KH. A. Musta’in Syafi’ie menerangkan tentang hijrah Nabi Muhammad SAW dalam studium generale memeriahkan tahun baru Islam 1439 H. oleh BEM-DPM Ma’had ALy Hasyim Asy’ari Tebuireng pada Kamis (21/09/2017). (Foto: Kopi Ireng).

Tebuireng.online— Badan Eksekutif Mahasantri (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasantri (DPM) Ma’had Aly Hasyim Asy’ari (MAHA) turut mewarnai peringatan tahun baru Islam 1439 Hijriyah di Pesantren Tebuireng dengan mengadakan Studium General di Aula Lantai 3 Gedung KH. Yusuf Hasyim. Agenda yang dihadiri oleh Dewan Asatidz, mahasantri, dan alumni MAHA ini, diselenggarakan pada Kamis (21/09/2017) dengan narasumber Dr. KH. A. Musta’in Syafi’ie.

Agenda ini dimulai pada pukul 08.30 WIB dengan lantunan shalawat oleh Grup Sholawat Habibul Mushtofa MAHA. Agenda ini dibuka oleh Muhammad Ahmadi selaku pembawa acara dan dilanjutkan Pembacaan Ayat-ayat Suci Al Quran oleh Ahmadika.

Presiden Mahasantri MAHA, menyampaikan bahwa stadium general ini menjadi diskusi yang tidak selesai. “Stadium General ini sebagai ajang untuk menumbuhkan sifat kritis Mahasantri Ma’had Aly. Dan kali ini, BEM mengadakan 3 acara sekaligus untuk memperingati tahun baru hijriyah, yakni, Stadium General, Ladies Competition, dan Ma’had Aly Futsal Laeague“ katanya.

KH. Ahmad Syakir Ridwan, Lc.,MHI., selaku Wakil Mudir bidang Akademik Ma’had Ali Hasyim Asy’ari menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk rekonstruksi sejarah Islam, khususnya hijrah Nabi SAW ke Madinah. “Agenda ini menjadi titik nilai positif untuk mengetahui sejarah munculnya islam dan perkembangannya” jelas beliau, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan do’a oleh Ustadz Najib Junaidi.

Stadium General ini dipimpin oleh moderator Ahmad Fauzul Adzim dan narasumber Dr. KH. Ahmad Musta’in Syafi’ie. Beliau menghabiskan waktu sekitar satu jam dalam mengupas sejarah tenteng hijrah Nabi. Beliau menjelaskan bahwa hijrah Nabi menjadi tonggak awal penyebaran Islam dengan berjuang menghindari ancaman kaum Kafir Quraisy, seperti ketika berada dalam Gua Tsur yang dilindungi oleh Allah dengan bantuan laba-laba untuk menutup pintu goa.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Nabi Muhammad SAW hijrah tanpa mengutus utusan itu ketika beliau hijrah di Madinah. Nah disini, beliau disambut dengan iringan pujian yang disenandungkan oleh warga yang berada di Madinah,” tukas beliau. Beliau juga memberikan amanat yang terkandung dalam peristiwa hijrah. “Dalam peristiwa hijrah Nabi SAW, banyak sekali nilai-nilai yang terkandung, seperti keikhlasan dan perjuangan untuk menegakkan agama,” ungkap pakar tafsir Tebuireng itu.

Pada sesi tanya jawab, tiga mahasantri bertanya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan hijrah Nabi SAW. Beliau menjawab berbagai pertanyaan dengan lugas dan jelas disertai dengan penjelasan yang mudah dipahami oleh peserta stadium general.


Pewarta:           M. Tajuddin

Edtor/Publisher: M. Abror Rosyidin

SebelumnyaSambut Tahun Baru 1439 H, BEM MAHA Gelar Perlombaan Asyik antar Mahasantri
BerikutnyaRefleksi Hijrah Nabi, Gus Sholah: Semua Kembali kepada Keteladanan & Akhlak