Tebuireng.Online--“Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang)”. Begitulah Imam Syafi’i menyampaikan nasihat untuk merantau dalam syairnya. Semenjak menginjak sekolah menengah pertama, Muhammad Rihabulloh Hambali sudah mulai menjalani nasihat tersebut. Pesantren Tebuireng menjadi jujukan rantauan pertamanya dalam rangka menimba ilmu.

Kendati gagal lolos SNMPTN dan SBMPTN, namun Rihab, sapaan akrabnya, justru meluaskan jangkauan rantauannya ke benua Eropa, tepatnya di kota Sussex, Inggris. Berikut wawancara Tebuireng Online dengan Rihab. Semoga menginspirasi!

Biodata

Nama lengkap:            Muhammad Rihabulloh Hambali

Nama panggilan:          Rihab

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tempat tanggal lahir:  Jakarta, 21 Maret 1999

Alamat asal:               Jakarta

Pesantren, asrama:     Tebuireng Jombang, Y Atas Darul Muttaqien

Riwayat pendidikan:   SD Al-Azhar Kelapa Gading-Jakarta Utara

                                 SMP A.Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang

                                 SMA A.Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang

 

Sekarang Rihab sedang belajar di Inggris, di universitas apa dan program studi apa?

International Relations (Hubungan Internasional), University of Sussex

Sudah sejak kapan tinggal di Inggirs?

30 September 2017

Biasanya santri yang meneruskan studi di luar negeri identik melanjutkan studi di Timur Tengah dengan mengambil program studi keagamaan. Apa yang melatarbelakangi Rihab mengambil studi di Inggris dengan program studi tersebut?

Waktu saya masih sekolah di SMA AWH, saya studi dalam program IPS karena memang saya kurang paham tentang pelajaran hitung menghitung seperti MTK dan Fisika. Di kelas IPS salah satunya saya belajar tentang sejarah. Di sana diterangkan bahwa pada abad ke-15 peradaban masyarakat Eropa sangat buruk bahkan sekarang mereka menyebutnya the dark ages, tapi di sisi lain, umat Islam saat itu sangat maju di berbagai aspek sampai menguasai Konstantinopel yang saat itu menjadi pusat peradaban Eropa. Bahkan banyak ilmuan-ilmuan Islam yang menemukan temuan-temuan yang sampai saat ini masih kita gunakan, ya, itu di abad ke lima belas. Dengan waktu yang relatif singkat mereka dapat mengubah keaadaan dan membuat semuanya terbalik. Mereka juga mampu mengembangkan ilmu-ilmu sains maupun sosial yang dulunya dikembangkan orang Islam. Seperti Eropa yang saat ini kita kenal maju dengan teknologi yang canggih dan kebanyakan masyarakatnya adalah orang yang berakhlak bahkan murah senyum dan seakan-akan mereka mencuri semua ilmu dari Islam. Dunia Islam saat ini malah sebaliknya mudah di adu domba dan lain-lain. Dari sinilah saya mulai punya semangat untuk studi di Eropa, namun saat itu orang tua tidak mengizinkan. Jadi saya pikir mustahil untuk mewujudkan mimpi saya kuliah di Eropa.

Namun, setelah lulus dari SMA alhamdulillah, saya dapat peringkat ke-2 saat wisuda. Lalu mulailah saya mencari tempat kuliah ke sana ke sini. Saya ikut SNMPTN dan SBMPTN keduanya tidak ada yang lulus. Ya mungkin karena saya memang tidak bisa matematika. Akhirnya saya gelisah saat itu. Saya ingat bahwa semua rencana Tuhan pasti berakhir baik. Apabila sekarang belum baik maka ini bukan akhir. Akhirnya, saya kembali semangat dan mulai ingat bahwa dulu saya pernah minta rekomendasi dari sekolah, kebetulan dulu saya sempat menjabat menjadi ketua umum MPK tahun 2015-2016. Jadi saya sudah kenal dekat dengan waka kesiswaan dan mudah untuk medapatkan surat rekomendasi untuk mengahdiri acara di luar sekolah karena mungkin beliau sudah percaya dan kenal dekat dengan saya. Surat rekomendasi ini saya tujukan untuk menghadiri pameran pendidikan IDP EDUCATION di Surabaya , saat itu semua universitas yang hadir adalah dari Australia, namun di banner depan pintu masuk ada bendera United Kingdom dan di bawahnya bertuliskan “North Jakarta”, setelah mengingat tulisan tersebut saya mau ikut tes untuk sekolah di Inggris. Mulailah saya bilang dan merayu ke orang tua, dan akhirnya mereka mengizinkan.

Kenapa tidak ke timur tengah?  Jika ditanya seperti itu jawabanya sudah jelas di atas, namun bukan berarti saya tidak suka ilmu-ilmu agama, Mohon maaf bukanya sombong tapi attahadust binni’mah. Walaupun saya sekolah di SMA A. Wahid Hasyim  yang identik dengan ilmu umum, saya alhamdullillah sudah lulus ulya 3 di program takhasus walaupun saat itu  saya satu satunya anak SMA yang lulus ulya. Ulya 3 itu ngaji sorogan dengan kitab Ibnu Aqil dan ujian nya menggunakan kitab fathul mu’in. Bukan hanya itu, saya dulu di pondok senang ngaji. Saya khatam sorogan mutamimmah, dan khatam alfiyah ibnu malik dengan Bapak Kamuli Khudori. Saya juga setor alfiyah setiap habis magrib ke pak Johari. Belum berhenti di sini cinta saya dengan ilmu pesantren saya ikut pengajian romo KH. Ishaq Latief duduk paling depan, dari kitab Adabul Alim, Kifayatul Atskiya, Alistiqomah Walkaromah, Alhikam Wal Mawaizd, Badaiuzuhur, Alkabair Wazawajir sampai terakhir beliau baca Adabuddunya Waddien. Saya juga kalau malam Jumat biasanya ikut sama Mbah Yai Ishaq ke makam KH. Hasyim. Ditambah lagi saya dulu, alhamdullillah, khatam kitab bukhori-muslim dengan Kyai Habib Ahmad. Saya juga ngaji kitab Riyadusholihin, al Azkar Anawawi, al Muhazab, tafsir Ahkam Ashobuni dengan Bapak Najib, Madura. Waktu habis sepulang sekolah pun hari Ssabtu dan Minggu saya ngaji tafsir Jalalain di masjid, sorogan dengan Bapak Syakir, MQ. Saya juga mengaji kitab kecil-kecil dengan Gus Fahmi ditambah ngaji ilmu hikmah dengan Bapak Mustakim Askan dan Pak Agus Maulana. Dan alhamdulillah, saya di pondok sudah bisa sedikit-sedikit mengabdi dengan mengajar di SH 102 kitab arba’in annawawi dan attarbiyah wa tazdhib. Saya juga buka pengajian di kamar untuk teman-teman yang mau sorogan mutammimah. Alhamdullilah banyak yang ikut. Di K bawah, saya baca kitab Kabair Wazawajir, Alhikam Wal Mawaizd, dan Tafsir Jalalain, surat Waqiah, dan Alkahfi. Alhamdullillah semuanya khatam. Kecuali mutammimah seingat saya masih sampai bab afalul mudhoroah.

Jadi sekali lagi, saya kuliah di Inggris bukan karena tidak suka dengan ilmu agama, namun karena sangat cinta dengan agama dan bermimpi akan mengembalikan Islam seperti dahulu pada masa kejayaannya.

Jika dilihat dari kemampuan akademis saya juga bingung kenapa saya selama di SMA mendapat  ranking II hanya sekali pada satu semester di kelas XI, selebihnya saya ranking I. Lebih anehnya lagi, saya peringkat dua saat wisuda, dan yang paling aneh adalah sekarang saya kuliah di England United Kingdom. Cuma ada satu jawaban yang pantas: ini semua bukan karena saya anak pintar. Memang nyatanya saya biasa saja, tapi ini adalah barokah guru-guru saya di Tebuireng dan doa orang tua saya di rumah.

Apakah Rihab mendapatkan beasiswa atau dengan biaya pribadi untuk melanjutkan studinya? Jika iya, beasiswa apa dan siapa lembaga donornya?

Biaya sendiri, saya bilang ke ayah, “Ayah, kata Kyai Ishaq ان االله تكفل لطالب العلم رزقه”

Sesungguhnya Allah menanggung rezeki orang yang mencari ilmu. Akhirnya ayah pun setuju dan alhamdulillah sekarang bayaran saya selama setahun sudah lunas.

Untuk mencari beasisiswa di Eropa sangat sulit untuk S1 karena masa studinya 3 tahun. Sedangkan banyak lembaga yang menawarkan beasiswa untuk S2 karena masa studinya satu tahun. Mengapa demikian? Jawabanya adalah biaya yang ditanggung lebih ringan di s2 jadi banyak lembaga yang menawarkan beasiswa.

Bagaimana cerita dari pertama Rihab mempunyai keinginan studi di Inggris, proses pendaftaran, hingga berangkat ke Inggris?

Ceritanya di atas sudah saya sampaikan. Pendaftaran saya memalui IDP Education di Jakarta utara yang mengurus kuliah ke luar negri meliputi Inggris, Australia, Amerika Serikat,dan Selandia Baru. Untuk kuliah di Inggris butuh sertifikat IELTS Academy (Internatonal English languages Testing System) dan memang cukup sulit, tapi tenang santri banyak amalan. Setiap universitas di Inggris dan bahkan di dunia akan mengumumkan berapa nilai IELTS yang dibutuhkan karena sertifikat IELTS berlaku untuk seluruh dunia, khususnya negara Eropa dan negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris. Jika sudah berhasil dapat sertifikat IELTS, semua berkas harus lengkap dan diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Setelah itu semua berkas beserta hasil tes IELTS akan dikirim ke universitas untuk di cek keasliannya serta dicek nilai rapornya selama di SMA. Minimal nilai raport seingat saya adalah 70. Namun karena AWH masih menggunakan sistem UN dan bukan standar Internasional maka pada tahun pertama saya masuk di ISC (Internasional Study Centre), tahun kedua baru di universitas. Tapi masuk ISC tidak menambah masa studi. ISC mewakili tahun pertama di universitas dengan tambahan pelajaran bahasa Inggris. Jadi lamanya S1 tetap 3 tahun.

Setelah semua berkas di terima, mereka akan  mengirim offer letter yang artinya surat penerimaan. Di sana akan jelas terlihat kapan masuk kuliah dan kapan lulus dan berapa uang yang harus dikeluarkan selama studi. Setelah mendapat offer letter, kita harus menbayar uang sebelum keberangkatan untuk mendapat beberapa surat lanjutan dan yang paling penting adalah surat CAS karena di dalamnya tertulis nomor CAS yang dikeluarkan oleh UKVI (United Kingdom Visa and Immigration) dan nomor CAS inilah yang nanti digunakan untuk mengurus visa.

Mengurus visa UK memang tidak begitu sulit jika semua berkasnya lengkap dan terjamin keaslianya. Mungkin hanya menunggunya yang membuat gelisah. Visa saya semenjak saya ajukan selesai kurang lebih satu bulan. Visa yang didapat adalah visa pelajar Tier 4. Visa ini akan sangat memuaskan karena dengan visa tier 4 saya bisa keluar masuk inggris tanpa mengurus visa lagi dan mendapat jaminan kesehatan dan lainnya.

Namun, visa ini akan habis dalam jangka 30 hari jika tidak melakukan keberangkatan. Setelah sampai di Inggris visa ini akan berlaku 10 hari. Dalam sepuluh hari tersebut kita harus regristrasi ke pihak universitas dan akan mendapat kartu BRP. Jika tidak segera registrasi maka akan dikembalikan ke Indonesia. Kartu BRP ini yang sangat penting karena ini adalah izin tinggal di Inggris selama studi berlangsung. Jika ada pertanyaan atau berminat kuliah di Inggris, IDP EDUCATION memang saya rekomendasikan karena mereka akan mengurus semua keperluan dari awal memilih kampus sampai tiba di United kingdom.

Bagaimana kehidupan di Inggris?

Di Inggris orangnya ramah dan mudah diajak berkomunikasi kecuali London. Masyarakat London sedikit acuh dan banyak immigran dari berbagai negara jadi culture-nya bercampur karena saya sempat tinggal di London beberapa waktu sebelum pindah ke kampus. Namun di kota tempat kampus saya berada, Brighton, sekitar satu jam dari London, seakan akan saya melihat mereka teringat kitab–kitab akhlak karena mereka memang baik-baik. Bisa dikatakan 80 persen orangnya sopan dan murah senyum. Namun mayoritas dari mereka tidak beriman bahkan banyak yang tidak percaya Tuhan. Di sinipun saya tidak mendengar azan dikumandangkan jadi untuk mengetahui waktu shalat saya menggunakan aplikasi di handphone.

Cuaca saat ini masih musim gugur sekitar 10-18 derajat celcius lumayan dingin untuk saya yang biasa makan ketan di pasar Cukir. Untuk makanan halal juga banyak tersedia dan beraspun sangat banyak jadi jangan takut kalo mau tinggal di sini. insyaallah makanan tidak sulit. Masalah biaya hidup kurang lebih satu minggu 20-30 pounds bahkan bisa kurang dari itu. Dan jumlah tersebut sudah termasuk makan dan lainya. Uang koin di sini sangat berharga satu pounds bisa untuk membeli satu botol susu ukuran besar. Karena satu poundsnya kurang lebih 17.000 rupiah maka harus hemat dan masak sendiri untuk menghemat pengeluaran.

Apakah pernah mendapatkan perlakuan diskriminatif mengingat Rihab seorang muslim?

Sama sekali tidak. Saya tinggal di satu rumah dengan lima teman dari London, Prancis, Norway, dan Manchester. Mereka tahu saya muslim dan mereka biasa saja. Bahkan di kampus ada Islamic society dan ada masjid di lingkungan kampus, walaupun adzannya tidak menggunakan pengeras suara. Masjid ini juga digunakan untuk shalat Jumat.

Jadi jangan takut di diskriminasi oleh mereka. Toleransi di sini sangat tinggi dan mereka akan menghormati perbedaan. Jika saya ada jam kelas dari jam dua belas sampai jam empat artinya saya tidak bisa shalat Dhuhur. Namun, jam satu saya keluar ke masjid untuk shalat pada saat mendapat break time 10 menit lalu kembali lagi ke kelas, tapi karena jarak yang lumayan jauh dari gedung ke masjid saya biasanya telat bahkan sampai 15 menit. Tapi ketika dosen bertanya dari mana dan saya jawab shalat, mereka membolehkan saya masuk dan tidak dicatat terlambat. Bahkan sekarang  jika saya mendapat lecture yang terlambat karena shalat, dosen tidak bertanya dan tidak mencatat saya datang terlambat karena mereka sudah tahu kalau saya shalat dhuhur.

Bagaimana sistem pendidikan di sana?

Sistem pendidikan di sini untuk universitas hampir sama seperti di Indonesia, namun waktunya yang berbeda di sini S1 3 tahun, S2 1 tahun, dan seingat saya untuk doktoral 3-4 tahun. Mata kuliahnya tidak terlalu banyak kadang mendapat day off dan reading week, ttidak ada lecture dalam satu minggu, namun diberi target untuk membaca buku. Kuliah di sini sepertinya tidak sepadat di Indonesia atau bisa dibilang lebih simple, namun absen sangat penting dan akan di rekap satu minggu sekali. Kehadiran harus 85-100 persen. Jika kurang dari itu akan mendapat peringatan dari pihak universitas sebanyak 3-4 kali dan jika masih mengulang kembali maka akan dipulangkan ke Indonesia oleh UK Immigration.

Kuliah di sini harus kritis dalam berpikir karena dosen akan memberi bahasan berupa diskusi bukan pelajaran teori semata. Jadi harus berpikir lebih kritis. Dan banyak membaca dari internet maupun buku di perpustakaan.

Di sini juga ada badan konseling yang di khususkan untuk mahasiswa internasional. Jadi, jika ada perlu mengenai akomodasi, finansial, home sick, dan lainya bisa berkonsultasi pada mereka. Dan masih banyak lagi yang berbeda dari pendidikan di Indonesia..

Apa rencana Rihab setelah lulus nanti?

Rencana ayah, insyaallah saya di suruh meneruskan master di Inggris dan Ph.D di USA, lalu belajar satu tahun di mesir untuk mengambangkan bahasa Arab dan mengembalikan memori tentang kitab kuning. Namun ini rencana orang tua saya. Saya hanya tawakal saja pada Allah apa yang terjadi besok biar Allah yang mengatur. Seperti di hadist kudsi, wahai anak adam jangan kau tuntut rizkimu esok hari, seperti aku tidak menuntut amal perbuatanmu esok hari.

يا ابن ادم لا تسالني رزق غد كما لم اطلب منك عمل غد

Adakah pesan dan motivasi yang ingin disampaikan untuk santri-santri di pelosok negeri, khususnya santri Tebuireng?

Untuk para santri di Indonesi, khususnya Tebuireng, Jombang tercinta, jangan sekali kali merusak barang wakaf dengan sengaja. Jangan sekali kali menyakiti hati guru dan orang tua kalian. Usahakan rajin ngaji walaupun tidak paham, toh memang kita santri yang masih dalam proses belajar karena pada pengajian-pengajian itulah kamu akan mendapat banyak barokah dan bahkan suatu yang kamu tidak akan pernah bayangkan sebelumnya. Pada saat mengaji kamu akan mendapatkan suatu yang bisa dirasakan oleh pancaindra dan juga suatu yang hanya bisa dirasakan oleh hati.

Memang saat di pondok semua itu tidak terasa namun ketika pulang semua akan di buka oleh allah. Usahakan setiap habis magrib membaca alfatihah kepada KH. Hasyim Asyari, para ulama ulama Tebuireng, orang tua dan guru, yang dilanjutkan membaca surat Yasiin, yang alhamdullillah, sampai saat ini masih saya amalkan. Dan usahakan setiap hari Jumat ke makam masayikh dan membaca surah al Kahfi. Jangan lupa bacakan fatihah sebelumnya untuk rasul, para guru dan untuk keluarga, setelah itu berdoalah dengan doa yang baik karena saya jujur setiap hari Jumat saya baca surah al Kahfi ketika selesai salah satu doa saya adalah kuliah di inggris dan buktinya saya di sini sekarang. Karena sesungguhnya jika kalian hanya berpikir tentang apa yang bisa dirasa oleh pancaindra maka kalian belum berpikir sama sekali. Silahkan nakal tapi ingat nakalnya nakal santri. Saya dulu juga nakal tapi sama guru saya tidak berani untuk membantah. Untuk kelas tiga sebelum lulus usahakan menghatamkan Al Quran di makam. Dan harapan saya semoga di SMA pelajaran diniyah di tingkatkan terutama nahwunya karena jujur saya malu ketika kelas 12 nahwunya menggunakan kitab mukhtashor jiddan padahal di pondok saya ngaji Ibnu Aqil.

Yang terakhir bermimpilah untuk pergi jauh dari rumah entah untuk belajar atau suatu manfaat yang lain yang bisa bermanfaat untuk agama Islam dan bangsa Indonesia. Coba buka kitab التحلية والترغيب في التربية والتذهيب halaman 29. Di sana diterangkan bahwa bukanlah pecinta bangsa yang tulus bagi mereka yang tidak pernah keluar dari batas negaranya untuk membawa pulang suatu yang bermanfaat bagi bangsanya. Ingat kata pak Mustain Syafii ketika khutbah, negara ini terhormat karena santri.


Pewarta: Farha Kamalia

Editor: Fara