
Tebuireng.online– Pembukaan rangkaian Mu’tamar Turats Nabawi (MUTUN) 2025 di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Sabtu (06/12/2025), menjadi panggung bagi Dr. Ubaydi Hasbillah untuk menyampaikan gagasan penting mengenai masa depan ilmu hadis dan peran pesantren dalam merespons isu krisis lingkungan. Memberi sambutan pada acara Seminar Literasi Ekonomi Syariah yang menggandeng Pegadaian, Dr. Ubaid menegaskan bahwa MUTUN bukan sekadar forum ilmiah, tetapi gerakan pemikiran yang membawa hadis “turun ke bumi”.
Dalam sambutannya, Dr. Ubaid menyampaikan bahwa suksesnya penyelenggaraan MUTUN perdana tidak terlepas dari dukungan Pegadaian sebagai sponsor utama. Namun, lebih jauh dari itu, ia menekankan bahwa MUTUN hadir untuk menjawab kebutuhan zaman.
Baca Juga: Ma’had Aly Gandeng Pegadaian, Seminar Literasi Keuangan Jadi Pembuka MUTUN 2025
“Rangkaian Mu’tamar Turats Nabawi, insyaAllah, akan menjadi agenda tahunan berskala internasional. Ma’had Aly memiliki kapasitas merespons berbagai isu yang berkembang, sehingga ilmu hadis tidak berhenti sebagai wacana yang melangit tetapi harus membumi dan memberikan solusi nyata,” tegasnya.
Dr. Ubaid menyoroti fenomena krisis lingkungan yang semakin nyata. Menurutnya, pembangunan wisata alam, gedung tinggi, dan proyek besar sering kali menyisakan kerusakan ekologis.
“Banyak destinasi wisata yang indah di permukaan, tapi di baliknya merusak lingkungan. Gedung-gedung terus tumbuh, tetapi banjir tetap terjadi karena air tidak punya ruang resapan,” ungkapnya.
Ia mencontohkan banjir bandang di wilayah Sumatera, yang terjadi meskipun kawasan tersebut memiliki hutan lebat dan dataran tinggi. “Ini menunjukkan ada kerusakan serius yang harus segera diidentifikasi,” lanjutnya.
Sebagai institusi yang hidup dalam tradisi keilmuan, pesantren memiliki posisi strategis untuk memberikan respons teologis terhadap persoalan lingkungan. Karena itu, Dr. Ubaid memperkenalkan gagasan paradigma eko-sunnah atau eko-hadis.
Menurut Dr. Ubaid, eko-sunnah adalah upaya menghadirkan ilmu hadis dengan perspektif ekologis, sehingga melahirkan ilmuwan yang bukan hanya memahami teks, tetapi mampu melihat dampaknya terhadap keberlanjutan alam.
Baca Juga: Kiai Roziqi Sebut Keilmuan dan Keuangan Harus Terhubung, Mahasantri Perlu Melek Literasi Finansial
“Melalui Ma’had Aly, kita berupaya memopulerkan paradigma eko-sunnah dengan mencetak ilmuwan hadis yang memiliki perspektif ekologis. Dengan ini, ilmu tidak hanya bergema di langit, tetapi bergerak di bumi,” tuturnya.
Ia juga mengapresiasi BST yang telah menginisiasi gagasan besar ini. “Ini bentuk khidmah kita untuk dunia dalam membangun gerakan eko-sunnah,” pungkasnya.
Acara seminar yang menjadi pintu pembuka MUTUN 2025 ini berjalan lancar dari pukul 08.00 hingga 11.30 WIB dan melibatkan mahasantri Tebuireng, delegasi pesantren, serta para kepala sekolah. Rangkaian MUTUN 2025 akan berlanjut dengan sejumlah kegiatan akademik hingga pertengahan Desember.
Pewarta: Aulia Rachmatul Ummah
Editor: Rara Zarary


















