Sumber gambar: https://www.romadecade.org

Oleh: KH. Fawaid Abdullah*

Hidup itu sebuah permainan, bagaikan bayang-bayang, fatamorgana. Dunia semakin dikejar, kadang semakin lari. Semakin dicari semakin tidak kunjung dapat. Semakin dikejar semakin ia menjauh. Namanya saja fatamorgana. Dunia itu hakikatnya absurd, tidak bermakna.

Cobalah kita pikir lebih jernih lagi, ada kasus yang lagi booming hari ini, sebuah “transaksi esek-esek” senilai (konon) ada yang 25, 50, 80 juta dalam satu kali kencan, bahkan (bisa jadi) ada yang lebih fantastis dari angka itu. Pertanyaan sederhananya, setelah kasus itu menyeruak ke publik seperti ini, lalu baik yang “membeli atau yang dibeli” itu dapat apa?

Kepuasan? Belum tentu. Kenikmatan? Juga belum tentu. Semakin ia cari dengan cara yang begitu. Entah itu si “pembeli” ataupun si “penerima uang 25, 50, 80 juta atau lebih” itu. Kok rasa-rasanya haqqul yakin, saya pastikan tidak akan puas, tidak akan nikmat dst. Buktinya, semakin dicari, dikejar semakin absurd, semakin tidak puas, semakin ingin mencoba dan terus mencoba. Itulah Dunia!

Itulah dunia, semua akan berpisah. Fenomena ini kalau saya amati, bagaikan fenomena gunung es. Ini bukan kali pertama saja. Bagi orang berduit, uang nilai fantastis diangka jutaan bahkan ratusan juta rupiah itu tentu tidak sulit. Bahkan bisa jadi, mungkin hanya seperti membeli kerupuk upil, es cendol atau es dawet. Mendapatkan materi, dunia seperti itu tentu tidak begitu sulit. Bagaikan membalikkan telapak tangan, begitu gampang dan mudahnya. Tetapi bagi sebagian yang lain, tentu sebaliknya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Jadi, apa yang kita cintai, apa yang kita miliki, apa yang kita punya ini hakikatnya hanya titipan belaka, titipan Allah. Namanya saja titipan, tentu karena kita ini dititipi, tentu harus menjaganya dengan baik dan amanah. Ketika suatu waktu diambil oleh yang menitip, maka harus siap. Harta kita, tahta kita, kekuasaan, materi, dunia ini hanyalah transit terminal saja. Semua akan berpisah pada waktu yang telah Allah tentukan.

Dalam sebuah maqalah di kitab Nashoihul ‘Ibad, disampaikan bagaimana malaikat Jibril berkata kepada baginda Rasulullah SAW:

“Qola Jibril ‘alaihi Al Salam: Yaa Muhammad, ‘Isy Maa Syi’ta Fainnaka Mayyitun, Wa Ahbib Man Syi’ta Fainnaka Mufariqun, Wa’mal Maa Syi’ta Fainnaka Majziyyun bihi” – Jibril berkata: Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau itu akan jadi mayyit, cintailah siapa saja sesukamu, sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya, berbuatlah sesukamu, sesungguhnya perbuatan itu akan dibalas setimpal.

Prinsipnya, semua yang dilakukan manusia atau hamba Allah itu berbanding lurus dengan perbuatannya masing-masing. Siapa yang menanam, pasti ia akan menuai. In Khairan fa Khairun, wa In Syarron fa Syarrun, apabila perbuatan itu baik, benar, dan sesuai perintah Allah, maka akan dibalas baik pula oleh Allah. Sebaliknya, apabila perbuatan itu jelek, buruk, maka akan dibalas jelek, buruk pula oleh Allah.

Wallahu A’lam

Diambil dari isi kandungan Kitab Nashoihul ‘Ibad Syarah Syaikh Muhammad Nawawi ibn Umar Al Jawi karya Syaikh Syihabuddin Ahmad ibn Hajar Al Asqalany (773-852).

*Khadim Pesantren Peradaban AL-AULA Kombangan Bangkalan Madura.