Guru yang (tak) Dirindukan

Sumber gambar: http://www.penesan.com

Oleh: Iryan Ramadani*

Pagi ini merupakan jam pelajaran seni budaya dan keterampilan atau bisa disebut SBK, pelajaran ini cukup menyenangkan bagi siswa kelas VIII-E. Mungkin tepatnya pelajaran menggambar ataupun bisa dibilang karya seni. Karena pelajaran ini memuat pembahasan semua yang mengenai seni. Bisa terhitung setiap berlangsungnya mata pelajaran ini tidak pernah ada siswa yang mengantuk ataupun lelah akan pelajaran yang diterangkan oleh Pak David sebagai guru mata pelajaran ini. Sama seperti saat ini, keadan yang cukup ramai di dalam kelas. Berbeda dengan suasana setelah itu, suasana kelas yang dipimpin oleh Bu Judith.

“Galang, sejujurnya ibu tidak punya ide sama sekali apa yang kamu lakukan setiap kali mengikuti pelajaran saya,” Bu Judith menatap dari balik kacamata tebalnya.

“Entah mengapa setiap kali saat mengikuti pelajaran saya, kamu tidak pernah sekalipun serius ataupun mengikuti pelajaran saya. Apa susahnya mengikuti pelajaran saya?” nada suara Bu Judith tampak meninggi. Aku hanya terdiam, tanpa melihat apapun. Tanpa sepatah kata, aku tidak bisa menjawab pertanyaan dari Bu Judith.

“Mengapa harus aku? Kenapa Bu Judith harus marah-marah seperti itu? Lagi pula aku tidak ada salah apapun,” gumamku dalam hati.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sekarang keadaan semakin menjadi tegang. Bu Judith mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah bangkuku. Mungkin pada situasi seperti ini, aku hanya bisa pasrah dan diam saja mendengarkan ceramah dari Bu Judith.

“Ibu tahu kamu itu anak yang pintar dan pandai. Tapi, coba sekali-kali memperhatikan dan mengikuti pelajaran ini. Walaupun hanya menyimak. Bagi Ibu, itu sudah cukup,” aku hanya bisa membalas tatapan raut muka serius Bu Judith dengan tatapan kesal. Melihat kondisi semua teman-teman kelasku melirikkan matanya ke arah diriku dengan tatapan serius.

“Kalau kamu sudah tidak mau mengikuti mata pelajaran saya lagi, kamu tinggal bilang saja. Ibu tidak mengharapkan murid pintar, tidak juga banyak murid. Hanya satu yang ibu inginkan, murid yang mau memperhatikan.  Tidak lebih dari pada itu Galang. Kamu boleh saja melakukan apapun. Tapi, setelah pelajaran saya,” Bu Judith tampak melepaskan kacamata hitamnya dengan tangan kananya.

“Saya tahu kalau kamu sedang ada masalah. Tapi setidaknya, kamu ada niat dalam mengikuti pembelajaran dalam mata pelajaran IPA saya,” Bu Judith semakin melepas kekecewaannya padaku. Aku hanya bisa menunduk dan sesekali melirik ke sekitar. Ruang hening.

*****************

Sejak itu aku jadi berpikir, mengapa harus Galang lagi? Si biang kerok itu mencari masalah lagi. Andaikan saja aku mempunyai buku Death Note. Mungkin dari kemarin-kemarin hari sudah kutulis namanya. Biar tahu rasa tuh orang. Memang sih Galang itu siswa yang pandai, pintar, dan bisa dibilang hidupnya berekonomi tinggi. Mulai dandananya, gaya rambutnya, sepatunya, merk aksesoris yang dipakai, semua sudah berkelas. Tapi menurut ku itu tidak begitu penting untuk dibahas.

Aku sedikit tidak menyukainya. Apalagi sekarang aku sebangku dengannya. Aduh, bingung rasanya bagaimana caranya untuk membuat Galang sadar. Kelas VIII-E ini dipenuhi dengan anak-anak yang berbakat dan pintar. minsalnya saja Rudi. Siapa sih yang tidak kenal dengan ketua tim basket SMP 10 November ini. Selain jadi idola, Rudi juga memiliki wajah yang nan tampan. Keahliannya dalam memasukan bola basket ke ring gawang memang selalu menjadi tontonan ramai kelas perempuan. Apalagi geng cabe-cabean Yohana.

Selain Rudi juga. Keahlian mencetak gol Bagas juga tidak diragukan lagi bagi semua siswa di sekolah ini yang belum lama menjadi trending. Aku heran dengan Galang. Mengapa ia selalu saja mencari masalah di setiap pelajaran. Mulai dari menjatuhkan saus sambal di celana Pak Haris ketika praktik pelajaran Prakarya, melempar pesawat kertas sampai mengenai wajah Bu Asbar ketika pelajaran IPS, menjatuhkan buku yang dibawa Bu Ratna ketika lewat, dan masih banyak lagi masalah yang dilakukan si biang kerok Galang ini.

Dan pada hari ini, dia membuat ulah lagi kepada Bu Judith. Degan alasan yang ringan, ia menjawb pertanyaan dari Bu Judith ketika setengah jam pelajaran IPa sudah dimulai dia tidak datang. Mungkin buang air besar bisa di maklumkan. Namun Galang hanya menjawab ‘’Anu Bu Judith, saya habis ke belakang. Saya lupa sekarang ada pelajaran Ibu’’ alasan galang pasti tidak akan diterima oleh Bu Judith. Pasti ada saja alasan yang dia buat buat. Seharusnya, bel sekolah sudah terdengar keras sampai kamar mandi. Atau kemana saja si biang kerok itu?

*****************

Huh, mengapa hari sial ini menimpaku pada hari ini. Kenapa coba, tidak pada hari sebelumnya. Tidakkah ada hari yang begitu menyenangkan untuk aku bisa jalani? Pasti ada mungkin. Mood-ku pada hari ini memang sangat kesal. Bangun pagi kesiangan, ketika pagi sudah tidak dibuatkan sarapan Bi Sri lagi, tersandung batu ketika ingin masuk di bus sekolah, buku paket IPA tertinggal di rumah, uang sakuku sudah pasti tertinggal, dan sekarang aku sudah tidak tahu ingin melakukan apalagi. Aku hanya mencoba menenagkan diri sejenak. Melihat masalahku yang banyak dan sekarang aku sudah dimarahi Bu Judith.

Kesal, mungkin hanya itu perasaan yang juga dialami Galang pada saat-sat seperti ini. Melihat beberapa kesialan yang menimpanya pada pagi hari sebelum berangkat sekolah hingga sekarang masalahnya bertambah dengan Bu Judith. Sebenarnya masalah ini sudah berkali-kali terulang kembali dengan Bu Judith. Aneh dan entah mengapa hanya Galang yang tidak memperhatikan setiap kali ada jam pelajran Bu Judith alias IPA. Dilihat dari pelajaran yang lain seperti pelajaran Seni budaya, Galang tampak ceria-ceria saja. Namun mungkin dengan alasan yang sepele dan ringan, Galang selalu saja tidak mengikuti ataupun mau memperhatikan pelajaran Bu Judith.

Tak begitu lama setelah itu bel istirahat terdengar keras dan jelas di telinga. Entah apa yang harus dikerjakan oleh Galang pada saat ini. Melihat situasinya yang sedang tidak memungkinkan untuk pergi menuju ke kentin karena ia tidak membawa uang saku. Galang duduk dan bersandar dengan wajah lemas di bawah pohon jati besar di dekat perpus. Tampak dari kejauhan wajah samar Arif yang mulai menghampiri Galang yang saat ini duduk di samping Pohon jati. Dari kelihatannya, ia membawa 2 botol air minum.

“Hey kawan, apa yang sedang kamu lakukan di tempat seperti ini?” tanya Arif dengan tersenyum.

“Tidak apa-apa kok. Lalu apa yang kamu lakukan disini Arif?” Galang kembali berbalik tanya kepada Arif.

“Ini adalah tempat berteduhku Galang. Kau tidak tahu ya?” mereka terus melempar percakapan.

“Ya gak tahu lah. Tidak ada tulisan bahwa kalau pohon ini tempatmu,”

“Yayaya, silakan saja berteduh,” Arif tampak ikut tersenyum tanpa memikirkan apapun.

Galang terlihat seperti sedang melemun. “Aduh, kenapa sih harus ada Arif di sini. Aku berfikiran bahwa aku bisa sendirian berada di sini karena memang udaranya yang sejuk dan bersahabat. Aku tidak tahu lagi harus membuka pembicaraan apa dengan Arif. Karena aku dan Arif berbeda jenis kelas. Yang bisa dibilang di sekolah 10 November ini dibedakan menjadi 2 jenis kelas, ada kelas Bonafit dan Reguler.

Sebenarnya sih kalau dibilang tidak perlu dibagi sekolah ini sudah bagus. Banyak sekali orang tua yang berebut memasukan anak-anaknya untuk masuk ke sekolah yang sudah banyak dikenal diberbagai media. Dari dulu, aku selalu memikirkan bisa masuk di kelas yang biasa saja. Entah mengapa Ayah selalu saja memaksakanku untuk masuk disekolah yang Bonafit. Dari sisi kacamata Ayah yang selalu memikirkan masa depanku, ia selalu tidak putus asah untuk selalu memberi nasihat agar tidak putus sekolah,” gumamnya yang masih terus membuat dirinya berbicara dengan diri sendiri.

🤔  Songkok Hitam untuk Alif

“Namamu Galang Ramadhan ya?” tanya Arif sambil menolehkan wajahnya.

“Iya, memang kenapa?” jawab Galang singkat.

“Aku sedikit menyukaimu ketika kamu mengikuti Olimpiade 3 mata pelajaran UN sekaligus. Menurutku itu sangat sulit untuk diikuti. Entah mengapa ketika namamu dipanggil dari peserta yang lolos dari seleksi, aku terkejut dan ingin melihat wajahmu seperti apa. Ya, lomba itu hanya diperuntukan bagi kelas Bonafit sepertimu saja, kan?” ujar Arif.

“Hey, wait a minute. Ternyata ada yang menyukaiku. Meskipun sebenarnya aku tampak menyebalkan di dalam kelas, ternyata ada yang mengidolakanku,” gumam Galang dengan tersenyum.

“Terima kasih untuk itu. Ya, aku memang sebebarnya pintar. Namun aku tidak suka dengan kelas yang serba ketat seperti itu. Terkadang harus mengerjakan tugas PR, selalu membawa buku dan peralatan tulis, dan menaati peraturan setiap guru. Terkadang aku harus menghadapi semua maslaah itu satu persatu,” jelas Galang dengan nada kesal.

“Hm, aku dari dulu ingin sekali masuk di kelas Bonafit sepertimu Galang. Entah mengapa karena keluargaku tidak bisa membiayaiku, jadi aku termasuk di kelas Reguler. Ingin sekali aku berkumpul dengan beberapa siswa yang pintar dan punya bakat,” ungkap Arif bercerita.

“Ya, mungkin itu yang sedang aku rasakan Rif. Hm, aku sedang mengalami masalah yang membebaniku pada hari ini. Baru saja tadi sebelum jam istirahat, Bu Judith memarahiku karena tidak memperhatikan pelajarannya. Aku lantas geram akan hal itu. Coba bayangkan saja, di dalam kelas selalu aku saja yang diberi komentar buruk oleh semua guru. Aku menjadi kesal, hari yang sial bagiku sepertinya,” Galang mulai curhat pada Arif.

“Oh begitu masalahmu, hingga saat ini kamu merasa begitu ya?” Arif tersenyum lebar. Dari semua teman yang mendengar keluhan Galang, hanya Arif yang tahu bagaimana persaaannya saat itu. Galang tak pernah tahu apa maksud dari senyuman lebar diwajahnya. Tapi Galang yakin sekali bahwa Arif mungkin bisa membantu menyelesaikan masalahnya secepatnya. Entah bagaimana caranya.

“Setiap guru pasti mendambakan punya siswa dan siswi yang penurut. Terlebih lagi jika ia bisa merindukan gurunya tersebut. Aku menyadari bahwa guru yang selalu didambakan para siswa patut aku acungi jempol, karena dapat menjadi idaman. Misalnya saja Pak David, pelajaran SBK mungkin tidak akan menyenangkan tanpa adanya cara pembelajaran Pak David. Kalau saja dalam pelajaran Pak David tidak ada namanaya cerita dan canda, pasti dalam sesi pembelajaran tersebut tampak membosankan dan bahkan garing. Berbeda hal dengan Bu Judith yang berperilaku serius ketika mengikuti jam pembelajarannya. Setiap guru pasti berbeda-beda. Jangan samakan dari satu guru ke guru yang lain, karena penyampaian materi mereka mungkin membandingkan mana yang harus diperhatikan atau yang harus di dengarkan saja,” ungkap Galang dengan tatapan ke depan.

“Guru dari pelajaran apapun, setidaknya kau tetap membutuhkannya. Karena guru tidak membutuhkan murid. Malah sebaliknya, kita yang membutuhkan guru. Maka dari itu Galang, jangan sekalipun membenci gurumu sendiri. Kalaupun kamu memebenci gurumu, itu sama saja guru tersebut dianggap sebagai guru yang tidak dirindukan. Sejak dari dulu, aku ingin sekali sepertimu Galang. Orang yang pintar, baik, dan berekonomi tinggi. Anggaplah saja sekarang kamu sedang punya kesempatan baik. Maka dari itu, jangan sia-siakan kesempatanmu itu Lang. Karena kesempatan tidak akan datang dua kali dalam seumur hidup. Kemungkinan kecil kesempatan itu akan datang kembali,” Arif mencoba menyadarkan Galang dengan ceritanya.

Galang diam, Ia bahkan heran, tak dapat menyangka bisa bertemu dengan orang semacam Arif. Ya, bisa dibilang Galang mulai termotifikasi dari Arif. Banyak sekali hal-hal yang  mungkin Galang lupakan selama ini. Bahkan mungkin Galang baru menyadari dalam hidupnya, bahwa Galang harus tetap menyikapi bagaimana harusnya Ia bersikap pada seorang guru.

“Terima kasih atas saranmu Arif. Mungkin kau benar,” lanjut Galang dengan bilasan senyum.

“Ya, minumlah air ini. Kelihatannya mukamu pucat sekali dari tadi kulihat,” Arif mengulurkan tangan kanannya sambil memberikan botol air minum.

*****************

Hembusan angin yang kencang, dan silauan sinar matahari yang menembus jendela kelas VIII-E seakan-akan membuka hari Rabu itu. Situasi siswa kelas VIII-E sedikit lebih tenang dari biasanya, membuat pagi hari itu berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Terlihat dari bangku tengah kebiasaan Galang yang setiap pagi di kelas dengan membaca komik kesayangannnya. Ya, Luthfi sebagai teman sebangku di kelas selalu berharap Galang tidak membuat masalah lagi pagi itu. Jam dinding menunjukan jarum pendek di angka 8 dan jarum panjang menunjukan angka 12. Sebenarnya pagi ini merupakan jam pelajaran IPA Bu Judith. Tas pink khas Bu Judith mulai terlihat dari ujung utara kelas IX-H.

“Eh, guys, Bu Judith udah kelihatan dari ujung kelas IX-E,” tampak salah satu rekan VIII-E memberi tahu tanda kedatangan Bu Judith. Dalam sekejap keadaan kelas VIII-E berubah menjadi tertata. Dari balik pintu kayu, mulai menampakkan wajah Bu Judith dengan ekspresi kesal.

“Selamat pagi anak-anak,” seperti biasanya Bu Judith selalu membuka jam pelajarannya dengan sapaan selamat pagi. Lalu dengan cerianya siswa VIII-E menjawab.

“Selamat pagi juga Bu Judith,” setelah Bu Judith menaruh ransel dan tas pinknya, pandangan matanya tiba-tiba tertuju kearah wajah Galang yang sedang melamun.

*****************

Aduh mampus aku kalau Galang si biang kerok itu membuat ulah lagi pada hari ini. Apalagi yang akan dia perbuat setelah kejadian Bu Judith yang sudah memarahinya minggu lalu. Semoga saja dia tidak membuat masalah lagi.

Wajah Luthfi yang merupaka teman sebangkunya tiba-tiba menjadi tegang melihat tatapan Bu Judith yang tertuju menuju wajah Galang yang sedang melamun. Dengan tenang Bu Judith bertanya,

“Galang, kamu sedang memikirkan apa?” sontak dengan sekejap semua rekan-rekan Galang di dalam kelas memalingkan pandangan menuju wajah Galang yang mulai sadar dari melamunnya.

“Oh tidak Bu Judith, saya tidak sedang memikirkan apa-apa. Namun saya….. saya minta maaf atas kejadian minggu kemarin. Saya minta maaf sekali, jika di hari-hari sebelumnya di setiap jam pelajaran Ibu, saya selalu tidak memperhatikan ataupun tidak mendengarkan. Semoga di setiap pelajaran selanjutnya saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Dan terakhir, saya akan berjanji untuk merubah sikap saya,” Galang mengungkapkannya dengan wajah penuh rasa bersalah. Anak-anak kelas diam, ruang hening seketika.

“Ya, saya bersalah bu, seharusnya guru kami jadikan idola dalam setiap pembelajaran hidup. Sedangkan saya menganggap bahwa Bu Judith selama ini menjadi guru yang tidak dirindukan bagi saya sendiri. Saya minta maaf atas kesalahan itu. Mungkin Bu Judith sudah menyadari hal ini, karena guru juga menjadi orang tua di sekolah,” Galang mencoba menjabat tangan Bu Judith untuk meminta maaf.

“Itu bagus sekali Galang. Ya, pasti Ibu maafkan kesalah itu. Terlebih lagi hari ini merupakan hari yang bagus. Terima kasih karena itu dapat memberi pelajaran bagi kita semua.” Sejak saat itu, di setiap pelajaran di sekolah, Galang tidak pernah lagi melakukan sebuah kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya. Karena Galang yakin, guru yang memberikan ilmu selama ini, adalah pengganti orang tua yang harus selalu dihormati.


*Penulis adalah siswa kelas IX SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang