Tebuireng.online- Sabtu (19/06/2021), Direktur Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. M. Ali Ramdhani berkesempatan menghadiri Stadium General yang diadakan oleh Ma’had Aly Hasyim Asy’ari  dengan tema “Tantangan dan Peluang Pendidikan Islam di Era Disrupsi”.

Di awal, cucu rektor pertama UIN Sunan Gunung Jati ini memberikan pandangan kepada para hadirin tentang definisi pendidikan. “Pendidikan definitif adalah upaya sadar untuk meningkatkan kemampuan paling esensial manusia. Apa yang paling esensial diri manusia?. Yakni manusia merupakan hayawan nathiq (hewan berakal)”. Kalau filsuf barat Rene Descartes memberikan posisi akal manusia pada tempat tertinggi, Cogitu Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada),” ungkapnya.

Beliau menjelaskan era disrupsi itu ditandai dengan masa Revolusi Industri, kalau Barat menyebutnya. Yang saat ini sudah mencapai era 4.0. Berawal dari penemuan besi, yang menandai era 1.0. Kemudian listrik yang menjadi cikal bakal era 2.0. Selanjutnya, era 3.0 yang sudah mengenal internet. Saat ini sudah mencapai tingkat 4.0, dengan teknologi Internet of Think/ Artifisial Intellegency. Jadi, penemuan akan memengaruhi peradaban.

Berbeda dengan pendapat Timur, yang diwakili oleh Jepang. Kita warga Timur sudah harus menyongsong era Society 5.0. Ada 5 unsur dalam era ini yang harus ada pada manusia: Kecerdasan, Intelektual, Sosial, Emosional, dan Kemanusiaan. Sebab mereka menganggap kita sebagai manusia peradabanlah yang mempengaruhi penemuan, bukan sebaliknya.

“Dalam pendidikan Islam, baik baik Ma’had Aly atau pun lainnya. Sebagai seorang terdidik ada tiga unsur yang harus dipenuhi: Islam, Iman,  Ihsan. Kalau Islam dan iman sudah ada kurikulum dari syariat. Namun tidak dengan ihsan. Hanya ada keterangan tentang ihsan dalam hadis bunyinya begini:  dia melakukan apa pun ia melihat Tuhan, atau dilihat Tuhan. Akhirnya, kita buat kurikulum sendiri mengenai ihsan, harapannya alumni dari pendidikan Islam mempunyai nilai Islam, Iman, Ihsan yang baik. Sehingga membentuk sifat insan. Yakni, Integritas, Humanisme, Spiritualitas, Adaptasi, dan Nasionalisme.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Itulah bekal yang harus kita kumpulkan untuk menghadap era disrupsi saat ini. Sebagai orang yang sudah islam, beriman, dan ihsan, harusnya kita sudah mengisi konten-konten Youtube, Tiktok, Instagram dan lain-lain dengan energi positif. Jangan sampai acuh. Selain itu, produk-produk fikih kita harus terus kita kembangkan. Contoh: bagaimana cara kita shalat jika suatu saat sedeng berada di Mars? Produk-produk temuan era disrupsi kita jadikan peluang untuk menuju masyarakat muslim yang berkemajuan. Jangan sampai tergerus zaman,” pungkasnya.


Pewarta: Indra

SebelumnyaTak Main-Main! Ungkapan Dirjen Pendis tentang Lulusan Ma’had Aly
BerikutnyaJalani Prokes Ketat, Pesantren Tebuireng Sambut Kedatangan Santri Baru