Doa Manusia Kehausan

Ilustrasi: www.google.com

Oleh: Rara Zarary*

Tidak.

Kali ini, aku tak ingin bicara soal kenangan. Genangan. Atau apapun yang hanya sampai di hati, tersimpan. Namun hilang dipertengahan harapan manusia-manusia yang tengah terancam.

Bukan.

Ini tak akan lagi bicara soal perasaan. Namun lebih sebuah empati yang menyentuh, mendinginkan ingatan. Mendamaikan dan menghangatkan dalam pelukan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tuhan.

Siramilah…

Kami dengan hujan-hujan yang tak akan lagi kami pertanyaan, atau bahkan kami laknat sebagai pengutus ingatan. Ada air mata mendidih, di sana. Suara parau dengan doa berulang, di sana.

Merintih, mengeluh, bahkan ada yang tak sanggup bertahan, menganga. Di sana, di sudut daerah di Indonesia. Saudara-saudara kami, suara mereka yang meminta padamu, yang mengemis, dan memohon.

Siramilah…

Tuhan.

Kami dengan keberkahan.

Siramilah…

Tuhan.

Kami dengan kedamaian. Padamkan segala gejolak yang sesak. Setiap bara yang merana. Segenap duka yang hanya dibayar dengan air mata tak seapa.

Siramilah…

Tuhan.

Lenyap, amarah.

Haus, terbayar sudah. 

🤔  Seperti Kisah Qais & Laila