Sumber gambar : www.google.com

Oleh: Ustadz Yusuf Suharto*

Fenomena banyaknya penggemar dan pecinta shalawatan dari kalangan masyarakat merupakan sesuatu yang sangat menggembirakan. Karena membaca shalawat itu adalah metode yang pas untuk mengenalkan Islam. Shalawat adalah ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Dan tanda cinta itu diantaranya adalah dengan kerap kali menyebutnya.

Mengapa kaum muslimin harus bershalawat? Karena bershalawat itu adalah bagian dari ungkapan rasa syukur atas keislaman kita yang tentu melalui Rasulullah.
Sebagaimana penuturan hadis di bawah ini:

لا يشكر الله من لا يشكر الناس

“(Dianggap) tidak bersyukur kepada Allah, manusia yang tidak bersyukur kepada manusia.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kenapa muslim nusantara mentradisikan shalawatan dalam majelis-majelis pertemuan, atau bershalawat ketika di akhir acara? Karena ada hadis bahwa tiadalah suatu komunitas itu duduk bersama kemudian berpisah tanpa membawa shalawat kepada Rasulullah, kecuali mereka bubar dalam keadaan lebih busuk daripada bangkai.

ما جلس قوم مجلسا ثم تفرقوا عن غير صلاة على النبي إلا تفرقوا على أنتن من ريح الجيفة

Shalawat dengan demikian adalah ibadah yang paling utama, walau tentu pada dasarnya membaca Al-Quran adalah ibadah yang paling utama. Dinyatakan bahwa shalawat yang ada di dalam ayat Al-Quran itu lebih utama daripada ayat Al-Quran yang tidak ada shalawatnya.

Demikian utamanya shalawat, dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 56, Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi Muhammad, dan memerintahkan manusia beriman untuk bershalawat dan bersalam kepada Nabi Muhammad.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat- malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Ada dua zikir yang tanpa tahu maknanya pun tetap berpahala, yaitu membaca Al-Quran dan bershalawat.  Keistimewaan shalawat itu tak terbatas, di antaranya adalah menyebabkan turunnya rahmat, menghapus dosa, mendatangkan hajat, menghilangkan problem yang sulit, menerangi hati, dan mendinginkan hati (menghilangkan panasnya tabiat). Sehingga orang yang gemar bershalawat itu bawaannya anteng dan menyejukkan.

Lebih dari itu, terkait dengan fungsi menghilangkan panasnya diri ini dinyatakan dalam kitab Is’adur Rafiq, syarh kitab Sulam at-taufiq :

ولا شيء أنفع منها لتنوير القلوب، واختصت من بين الأفكار بأنها تذهب حرارة الطباع

“Tidak ada sesuatu yang lebih manfaat untuk menerangi hati daripada shalawat. Shalawat mengkhususkan di antara pikiran-pikiran karena sesungguhnya shalawat dapat menghilangkan panasnya watak (karakter jelek).”

Di antara kesunnahan berdoa itu adalah membaca hamdalah atau memuji Allah kemudian bershalawat, lalu berdoa dan doanya diakhiri dengan hamdalah atau pujian dan shalawat. Imam Nawawi dalam Al Adzkar menyampaikan bahwa hal ini ada kesepakatan para ulama untuk memulai doa dengan dua hal tersebut, juga untuk menutup doa.

Dan pada zamannya (akhir zaman), ketika sudah tidak ada Mursyid (pembimbing rohani) yang memenuhi syarat, maka bershalawat adalah yang utama. Karena bershalawat itu tidak membutuhkan guru pembimbing. Walau tentu, adanya guru pembimbing itu lebih baik.

Sebagian ahli makrifat menyatakan bahwa shalawat itu dapat mengantarkan makrifat, meskipun tanpa syaikh (guru pembimbing), karena guru dan sanadnya langsung dari Rasulullah. Dinyatakan bahwa shalawat itu tidak perlu guru (syaikh) sebagaimana tercantum, misalnya dalam I’anah at-Thalibin juz 1 halaman 7 dan Hasyiyah as-Shawy juz 3 halaman 287:

إنها توصل إلى الله من غير شيخ، بخلاف غيرها من الأذكا

“Sesungguhnya shalawat bisa mengantarkan makrifat kepada Allah meskipun tanpa dari guru, berbeda dengan selain shalawat seperti dzikir-dzikir.”

*Aswaja Center Nadlatul Ulama Jombang.