gambar: google
note: Sabdawaktu

Hati yang Lain

Sejak awal kita sama-sama telah sepakat, bahwa kehadiran orang baru tak akan pernah mengubah apapun. Termasuk mereka yang pernah singgah bahkan menetap sebagai masa lalu. Aku tak bicara soal kenangan, aku hanya ingin kita tetap mengakui kesepakatan awal soal ikatan. Kita akan tetap menjadi sepasang merpati, sebaris puisi, secakap cangkir kopi, selukis jingga sore hari, dan kita akan menjadi bagian yang sama meski harus melalui kondisi yang berbeda. Maka beranilah berjanji padaku, untuk diri kita, untuk sebuah bait yang pernah kita ciptakan bersama.

Aku tak mau menjadi seseorang yang mengekang, mengikat, apalagi membuatmu tak bebas bernafas di dunia seluas jagat. Aku ingin tetap menjadi orang baik di hatimu, menjadi mata yang bercahaya untuk malammu, tangan yang tangguh untuk bebanmu, kaki yang kuat untuk melewati segala perjalananmu, dan aku akan tetap berusaha menjadi bagian dirimu, yang siap mengarungi samudera dengan konsekuensi apapun dan sanggup aku terima.

Aku juga tak mau menjadi pecemburu, saat akhirnya engkau mulai dekat dengan orang baru atau yang pernah hidup di masa lalu. Aku tak mau jadi egois, melarangmu tertawa bahagia bersama yang lain, atau jatuh di pundak lain saat menangis, aku juga tak mau menjadi sedih, saat aku tahu, ada orang lain yang mampu membuatmu tertawa lepas dan membuatmu menguasai hari itu seperti milik kalian berdua.

Aku tak mau menjadi diri orang lain, yang akan kau anggap penggaduh, yang akan engkau benci karena diam-diam meneteskan air mata dari perasaan yang keruh, menjadi orang yang engkau tinggalkan karena tidak menuruti kemauanmu menjalani hari-hari bersama hati yang lain.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Aku tak mau jadi apapun yang akhirnya akan kehilangan dirimu. Tapi tolong, aku mohon, jaga perasaanku. Jaga mataku, agar ia agar tak menyaksikan secara langsung kedekatanmu dengan orang lain. Jaga tanganku, agar ia tak menghalangi saat engkau memilih menggandeng tangan lain, dan jaga kakiku, agar ia tetap mampu setia meski sebenarnya telah patah berkali-kali sejak ada banyak orang hadir dalam kehidupanmu.

Jika permintaan itu membuatmu berat dan berpikir lelah mengenalku, abaikan saja, aku tak akan melanjutkan pada permintaan yang lainnya. Dan laluilah harimu seperti yang indah menurutmu, tapi ingat, di belakang segala ceritamu, aku masih berdiri tegak, menunggu engkau kembali datang dan bercerita dengan nada yang sama, terpenting tetap membuat aku masih memiliki posisi di hati orang seistimewa kamu.

“Itu hanya perasaanmu, aku biasa-biasa saja dengannya. Kamu ya tetap kamu, dia ya dia, kalian memiliki posisi berbeda di hatiku, dan aku yang tahu itu,” penjelasanmu membuat aku semakin takut dan khawatir pada sebuah pengkhianatan. Semua orang tahu, bahwa hati memiliki tingkatan dari paling dalam hingga terdangkal. Aku hanya tak mau posisi itu tertukar, atau menjadikan diriku lebih dangkal.

Kau mungkin belum paham dengan perasaan khawatir ini, sebab aku yang merasakannya, dan engkau sedang menikmati perasaan bahagianya. Merasa memiliki banyak orang di hatimu, sedang aku menjadikanmu satu-satunya orang yang menetap di hatiku.

Aku hanya bisa diam dan menunduk, saat engkau berkali-kali mencoba meyakinkan bahwa orang-orang itu hanyalah bagian lain yang tak akan membuat langit berubah warna menjadi kelabu. Engkau dengan senyummu menjelaskan, aku dengan dada bergoncang mendengarkan dengan tegang. Kita memilih berlalu di sebuah warung makan terbuat dari bambu, di jalan kecil kota itu.

Kemudian akhirnya engkau memilih berlalu tanpa pesan apapun, kita terpisah di sana, sebagai dua pasang manusia paling menyesali sebuah pertemuan. Berjanjilah baik-baik saja, bersama siapa pun engkau nanti, bagaimana pun engkau menyikapi kehidupan ini. aku masih akan terus mencintai, dengan caraku sendiri.


Oleh: Sabdawaktu.

Penulis adalah penikmat puisi dan cerita-cerita fiksi.

SebelumnyaTuntutan Memosisikan Nash dengan Bijak
BerikutnyaPustaka Tebuireng Terbitkan Buku “Mengais Keteladanan Kiai Syansuri Badawi”