Sumber gambar: https://pixabay.com/p-2473871/?no_redirect

Oleh: Silmi Adawiya

Bukanlah suatu keharusan berdiri untuk orang yang baru datang, melainkan merupakan kesempurnaan etika. Hal tersebut sering dicontohkan oleh ulama dan para pengikutnya yang terbiasa dengan berdiri untuk melakukan pernghormatan terhadap orang-orang yang mulia. Terlebih dengan Islam di Indonesia yang dikenal dengan ramahnya. Kesempurnaan etika itu bisa dimulai dengan menjabat tangannya dan menuntunnya.

Kebiasaan tersebut tidaklah keluar dari ajaran Islam, melainkan sebuah peninggalan dari jejak Nabi. Dalam hadis diceritakan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: ما رأيت احدا من الناس كان أشبه با النبي صلى الله عليه وسلم : إذا رأها اقبلت رحب بها ثم قام إليها فقبلها ثم أخد بيدها فجاء بها حتى يجلسها في مكانه وكانت إذا اتاها النبي صلى الله عليه وسلم رحبت به ثم قامت اليه فقبلته

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: aku tidak melihat seorang pun di antara manusia yang lebih menyerupai nabi dalam hal berdialog, berbicara, dan cara duduknya selain Fatimah Radhiyallahu ‘Anha ”. Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Apabila nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat Fatimah datang beliau menyambutnya serta berdiri untuknya, lalu menciumnya sambil memegang erat tangan Fatimah itu. Kemudian Nabi menuntun Fatimah sampai mendudukkannya di tempat beliau biasa duduk. Sebaliknya, apabila Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang datang kepadanya, Fatimah berdiri menyambut Nabi serta mencium Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” (HR. Bukhari, Turmidzi, dan Abu Dawud).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam kisah lain juga diriwayatkan dalam hadis yang shohih bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan para shahabat untuk berdiri memberikan penghormatan kepada Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu ‘Anhu, ketika Sa’ad mendatangi majelis Nabi dan para shahabat. Saat itu Nabi SAW menyambut Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu ‘Anhu dengan ucapan;

قوموا لسيدكم . (رواه البخري

“Berdirilah kamu semua, hormatilah sayyid kamu ini” (HR. Bukhori)

Dalam kitab Syarhun Nawawi ‘Ala Shahih Muslim dijelaskan juga bahwa dengan jelas hadis tersebut membolehkan penghormatan terhadap seorang yang memiliki keutamaan dengan berdiri, kemudian menyambutnya saat ia datang. Bahkan lebih detail lagi, Imam Nawawi berkomentar jika perihal ini hukumnya mustahab, yaitu dianjurkan untuk mengormati orang saleh, dikarenakan banyaknya hadis yang menegaskan akan perihal tersebut dan belum ada satupun larangan tegas mengenainya.

Adapun yang mungkar adalah berdiri untuk pengagungan atau berdirinya orang-orang yang sedang duduk untuk pengagungan, atau sekedar berdiri saat masuknya orang yang dimaksud, tanpa maksud menyambutnya atau menyalaminya, maka hal itu tidak layak dilakukan.

Yang lebih buruk dari itu adalah berdiri untuk menghormat, sementara yang dihormati itu duduk. Demikian ini bila dilakukan bukan dalam rangka menjaganya tapi dalam rangka mengagungkannya. Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa hal ini tidak boleh dilakukan, karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh para sahabatnya untuk duduk ketika beliau shalat sambil duduk, beliau menyuruh mereka supaya duduk dan shalat bersama beliau sambil duduk.

Setelah shalat tersebut, Rasuullah bersabda, “Hampir saja tadi kalian melakukan seperti yang pernah dilakukan oleh bangsa Persia dan Romawi, mereka (biasa) berdiri untuk para raja mereka sementara para raja itu duduk” (HR. Muslim dalam ash Shalah).


*Alumnus Unhasy dan Pesantren Putri Walisongo, kini mahasiswi Pascasarjana UIN Jakarta

SebelumnyaSaling Memaafkan Tak Perlu Menunggu Lebaran
BerikutnyaKisah Nuh bin Maryam Mencari Manantu Idaman