Dua Pahlawan Nasional dari Tebuireng Lintas Generasi

Foto: Aji

Oleh: Abror Rosyidin*

Salah satu bangsa yang bermartabat adalah yang menghargai jasa perjuangan pahlawannya. Mereka yang telah berjuang untuk berdirinya bangsa. Tanggal 10 November 2019 ditetapkan sebagai peringatan Hari Pahlawan. Sejatinya jumlah pahlawan di negeri ini tak terhingga, seluruh rakyat pada saat itu mengupayakan dan berusaha betul untuk merebut kemerdekaan, atau mempertahankannya dari para penjajah.

Tak perduli dari agama, ras, dan suku apa, gaungan untuk merdeka dan bebas dari kolonialisme digaungkan. Tua, muda, anak-anak, laki-laki, perempuan, miskin, kaya, ningrat, jelata, semua yang telah memperjuangkan bangsa, layak disebut pahlawan. Namun, karena jutaan orang jumlahnya, rasanya tak mungkin semuanya diresmikan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah. Namun, patut kita pahami dan kita catatkan dalam hati, mereka semua adalah pahwalan kita.

Di antara rakyat yang berjuang itu, ada dari golongan bersarung, kaum pesantren, kiai dan santri. Sambil mengaji dan mengkaji ilmu agama, mereka juga ikut serta berjuang melawan kolonialisme. Mereka bahkan mendirikan laskar-laskar perjuangan yang bersifat independen, berbasis ketawaduan terhadap kiai, nilai-nilai keagamaan, dan cita-cita bangsa. Salah satu pesantren yang cukup dikenal mencetak para pejuang bangsa, adalah Pesantren Tebuireng.

Berikut ini kami rangkum dua sosok Pahlawan Nasional yang ditetapkan oleh pemerintah dari Pesantren Tebuireng.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari

Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari merupakan pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) dan Pesantren Tebuireng Jombang. Ia lahir pada Selasa Kliwon, 24 Dzul Qa’dah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Februari l871 M, di Pesantren Gedang, Desa Tambakrejo, putra ketiga dari 11 bersaudara pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah. Kiai Asy’ari adalah menantu Kiai Utsman, pengasuh pesantren Gedang.

Dari jalur ayah, nasab Kiai Hasyim bersambung kepada Maulana Ishak hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir. Sedangkan dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng), yang berputra Karebet atau Jaka Tingkir. Jaka tingkir adalah raja Pajang pertama (tahun 1568 M) dengan gelar Sultan Pajang atau Pangeran Adiwijaya.

Nama aslinya Muhammad Hasyim, Asy’ari merupakan nama sang ayah, sedangkan gelar Hadratussyaikh disematkan oleh ulama internasional kepadanya atas kepakarannya dalam ilmu agama khususnya hadis. Ia mendirikan Pesantren Tebuireng pada 1899 sepulang dari Mekkah, sebuah pesantren terkemuka yang melahirkan banyak ulama dan tokoh karismatik.

Caranya dalam menentang kolonialisme terbilang unik. Ia yang sedari remaja hingga dewasa hidup di pesantren di luar Jombang, bahkan ke Mekkah selama hampir satu windu sangat kaget di lingkungan sekitar rumahnya di Desa Keras telah sedemikian rupah dirusak Belanda. Pilihannya mendirikan pesantren di dusun kecil Tebuireng yang dekat dengan tempat bisnis prostitusi milik cukong-cukong Belanda dan Pabrik Gula Tjoekir yang menjadi sentra penjajahan ekonomi, banyak yang mengaggapnya gila.

Betul-betul menantang badai. Beberapa kali pesantrennya dirusak, diganggu,  bahkan beberapa kali dibakar habis, tetap tak bergeming dari perjuangannya. Bahkan semakin maju, semakin ramai, dan mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi warga yang terkoyak akibat politik siklus ekonomi yang dibuat Belanda.

Tak hanya itu, Kiai Hasyim juga melakukan perlawanan tidak hanya dengan pendekatan agama, tapi juga ekonomi dan sosial. Kiai Hasyim bersama santri-santrinya mengajak warga semangat lagi bercocoktanam, tidak menjual tanah dan hasil bumi dengan harga murah kepada Belanda, berdagang, dan bisnis.

Tahun 1920 Pesantrennya dibakar, dibangun lagi, makin ramai dan santrinya menjadi ratusan. Kegigihannya ini membuat Belanda sedikit kesusahan. Akhirnya menggunakan cara-cara bujukan dan rayuan jabatan dan harta. Tahun 1922, Ratu Wilhelmina mengirim surat kepada residen Surabaya untuk Kiai Hasyim agar menawarinya bintang jasa emas dan perak dengan syarat menghentikan perjuangannya dan menutup pesantren. Kiai Hasyim menolak dengan tegas. Sejak saat itu, Belanda mulai melakukan bujukan-bujukan lain, sampai revolusi fisik 1940. Tapi selalu ditolak oleh Kiai Hasyim. Gagal maning-gagal maning.

Jangan dibayangkan Kiai Hasyim bersikap kasar kepada Belanda yang datang ke kediamannya. Justru Kiai Hasyim sangat lembut, menolak dengan sopan, berbicara tegas tapi tidak menyakitkan. Bahkan dijamu dan disuguhi makanan. Sikap itu sempat membuat warga heran, bahkan ada yang menuduh Kiai Hasyim sudah pro panjajah. Padahal sikap itu dibuat, dalam rangka mengelabuhi Belanda, bahwa pesantren sedang berdamai dengan mereka, pada asalnya terus melanjutkan dakwah dan perjuangan dengan cara yang lebih strategik. Termasuk, bertani, bisnis, dan berdagang. 

Tahun 1926 atas inisiasi dari muridnya KH. Abdul Wahab Hasbullah ia menyetujui dan meresmikan organisasi Islam yang kini terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. Dalam perjuangan lintas generasi, NU selalu berada dalam garis depan dalam memperjuangankan kepentingan bangsa.

Pergantian penjajahan dari Belanda ke Jepang tak menyurutkan perjuangannya melawan penjajah. Sifat teguhnya tersebut berimbas pada penahannya selama 4 bulan di Mojokerto dan Surabaya sejak April-Agustus 1942. Bahkan siksaan fisik juga dialaminya bersama para santri, saat ia menolak Seikerei, ritual membungkuk ke arah mata hari sebagai penghormatan pada Dewa Matahari.

Dalam organisasi pergerakan umat Islam Indonesia, Kiai Hasyim pernah juga menjadi Ketua Shumubu, kantor urusan agama bentukan Jepang. Pada 07 November 1945 menjadi mendirikan dan didapuk menjadi pimpinan Majlis Syukro Muslimin Indonesia (Masyumi). Jelang penjajahan Jepang, Kiai Hasyim juga pernah memimpin Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI) di Surabaya.

Yang paling visioner dan bombastis adalah fatwanya untuk mengobarkan semangat jihad melawan Penjajah. Pada 22 Oktober 1945, ia menfatwakan Resolusi Jihad yang berisi tentang kewajiban turun ke medan perang bagi umat Islam, termasuk laskar-laskar kiai-santri, Hizbullah dan Sabilillah. Seruannya ini telah mempengaruhi pertempuran-pertempuran setelahnya, termasuk pertempuran 10 November di Surabaya.

Keperihatinan dan perhatiannya pada perjuangan bangsa tak pernah usai hingga jelang kewafatannya. Kiai Hasyim Asy’ari meninggal pada Pada pukul 03.00 dini hari, bertepatan dengan tanggal 25 Juli 1947 atau 7 Ramadhan 1366 H, Hadratuys Syeikh KH.M. Hasyim Asy’ari setelah mengetahui pasukan sekutu sudah menyerang Malang dan sekitarnya. Inna liLlahi wa Inna Ilaihi Raji’un. 

Atas jasanya selama perang kemerdekaan melawan Belanda (1945-1947), terutama yang berkaitan dengan 3 fatwanya yang sangat penting: Pertama, perang melawan Belanda adalah jihad yang wajib dilaksanakan oleh semua umat Islam Indonesia. Kedua, kaum Muslimin diharamkan melakukan perjalanan haji dengan kapal Belanda. Ketiga, Kaum Muslimin diharamkan memakai dasi dan atribut-atribut lain yang menjadi ciri khas penjajah. Maka Presiden Soekarno lewat Keputusan Presiden (Kepres) No. 249/1964 menetapkan bahwa KH. Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai Pahlawan Nasional.

🤔  Alissa Wahid: Gus Dur Lebih Senang Ditertawakan

Abdul Wahid Hasyim

Abdul Wahid Hasyim merupakan pengasuh kedua Pesantren Tebuireng; memimpin Tebuireng selama tiga tahun (1947 – 1950). Salah seorang anggota BPUPKI dan perumus Pancasila ini, merupakan reformis dunia pendidikan pesantren dan pendidikan Islam Indonesia pada umumnya. Pahlawan nasional ini juga dikenal sebagai pendiri perguruan tinggi agam Islam (STIN/IAIN/UIN) dan merupakan Menteri Agama tiga kabinet (Kabinet Hatta, Kabinet Natsir, dan Kabinet Sukiman).

Ia lahir di Pesantren Tebuireng Jombang pada Jum’at legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 H./1 Juni 1914 M dari pasangan KH. M. Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqoh. Kepiwaiannya dalam diplomasi, negosiasi, dan pembaharuan sistem dan konsep sedari kecil terlihat. Ia bahkan belajar bahasa asing, mamasukkan majalah-majalah dan buku-buku berbahasa Indonesia dan Belanda, mengajari santri berbahasa Belanda, tindakan yang tabu saat itu di pesantren.

Pada tahun 1947, ketika sang ayah meninggal dunia, Kiai Wahid terpilih secara aklamasi sebagai pengasuh Tebuireng. Pilihan ini berdasarkan kesepakatan musyawarah keluarga Bani Hasyim dan Ulama NU Kabupaten Jombang. Terpilihnya Kiai Wahid sebenarnya sekadar ”formalisasi”, karena kenyataannya beliau sudah lama ikut membantu sang ayah mengelola Tebuireng.

Pada tahun 1950, Kiai Wahid diangkat menjadi Menteri Agama dan pindah ke Jakarta. Keluarga Kiai Wahid tinggal di Jl. Jawa (kini Jl. HOS Cokroaminoto) No. 112, dan selanjutnya pada tahun 1952 pindah ke Taman Matraman Barat no. 8, di dekat Masjid Jami’ Matraman.

Namun, yang lebih fenomenal dari itu, di usia yang muda, keterlibatannya dalam pergerakan kemerdekaan sangat menggelora. Pada tahun 1939, NU masuk menjadi anggota Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), sebuah federasi partai dan ormas Islam di Indonesia. Setelah masuknya NU, dilakukan reorganisasi dan saat itulah Kiai Wahid terpilih menjadi ketua MIAI, dalam Kongres tanggal 14-15 September 1940 di Surabaya pada usia 26 tahun.

Di bawah kepemimpinan Kiai Wahid, MIAI melakukan tuntutan kepada pemerintah Kolonial Belanda untuk mencabut status Guru Ordonantie tahun 1925 yang sangat membatasi aktivitas guru-guru agama. Bersama GAPI (Gabungan Partai Politik Indonesia) dan PVPN (Asosiasi Pegawai Pemerintah), MIAI juga membentuk Kongres Rakyat Indonesia sebagai komite nasional yang menuntut Indonesia berparlemen.

Menjelang pecahnya Perang Dunia ke-II, pemerintah Belanda mewajibkan donor darah serta berencana membentuk milisi sipil Indonesia sebagai persiapan menghadapi Perang Dunia. Sebagai ketua MIAI, Kiai Wahid Hasyim menolak keputusan itu.

Ketika pemerintah Jepang membentuk Chuuo Sangi In, semacam DPR ala Jepang, Kiai Wahid dipercaya menjadi anggotanya bersama tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya, seperti Ir. Soekarno, Dr. Mohammad Hatta, Mr. Sartono, M. Yamin, Ki Hajar Dewantara, Iskandar Dinata, Dr. Soepomo, dan lain-lain. Melalui jabatan ini, Kiai Wahid berhasil meyakinkan Jepang untuk membentuk sebuah Badan Jawatan Agama guna menghimpun para ulama.

Pada tahun 1942, Pemerintah Jepang menangkap Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari dan menahannya di Surabaya. Kiai Wahid Hasyim berupaya membebaskannya dengan melakukan lobi-lobi politik. Hasilnya, pada bulan Agustus 1944, Kiai Hasyim Asy’ari dibebaskan. Sebagai kompensasinya, Pemerintah Jepang menawarinya menjadi ketua Shumubucho, Kepala Jawatan Agama Pusat. Kiai Hasyim menerima tawaran itu, tetapi karena alasan usia dan tidak ingin meninggalkan Tebuireng, maka tugasnya dilimpahkan kepada Kiai Wahid.

Pada tanggal 29 April 1945, pemerintah Jepang membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyooisakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dan Kiai Wahid menjadi salah satu anggotanya. Dia merupakan tokoh termuda (31 tahun) dari sembilan tokoh nasional yang menandatangani Piagam Jakarta, sebuah piagam yang melahirkan proklamasi dan konstitusi negara. Dia berhasil menjembatani perdebatan sengit antara kubu nasionalis yang menginginkan bentuk Negara Kesatuan, dan kubu Islam yang menginginkan bentuk negara berdasarkan syariat Islam. Saat itu ia juga menjadi penasihat Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Di dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Sukarno (September 1945), Kiai Wahid ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Sjahrir tahun 1946. Ketika KNIP dibentuk, Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP tahun 1946.

Setelah terjadi penyerahan kedaulatan RI dan berdirinya RIS, dalam Kabinet Hatta tahun 1950 dia diangkat menjadi Menteri Agama. Jabatan Menteri Agama terus dipercayakan kepadanya selama tiga kali kabinet, yakni Kabinet Hatta, Natsir, dan Kabinet Sukiman.

Jasa lainnya ialah pendirian Sekolah Tinggi Islam di Jakarta (tahun 1944), yang pengasuhannya ditangani oleh KH. Kahar Muzakkir. Lalu pada tahun 1950 memutuskan pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kini menjadi IAIN/UIN/STAIN, serta mendirikan wadah Panitia Haji Indonesia (PHI). Kiai Wahid juga memberikan ide kepada Presiden Soekarno untuk mendirikan masjid Istiqlal sebagai masjid negara.

Hari itu, Sabtu 18 April 1953, Kiai Wahid bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Kiai Wahid ditemani tiga orang, yakni sopirnya dari harian Pemandangan, rekannya Argo Sutjipto, dan putera sulungnya Abdurrahman Ad-Dakhil (Gus Dur). Kiai Wahid duduk di jok belakang bersama Argo Sutjipto. Daerah di sekitar Cimahi waktu itu diguyur hujan lebat sehingga jalan menjadi licin. Lalu lintas cukup ramai.

Sekitar pukul 13.00, ketika memasuki Cimindi, sebuah daerah antara Cimahi-Bandung, mobil yang ditumpangi Kiai Wahid selip dan sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakangnya banyak iringan-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan, sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag. Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan kerasnya. Ketika terjadi benturan, Kiai Wahid dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah berhenti itu.

Kiai Hasyim dan Argo Sutjipto kemudian dibawa ke Rumah Sakit Boromeus Bandung. Sejak mengalami kecelakaan, keduanya tidak sadarkan diri. Keesokan harinya, Ahad, 19 April 1953 pukul 10.30, KH. Abdul Wahid Hasyim dipanggil ke hadirat Allah Swt. dalam usia 39 tahun. Jenazah Kiai Wahid kemudian dibawa ke Jakarta, lalu diterbangkan ke Surabaya, dan selanjutnya dibawa ke Jombang untuk disemayamkan di pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng.

Masih banyak pahlawan dari Tebuireng yang layak seharusnya diangkat, seperti Kiai Kholiq Hasyim, KH Yusuf Hasyim, dan lain sebagainya. Kedua tokoh itu, juga ikut serta secara fisik dan spiritual membantu kemerdekaan Indonesia dan perjuangan pasca kemerdekaan. Insyallah lain kali akan kami ulaskan lagi. Selamat Hari Pahlawan Nasional, 10 November 2019.


*disarikan dari berbagai sumber