Sumber gambar: https://www.hipwee.com/list/7-nasihat-maulana-jalaludin-rumi-agar-hidup-menjadi-lebih-baik/

Oleh: Silmi Adawiya*

Jalaluddin Rumi adalah tokoh sufi yang dikenal dengan jalan sufinya melalui jalan cinta (Mistikus Cinta). Berbagai karyanya banyak memperkenalkan jalan cinta (Mistikus Cinta), seperti Matsnawi, Fihi ma fihi, Maktubat, dan beberapa karya lainnya seperti Diwani Syamsi tabrizi yang berisi syair-syair religius.

Puisi adalah salah satu sarana yang biasa digunakan oleh para sufi untuk mengungkapkan keadaan batin mereka. Para sufi yang biasa melakukan hal tersebut adalah Rabiah al Adawiyah, Yahya ibn Mu’adzal, Razi al Halaj, Umar ibn al Farid, dan Jalaluddin Rumi. Jalaluddin Rumi dan Umar ibn al Farid berpendapat bahwa puisi adalah sarana paling tepat untuk mengungkapkan realitas secara sentimental.

Sungguh banyak orang yang terkesima dengan bait-bait puisi Jalaluddin Rumi, yang di dalamnya selalu terajut mahabbah, bagai lautan yang tidak bertepi dalam diwandiwannya, ia mampu mengungkapkan dengan ke dalam tanpa dasar, terbang tinggi menerobos langit-langit tanpa atap. Diantara puisinya yang fenomenal adalah sebagai berikut:

Cinta bagaikan sayap

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

dengannya manusia terbang di angkasa

menggerakkan ikan menuju jala sang nelayan

menghantar si kaya meraih bintang di langit ketujuh

Cinta berjalan di gunung maka gunungpun bergoyang menari

(Jalaluddin Rumi: 1707)

Mistis dalam ajaran Rumi lewat konsep cinta merupakan jalan untuk sampai pada kesempurnaan. Ia merupakan jalan membersihkan diri sehingga bisa mengantarkan manusia sampai pada TuhanNya.

Rumi metaforkan cinta seperti sayap, agar dapat terbang tinggi menemui Tuhannya. Dengan terbang tinggi manusia bisa melampaui rute-rute darat yang cukup rumit, bisa melihat keluasan bumi dan menghalau pandangan yang rabun, serta  memiliki pengetahuan lebih luas dari pandangan darat yang hanya bisa melihat sekelilingnya dengan sekat-sekatnya, tapi terbang melampaui sekat-sekat bumi dan bahkan dapat melihat sekat itu sendiri dari berbagai arah yang kemudian menerobosnya.

Dalam ajaran sufi yang cukup menonjol adalah mahabbah. Di mana sang Maulana Jalaluddin Rumi adalah tokoh yang tertkemuka dalam hubungan dengan ajaran mahabbah. Dalam karya-karya Rumi, mahabbah menjadi tema sentral. Kita akan mudah menemukan ajaran-ajaran mahabbah dalam tiap karya Rumi, terutama dalam Diwan. Begitu menonjolnya ajaran mahabbah dalam tasawuf Rumi, menjadi para pengikut aliran Mevlivis yang merupakan penerus ajaran Rumi menempatkan mahabbah pada Tuhan menjadi prinsip ajarannya.

Metafor yang digunakan oleh Rumi tentang cinta yang juga sangat menarik adalah Cinta berjalan di gunung, maka gunung pun bergoyang menari. Gunung adalah sesuatu yang besar, mewah dan megah. Kebesarannya sering dijadikan perumpamaan dalam Al Quran atau dalam karya sastra lainnya. Lihat saja bagaimana ketika gunung memuntahkan laharnya, sekelilingnya mengalami gempa yang cukup dahsyat. Walau gunung begitu gagah, tapi ketika cinta melintas dipunggungnya, gunung akan kegelian dan akan menari-nari, mengikuti arus cinta yang melintasnya.

Bagaimana gunung marah ketika sang kekasihnya Rasulullah SAW dilempari batu oleh penduduk Thaif, ia akan menghacurkan dan akan mengubur penduduk Thaif jika Rasulullah berkenan, tapi Rasulullah melarangnya, karena ada cinta lain yang lebih indah untuk dipertahankan. Kegagahan, kedisiplinan, dan kekokohan gunung akan mampu ditaklukkan oleh cinta, ia tidak akan dapat berbuat apa-apa jika cinta menyapanya. Sungguh bait puisi yang indah, dalam imaji dan metafornya.

Rumi dalam puisi yang lain, menoktahkan cinta cukup indah, bagaimana cinta tak pernah peduli dengan apa yang dialaminya, ia rela diserang penyakit, bahkan penyakit itu memang ditunggunya, dan tidak ingin mencari obatnya, semakin didera semakin mengasyikkan, itulah pencinta sebagaimana Yusuf ingin berlama-lama dalam penjara karena memelihara cintanya pada Allah, atau sebagaimana Zulaiha rela dibakar mentari, dan disaljukan rembulan karena menunggu cinta Yusuf ; Dengan penuh cintanya Rumi menuliskan:

Cinta bagaikan penyakit tanpa obat

setiap penderita meminta ditambahkan penderitaannya

dengan suka cita mereka berharap kepedihan dan derita dilipatgandakan

Takkan ada minuman di dunia yang manisnya melebihi racun ini

Takkan ada lagi kesehatan di dunia yang lebih baik dari penyakit ini

Cinta memanglah penyakit

Tetapi penyakit yang menyembuhkan semua penyakit

siapa saja yang pernah mengidapnya

takkan pernah lagi menderita penyakit lain

(Jalaluddin Rumi : 1807)


*Mahasiswi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, alumnus Unhasy dan PP Walisongo Cukir.

SebelumnyaNegeri Ilusi
BerikutnyaSantri Tebuireng Kunjungi Warga Panti Jompo