Suasana stand buku Pustaka Tebuireng dalam Gelar Potensi Jombang di Kawasan Makam Gus Dur yang dilaksanakan pada Jumat-Selasa (18-22/08/2017). Stand ini terlihat sepi. Buku tidak menemukan surganya dalam event ini.

Tebuireng.online— Untuk mempekenalkan segala potensi ekonomi dan usaha rumahan warganya, serta memeriahkan peringatan HUT ke-72 RI, Pemerintah Kabupaten Jombang menggelar Gelar Potensi Jombang (GPJ) 2017 di Kawasan Makam Gus Dur, Cukir, Diwek Jombang yang dilaksanakan empat hari, sejak Jumat-Selasa (18-22/08/2017).

Banyak produk rumahan yang dipasarkan, mulai dari pakaian, kuliner, aksesoris, elektronik, furnitur, termasuk juga buku. Pesantren Tebuireng, melalui Pustaka Tebuireng juga ikut memeriahkan gelaran tahunan ini dengan menjajahkan buku-buku menarik. Namun, menjual buku dalam gelaran ini, jauh dari kata memuaskan.

Pustaka Tebuireng yang berada di bawah naungan Unit Penerbitan Pesantren Tebuireng ini menyediakan beberapa produk buku dari berbagai terbitan, selain terbitan sendiri, beberapa penerbit ternama, seperti Kompas-Gramedia, Intrans, Republika, Pustaka Tebuireng, dan beberapa penerbit lainnya. Selain buku, stand Pustaka Tebuireng ini juga menjual aksesoris, seperti stiker cutting, poster, dan jasa edit foto oleh Abedekado.

Salah satu pengurus Pustaka Tebuireng, Khoirul Umam menjelaskan, bahwa keikutsertaan timnya dalam GPJ 2017 ini cukup mendadak, sebab pihak pengurus pondok diberitahu oleh panitia pada hari awal dimulainya evant. “Karena pihak pengurus pondok tidak siap, akhirnya dilimpahkan ke Pustaka Tebuireng,” ungkap lelaki yang biasa disapa Jambeng itu kepada Tebuireng Online saat menjaga stand-nya pada Ahad (20/08/2017).

Pengurus Pustaka Tebuireng yang lain, Septian Pribadi menjelaskan bahwa timnya mengikuti event ini sebenarnya tidak banyak berharap soal penghasilan, melainkan untuk ikut serta meramaikan GPJ 2017. Namun, ia tidak menafikan bahwa minat membeli buku masyarakat Jombang masih sangat rendah dibandingkan dengan daerah lain.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Saya tidak tahu, ini karena minat baca jelek atau bagaimana, pokoknya imbasnya beli buku juga rendah. Stand tidak terlalu ramai seperti bazar di daerah lain. Stand yang diminati ya pastinya soal perut dan gaya hidup,” ungkap Pimpinan Redaksi Majalah Tebuireng itu.

Ia juga menyayangkan rendahnya minat membeli buku sebagai jendela ilmu, padahal arus globlasisasi dan era media sosial menyerang dengan masif generasi muda. “Harusnya pemerintah sering-sering adakan event khusus untuk buku dan membaca. Jombang darurat minat baca dan membeli buku,” ungkapnya.

Stand Pustaka Tebuireng dalam GPJ 2017 ini, merupalan satu-satunya yang memperjualbelikan buku di antara sektor lain yang cukup raksasa. Hal itu menunjukkan buruknya perhatian pemerintah dan penyelenggara GPJ terhadap perkembangan sektor buku atau memang penjualan buku masih belum menjadi perhatian khusus.

Pegiat literasi Jombang, Robiah, memandang fenomena ini, bukan berarti melulu karena minat baca jelek, tapi lebih kepada fasilitas dan akses untuk masyarakat ke arah minat baca yang kurang. “Pegiat literasi di Jombang cukup banyak, tapi memang metode-metode kreatif untuk menciptakan sebuah atmosfer literasi itu yang kurang masif dan terbuka,” ungkap salah satu pengurus Rumah Baca Abukus Mojowarno itu.

Ia tidak mengelak jika minat beli buku masyarakat di Kabupaten Jombang masih rendah. “Kalau daya beli buku memang rendah, kalah dengan kuliner dan fashion,”ungkapnya. Menurutnya, masih banyak faktor yang mempengaruhi hal itu, termasuk juga karena faktor ekonomi, tingkat pendidikan, atau anggapan bahwa buku masih merupakan barang yang eksklusif.

“Baca buku tidak harus dari buku (kertas) sekarang, sudah ada gawai, internet, buku elektronik, dan lain sebagainya. Jadi itu mengapa belum tentu daya beli buku rendah, berarti minat baca rendah. Tapi kalau minat beli buku rendah, ini saya setuju,” ungkap penyiar senior radio Suara Tebuireng tersebut.

Namun, ia mengakui, buku masih belum terkalahkan oleh media apapun soal kedalaman dalam pembahasan. “Jadi kalau ditanya, mana yang lebih baik, tentu saya jawab buku (kertas),” pungkasnya. Itu mengapa, ia masih merekomendasikan buku cetak untuk dibeli, tidak menjadikan gawai atau buku elektronik sebagai sumber bacaan utama.


Pewarta:            M. Abror Rosyidin

Editor/Publisher: MAR

SebelumnyaRahmah El Yunusiyyah Pendiri Pertama Diniyah Putri (bagian I)
BerikutnyaPeringati Hari Kemerdekaan RI, MASS Tebuireng Gelar Perlombaan Asyik