Hidup Lebih Indah Meneladani Nabi Muhammad

217
Sumber gambar: https://cintanabimuhammadsaw.wordpress.com

Oleh: KH. Fawaid Abdullah*

Bagian terpenting dari perjalanan hidup Baginda Nabi adalah bahwa beliau sosok yang begitu sangat paripurna dan sempurna. Sehingga bagi seseorang yang ingin bahagia dan memperoleh jalan yang selamat dunia akhirat maka harus menempuh jalan yang ditempuh oleh Baginda Nabi. Karena di dalam pribadi Nabi ada uswah hasanah “tauladan yang baik” bagi  umatnya. Akhlak Nabi adalah Al Quran, pribadi Nabi adalah Al Quran itu sendiri. Maka siapapun yang mengikuti jalan ini maka pasti seseorang itu akan mencapai kebahagiaan yang hakiki. Inilah yang membedakan  Baginda Nabi dengan manusia yang lain pada umumnya.

Allah SWT saja memuji Akhlak Baginda Nabi. Bentuk pujian Allah itu ditegaskan di dalam FirmanNya yang berbunyi: “Wa Innaka La’alaa Khuluqin ‘Adhiem” Artinya, “Dan Sungguh di dalam diri (Muhammad) terdapat Akhlak yang agung.” Allah saja memuji Baginda Nabi. Apalagi kita sebagai umatnya ini? Pujian Allah ini dinamakan masuk kategori pujian Qadim ‘alal Hudust. Allah memuji makhlukNya.

Beda dengan manusia pada umum nya yang terkadang hanya punya satu atau dua kelebihan, ada yang hanya punya kelebihan sifat pemberani, ada yang hanya punya sifat zuhud, cerdas, pintar, bijaksana, dll. Jarang sekali bahkan hampir tidak ada seseorang itu mempunyai banyak kelebihan apalagi sempurna. Tetapi Baginda Nabi SAW itu memiliki semua sifat-sifat semua itu. Sosok Baginda Nabi itu sempurna dan paripurna.

Contoh lain, kita bisa melihat dan membaca bagaimana ketika Baginda Nabi itu bergaul dan memperlakukan  anak yatim dan kaum miskin. Allah berfirman: “Fa Ammal Yatiema Fala Taqhar, wa Ammas-Saa-ila fala Tanhar, wa amma bini’mati Rabbika fa Haddist,” artinya: “Dan kepada anak yatim maka janganlah membentak (berkata-kata kasar), dan kepada orang yang meminta-minta (mengemis) maka janganlah membentak, dan adapun nikmat dari Tuhan-mu maka ceritakanlah.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Begitulah akhlak Rasulullah yang luar biasa lemah lembut khususnya kepada anak yatim, beliau sangat menjaga hak nya anak yatim. Baginda Nabi tidak pernah sedikitpun berkata-kata kasar apalagi misuh-misuh. Karena, Nabi memang lahir sudah dalam keadaan yatim, dua bulan sebelum beliau lahir sudah ditinggal wafat oleh Ayah nya. Beliau tumbuh dalam masa-masa susah dan faqir di dalam asuhan ibundanya. Ketika umur 6 tahun beliau sudah piatu ditinggal wafat ibundanya.

🤔  Ma’had Aly Nurul Jadid dan Sistem Kaffah

Pribadi inilah yang membuat Baginda Nabi ditempa dan menjadi pribadi yang kuat, tangguh dan sempurna. Memang terkadang, untuk membentuk sebuah pribadi yang kuat dan tangguh itu kadang-kadang seseorang itu harus keluar dari zona nyaman. Harus merasakan bagaimana belajar susah, belajar melarat, belajar lapar, belajar tidak punya apa-apa. Karena  dari situasi dan kondisi yang seperti inilah jiwa dan kepribadian seseorang itu ditempa menjadi pribadi yang strong, pribadi yang kuat dan tangguh tetapi tetap tawaduk.

Contoh yang lain, Rasulullah itu juga tidak pernah membentak-bentak dan tidak pernah berkata-kata kasar kepada orang yang meminta-minta atau pengemis. Baginda Nabi selalu memberi dengan tangannya sendiri. Tidak pernah mewakilkannya. Beliau begitu sangat dermawan apalagi ketika bulan Ramadan tiba. Pernah suatu saat Baginda Nabi mendapat sedekah sebanyak 90ribu dirham, uang sebanyak itu lalu beliau taruk di atas tikar lalu beliau bagi-bagikan sendiri dengan tangannya sendiri kepada mereka yang membutuhkannya. Sebegitunya akhlak beliau Baginda Nabi.

Baginda Nabi juga selalu bertahaddust bin ni’mah, menceritakan akan nikmat yang didapat. Boleh-boleh saja, kita misalnya mendapat nikmat A,B,C dst, lalu kita ceritakan sebagai bentuk syukur kepada Allah akan limpahan nikmat yang kita terima tersebut. Beda dengan kalau memberi, kalau memberi (bisa jadi) itu dianggap riya atau pamer. Tapi kalau kita menerima atau mendapat nikmat maka sebagai bentuk rasa senang dan gembira apalagi tujuannya supaya dapat dicontoh oleh yang lain maka sah-sah saja, apalagi berkaitan kepentingan dan kemaslahatan umum misalnya masjid, pondok pesantren, pendidikan dan sosial, maka bertahadduts bin nikmah itu sangat dianjurkan.

Wallahu A’lam bis Shawab


*Santri Tebuireng 1989-1999, Ketua Umum IKAPETE Jawa Timur 2006-2009, saat ini sebagai Pengasuh Pesantren Roudlotut Tholibin Kombangan Bangkalan Madura.


Irsyaad Al Mukminin, Kitab karya Allahyarham Gus Ishom Tebuireng yang Legendaris