KH>. Salahuddin Wahid, Menag Lukman Hakim, KH Maemoen Zubair, dan sejumlah tokoh NU saat mengikuti Silaturahmi XVI NU se-Dunia di Arkan Bakkah, Rumah Haji No 201, Mahbas Jin, Kota Mekkah pada Selasa, 7 Dzulhijjah 1438 H. atau bertepatan dengan 29 Agustus 2017. (Foto: Dokumentasi Bu Nyai Faridah)

Tebuireng.online— Memanfaatkan momen haji, PCINU Arab Saudi menggelar acara akbar Silaturahmi XVI NU se-Dunia bertajuk ‘Konsistensi NU dalam Mengawal NKRI dan Perdamaian Dunia’ di Arkan Bakkah, Rumah Haji No 201, Mahbas Jin, Kota Mekkah pada Selasa, 7 Dzulhijjah 1438 H. atau bertepatan dengan 29 Agustus 2017. Acara yang dihadiri sejumlah tokoh dan ulama NU itu, berlangsung ramai, bahkan berdesakan.

Tampak hadir dalam silaturahim ini, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Pengasuh Pesantren Tebuireng dan cucu Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Salahuddin Wahid, KH Maemoen Zubair, KH Agoes Ali Masyhuri, dan sejumlah tokoh NU lainnya.

Di hadapan ribuan warga Nahdliyin yang memadati lokasi, KH. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah menjelaskan, bahwa sejarah membuktikan, NU dan Nahdliyin ikut serta, bahkan berada dalam garis depan perjuangan kemerdekaan dan ikut mempersatukan bangsa.

Untuk itu, Gus Sholah menghimbau agar warga NU saat ini haruslah berdiri di baris terdepan dalam menjaga NKRI, sebab para pendiri dan ulama terdahulu mendirikan NU untuk memelihara keutuhan negara bangsa yang warganya beragam ini. “Keberagaman adalah sunnatullah,” terang adik Gus Dur tersebut, saat menyampaikan sambutan atas nama keluarga Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.

Sejalan dengan itu, adik ipar beliau, Menteri Lukman Hakim menegaskan kembali tentang komitmen dan kontribusi NU terhadap eksistensi NKRI. “NU sebagai jam’iyah diniyyah islamiyyah dikenal paling besar komitmennya terhadap eksistensi NKRI karena ajaran yang dianutnya selama ini,” ujar Menag pada Selasa (29/08) sebagaimana yang dilansir oleh kemenag.go.id.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Di tengah kompetisi yang semakin komplek, Menag menilai ajaran pendahulu NU sangat relevan untuk dijadikan sebagai pondasi dalam membangun peradaban bangsa dan dunia.  “Nilai yang selama ini diajarkan pendahulu kita semakin relevan. Ajaran tasammuh, tawasuth, tawazun, dan i’tidal semakin dibutuhkan,” jelasnya.

Berdasarkan hal itu, Menag mengajak seluruh Nahdliyin untuk terus aktif menebarkan Islam yang mengedepankan kearifan. Menurutnya, dalam menebarkan nilai-nilai NU, Nahdliyyin jangan ikut terseret arus tindakan yang justru bertolak belakang dengan nilai itu sendiri.


Pewarta:            M. Abror Rosyidin

Editor/Publisher: MAR

SebelumnyaFasilitasi Warga, Suara Tebuireng Gelar Training Jurnalistik
BerikutnyaHikmah Sosial Haji dalam Penguatan Persaudaraan, Persatuan, dan Kerjasama Umat Islam