sumber gambar: santri Tebuireng ngaji kitab di masjid Pesantren Tebuireng.

Oleh: KH. M. Ishaq Latief*

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. (Al-Taubah: 122)

Berdasarkan analisis ayat tersebut, maka tugas dari santri itu ada dua macam: 1) Tugas ke dalam, 2) Tugas ke-luar.

Tugas ke dalam yang dimaksud adalah santri wajib memperdalam ilmu pengetahuan agama, baik lewat jalur sekolah (formal) maupun jalur pengajian-pengajian (informal), baik yang ada di Pesantren Tebuireng atau di luar Tebuireng, misalnya di Pacul Gowang. Mengobservasi (mengkaji) kitab-kitab kuning harus didorong dan didukung oleh kekuatan yang timbul dari dalam hatinya sendiri (internal), maupun dorongan dari luar (eksternal).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pada zaman KH. M. Hasyim Asy’ari, ada istilah yang unik dan antik. Orang-orang dulu mondok sambil sekolah, orang-orang sekarang sekolah sambil mondok. Akibatnya, pondok Cuma sekedar tempat kos. Sehingga kesadaran untuk mengkaji kitab-kitab kuning bisa dihitung dengan ujung jari. Ini bisa dihitung dari komplek ke komplek, akhirnya sekolah libur penghuninya kabur.

Tugas besar pesantren, Sebagai lembaga keagamaan dan keilmuan, pesantren bertugas menjadi pelestari keilmuan Islam, secara luas dan menyeluruh (integral). Dan sebagai pendidik masyarakat. Pesantren bertugas menjadi kekuatan pendukung (motivator), penggerak (dinamisator), dan pembaharu (inovator) kehidupan masyarakat.

Tugas ke luar tugas ke luar ini cukup berat, karena ilmu pengetahuan yang harus dikuasai, baik ilmu pengetahuan agama dan sebagai penunjangnya ilmu pengetahuan umum, yaitu untuk menyampaikan peringatan, menunjukkan jalan yang benar kepada masyarakat. Baik secara mikro (kelompok kecil), maupun secara makro (kelompok besar). Dengan kata lain, baik lingkup kecil maupun lingkup besar dan luas.

Tugas ke luar ini banyak tantangannya, rintangannya, kendalanya. Tapi tugas ini suci dan mulia. Insyaallah tugas ini sukses kalau ditunjang dengan beberapa faktor: Faktor pertama, harus ikhlas dan semata-mata mencari rida Allah. Disertai dengan ketekunan, ketelatenan, konsisten, kesabaran, dan ketabahan hati.

Kita harus punya pijakan dan punya landasan yang kuat dan mantap dari sebuah hadis:

 رويت عن عائشة رضي الله عنها عن النبي صلى الله عليه وسلم انه قال: من التمس رِضا اللهِ بسخَطِ الناسِ ؛ رضِيَ اللهُ عنه ، وأرْضى عنه الناسَ ، ومن التَمس رضا الناسِ بسخَطِ اللهِ ، سخِط اللهُ عليه ، وأسخَط عليه الناسَ  (تنبيه الغافلين 174)

Siapa orang semata-mata mencari Rida Allah, sedang manusia (masyarakat) membencinya, maka Allah tetap meridainya. Dan akhirnya, masyarakat pun ikut meridainya (mendukungnya). Dan siapa orangsemata-mata mencari rida manusia (mencari pujian dan sanjungan masyarakat) dengan membenci Allah, maka Allah membencinya/mengutuknya. Dan seluruh manusia dan lapisan masyarakat ikut membencinya dan mengutuknya.

Karena tujuan menyebarkan agama sudah salah niat, mestinya semata-mata mencari rida Allah, tapi ada udang di balik batu. Akhinya, semua yang direncanakan dan dicanangkan menjadi berantakan dan gulung tikar. Dan masyarakat pun akan meninggalkan.

قال المام فخر الدين الرازي وفي الاية دليل عَلَى أَنَّهُ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ الْمَقْصُودُ مِنَ التَّفَقُّهِ وَالتَّعَلُّمِ دَعْوَةَ الْخَلْقِ إِلَى الْحَقِّ، وَإِرْشَادَهُمْ إِلَى الدِّينِ الْقَوِيمِ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَمَنْ عَدَلَ عَنْهُ وَطَلَبَ الدُّنْيَا بِالدِّينِ كَانَ مِنَ الْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا

Menurut interpretasi Imam Fakhrudin Al-Razi dalam tafsirnya, ayat di atas menjadi dalil dan petunjuk yang kuat. Bahwa maksud dan tujuan kita memperdalam ilmu pengetahuan agama, kita dituntut mengajak dan menyeru kepada masyarakat untuk menuju kebenaran yang hakiki dan menunjukkan kepada agama yang lurus (Islam) dan jalan yang lurus untuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Bila kita santri berpindah, berpaling, dan bertolak belakang dari tujuan di atas—artinya menuntut ilmu semata-mata mencari rida Allah—maka kita termasuk orang-orang yang paling rugi usahanya (amalnya).

Kita harus ingat, siapa orang menanam padi, rumput pasti tumbuh. Dan siapa orang menanam rumput, jangan diharapkan padi akan tumbuh.

Demikianlah sekelumit kata yang mampu saya sumbangkan kepada para peserta pengajian Tafsir Ibnu Abbas. Semoga ada guna dan manfaatnya. Bagi si pembaca, untuk memberi dorongan dan semangat untuk mengkaji dan memperdalam kitab-kitab kuning.

Dengan harapan semoga semua ilmu yang sudah saya ajarkan dan saya sampaikan, Allah menjadikan ilmu yang bermanfaat dan barokah untuk Nusa dan Bangsa. Terutama untuk agama menuju cita-cita Izzu al-Islam wa al-Muslimin, Amin Amin, Amin, Ya Rabb al-‘Alamin.

Bila keterangan dan uraian di atas itu benar, maka kebenaran yang absolut semata-mata datang dari Allah. Bila uraian dan penyuguhan keterangan di atas ternyata banyak salah, itu semata-mata karena kebodohan pribadi saya.

Ada waktu pertemuan, pasti ada waktu perpisahan. Berpisah sementara di dunia dan berkumpul bersama di surga Allah.

Tebuireng, 21 Mei 1995 M/21 Dzulqa’dah 1415 H

Pertapaan Kawah Condrodimuko

Ditranskip oleh Yuniar Indra dari unggahan akun instagram @alumnitebuireng.mojokerto, arsip tulisan tangan KH. Ishaq Latif yang disimpan rapi oleh Dr. Subandi Rais.

SebelumnyaTingkatkan Kualitas SDM, Tebuireng Online Adakan Pelatihan Kepenulisan Berita dan Feature
Berikutnya4 Kriteria Manusia Menurut Imam Ghazali