
Tebuireng.online- Pesantren Tebuireng terus mematangkan kesiapan kader pembina melalui rangkaian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Calon Pembina Santri. Dalam sesi yang berlangsung di Balai Diklat Trensains Tebuireng, Jombok, Ngoro, Senin (02/03/2026), para peserta dibekali materi strategis mengenai pengabdian masyarakat (Community Service).
Hadir sebagai narasumber, Dr. H. Glory Islamic, S.Ag., M.Si., pengasuh Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMA) Denpasar, Bali. Dalam paparannya, sosok yang akrab disapa Gus Glory ini menekankan bahwa santri memiliki tanggung jawab besar sebagai agen perubahan sosial di tengah krisis keteladanan.
Gus Glory mengawali materi dengan mengulas rekam jejak Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Menurutnya, pendiri NU tersebut adalah figur ulama multifungsi yang mampu menempatkan diri sesuai kebutuhan umat; mulai dari peran sebagai pendidik, pemimpin bangsa, hingga teladan kemandirian ekonomi sebagai petani.
Ia menegaskan bahwa penguasaan kitab secara teoretis tidak akan berdampak besar tanpa adanya implementasi nyata di lapangan.
“Sebagai santri Hadratussyaikh, seyogianya jangan hanya jago mensyarahi kitab, tetapi harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai isi kandungannya dalam kehidupan nyata,” tegas Gus Glory di hadapan puluhan peserta diklat.
Lebih lanjut, Gus Glory menguraikan tiga fondasi utama pengabdian dalam Islam yang harus dimiliki calon pembina. Pertama, memegang teguh prinsip khoirunnas anfa’uhum linnas. Kedua, menumbuhkan spirit kepedulian sosial yang tinggi. Ketiga, meneladani dakwah Nabi Muhammad SAW yang tidak hanya berbasis lisan (bi al-lisan), tetapi juga melalui tindakan nyata (bi al-hal).
Guna membekali peserta dengan simulasi realitas, kegiatan ini diisi dengan Focus Group Discussion (FGD). Para calon pembina diberikan studi kasus terkait problematika sosial yang sering terjadi di masyarakat agar mereka memiliki kesiapan mental dan solusi saat menghadapi berbagai karakter di lapangan.
Diskusi yang berlangsung interaktif ini juga diselingi dengan sesi ice breaking untuk melatih kekompakan tim dan wawasan ilmu hadis. Di akhir sesi, Gus Glory menyampaikan pesan yang menggugah semangat pengabdian dan kerendahan hati para santri.
“Ketika engkau melayani masyarakat, jangan berharap engkau dilayani atau dihormati. Ingatlah, sekelas Nabi Muhammad pernah dilempari kotoran. Maka jangan sekali-kali engkau berharap penghormatan manusia, selain mengharap ridha dan kebaikan dari Allah SWT kelak di akhirat,” pungkasnya.
Kegiatan diklat ini diharapkan mampu melahirkan kader pembina Tebuireng yang memiliki jiwa pengabdian tinggi dan siap menjadi pelayan umat yang tangguh di berbagai lini kehidupan.
Pewarta: Fatih Maulana
Editor: Sutan


















