung-gedung sekolah yang berdiri dimana-mana masih saja Indonesia terbelakang dalam hal pendidikan. Bisa kita lihat berapa banyak anak yang senang belajar di Indonesia. Berapa banyak pemuda yang senang membaca buku membuka wawasan yang lebih luas. Terlebih lagi dengan zaman yang mulai “mengikis” karakter pembelajar anak bangsa.

Bukan saya merasa rajin, tidak, saya membaca buku ini berangkat dari keheranan saya saja. Heran merasakan pendidikan dari SD sampai kuliah yang saya rasa sudah cukup dijejali banyak ilmu pengetahuan, diramaikan dengan kertas-kertas nilai yang akhirnya berakhir di rongsokan atau pembakaran sampah belakang rumah. Tapi dari semua itu mengapa Indonesia masih saja dikatakan tertinggal? Kita dari dulu sudah sering dilatih soal-soal dilatih ujian-ujian untuk mencapai target. Sudah berapa kurikulum yang dipakai dan diterapkan. Tapi hasilnya masih saja tingkat kualitas pendidikan di Indonesia begitu saja.

Apalagi melihat skor PISA Indonesia yang menunjukan tingkat daya kritis dan literasi anak usia remaja sangatlah menghawatirkan pada tahun 2018. Dan saya heran, yang memiliki peringkat pertama adalah negara nordick Finlandia, bukan Amerika, Korea Selatan, atau Jepang yang terkenal dengan teknologinya. Sudah tau lah ya negara-negara itu negara maju wajar jika tingkat pendidikannya no 1. Tapi ternyata yang menempati peringkat pertama bukan negara dengan kemajuan teknologi yang pesat bukan pula negara adi kuasa tapi sebuah negara berkembang juga di Eropa sana. Dari sanalah saya mulai penasaran.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Saya sedikit kaget ketika mendapati, dalam buku ini, ternyata tidak sedikit pun siswa-siswa di Finlandia diberikan pekerjaan rumah dan ujian-ujian yang menumpuk. Meskipun begitu, mereka selalu mengatakan sekolah adalah tempat paling menyenangkan.

Berbeda terbalik dengan di Indonesia. Di Finlandia siswa-siswa selalu mengeluh jika harus pulang pada jam pelajaran terakhir. Begitu takjubnya saya mendengar ada negara kecil yang berhasil menanamkan cinta belajar pada generasinya.

Ketika anak sudah cinta belajar, tidak perlu lagi target dan ujian-ujian yang melelahkan, mereka akan mencari dan menemukan sendiri. Dimana cara ini lah yang akan membuat ilmu pengetahuan diingat lebih lama dan dapat dimanfaatkan lebih baik.

Ternyata di Finlandia prinsip yang dipakai dalam belajar adalah bahagia. Bahagia untuk anak didik dan bahagia untuk guru. Menciptakan suasana sekolah yang nyaman dan sehat, terutama sehat sikologis, dan sangat memperhatikan kualitas pengajarnya.

Sebagai contoh, di Finlandia istirahat belajar selalu dilakukan setiap 45 menit sekali. Ini merupakan upaya untuk meningkatkan kinerja otak yang baik. Seperti  uraian seorang Profesor Behavioral di Mc. Gill bahwa memberi otak jeda yang teratur akan mengarahkan seseorang pada produktivitas dan kreativitas yang lebih besar.

Ketika pulang ke rumah, anak juga tidak diberikan tugas atau PR yang perlu dikerjakan. Tidak seperti di Indonesia yang memberi waktu istirahat hanya satu kali plus tugas dan PR yang menumpuk, ups canda menumpuk hehe.

Membaca buku “Teach Like Finland” ini membuat saya membayangkan jika menjadi salah satu anak remaja di sana mungkin saya juga akan sangat senang belajar. Ini membuktikan bahwa pembelajaran tidak harus dijejali materi dan latihan untuk mencapai target. Sebaliknya pengajar pun harus mampu melihat lebih banyak dari sisi psikologisnya. Menjadikan anak didik subjek belajar bukan objek belajar.

Ini buku pendidikan satu-satunya yang saya khatamkan karena bahasa penulisnya yang asik, seolah kita dibawa ke perjalanannya menjadi seorang guru di Helsinki, Finlandia. Buku ini dibuat dengan gaya novel, di mana Timothy menceritakan perjalanannya menjadi seorang guru di Amerika yang membuat dia merasa frustasi namun akhirnya ia menemukan sebuah kebahagiaan ketika menjadi guru di Finlandia.

Buku ini cocok sekali disantap oleh para guru, calon guru, orang tua, calon orang tua, para pemangku kebijakan pendidikan dan umumnya untuk segala jenis bidang keilmuan. Tentunya masih banyak kejutan kebiasaan belajar di Finlandia dalam buku ini. Selamat membaca!

Judul Buku: Teach Like Finland
Penulis: Timothy D. Walker
Penerbit: W.W. Norton & Company New York ( English) Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: cetakan 1, Juli 2017
Tebal Buku: 197 halaman
Pengulat Buku: Nurul Fadilah  (siswa “Sekolah Membaca” Majalah Tebuireng).

SebelumnyaPerempuan Punya Hak yang Sama untuk Berjuang
BerikutnyaJangan Bangga Dulu, Tiap Orang Punya Kelebihan Sendiri