Kitab Misykatul Anwar karya Abu Hamid al-Ghazali

Mukadimah

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah, Tuhan pelimpahan cahaya-cahaya, pembuka penglihatan (mata hati), pengungkap rahasia-rahasia dan penyibak tirai-tirai. Sholawat serta salam semoga tercurahkan terhadap Nabi Muhammad Saw., Cahaya segala cahaya, pemimpin orang yang senantiasa beramal shaleh, kekasih Dzat yang maha perkasa, pembawa berita gembira dari Dzat yang Maha Pengampun, penyampai ancaman dari Dzat yang maha penguasa dan pembuka tabir kepalsuan kaum yang durhaka. Demikian pula shalawat dan salam semoga tercurahkan untuk keluarga dan sahabatnya yang baik-baik, yang tersucikan, dan yang terpilih.

Amma ba’du

Sungguh anda telah memohon kepada saya (Imam al-Ghazali), wahai saudaraku yang mulia, semoga Allah membimbingku untuk memperoleh kebahagian yang tergabung, mendidiknya untuk naik menuju puncak yang tertinggi, menyinari pandangan hatimu dengan cahaya hakikat, menyucikan hati nuraninya dari segala sesuatu selain yang hak. Anda meminta kepadaku agar mengungkapkan kepadamu rahasia cahaya-cahaya ilahi disertai dengan ta’wil/makna tersembunyi di balik pengertian harfiyah (dhohir ayat) Al-Quran yang ditilawahkan dan hadis-hadis nabi yang diriwayatkan. Seperti halnya firman Allah:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لا شَرْقِيَّةٍ وَلا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu,” (QS. An Nur Ayat 35).

Lalu mengapa Allah membuat perumpamaan dengan misykat, kaca, pelita, minyak dan pohon? Demikian pula sabda Nabi Muhammad SAW:

Allah memiliki 70.000 hijab (tirai penutup) cahaya dan kegelapan. Seandainya Ia menyingkapnya niscaya cahaya-cahaya wajah-Nya akan membakar siapa saja yang memandangnya.”

Sungguh dengan mengajukan permohonan itu anda telah mendaki puncak yang tinggi yang amat sulit. Demikian tingginya sehingga puncaknya tidak bisa dijangkau oleh mata yang memandangnya. Anda telah mengetuk pintu yang terkunci yang hanya bisa dibuka oleh ulama’ yang sangat mendalam ilmunnya dan kuat pijakannya.

Kemudian dari itu, tidak semua rahasia dapat diungkapkan dan disebarkan. Tidak semua hakikat boleh ditampakkan dan dijelaskan. Bahkan hati orang-orang merdeka menyimpan berbagai rahasia. Hal ini juga pernah disampaikan oleh seorang arif: “mengungkapkan rahasia ilahi adalah bentuk kekufuran.”

Hal ini juga diperjelas oleh Rasulullah, Sayyidnya orang terdahulu dan kemudian dalam sabdanya:

ان من العلم كهيئة المكنون لا يعلمه الا العلماء باالله

Diantara berbagai ilmu ada yang tersembunyi, tidak seorangpun yang dapat mengetahuinya kecuali ulama yang memperoleh ilmu tentang Allah dengan izin-Nya.”

Jika ulama itu menyampaikan maka tidak akan ada yang bisa mengingkari kecuali orang yang tertipu. Dikarenakan banyaknya orang yang tertipu maka wajib lah menjaga rahasia dari orang-orang yang bermaksud buruk.

Tetapi aku lihat hatimu dilapangkan oleh Allah SWT dengan nur-Nya, dibersihkan hatinya dari gelapnya tipuan. Oleh sebab itu sudah selayaknya aku tidak bersikap pelit dengan memenuhi permintaan anda untuk memberikan petunjuk, isyarat terhadap kilatan, penjelasan, tanda -tanda terhadap hakikat-hakikat dan kelembutan.

Sebab kekhawatiran perbuatan merahasiakan ilmu dari ahlinya tidaklah lebih kecil keburukannya dari menyebarkannya kepada orang-orang yang bukan ahlinya. Seperti halnya kata seorang penyair:

فمن منح الجهال علما اضاعه# ومن منع المستوجبين فقد ظلم

Barangsiapa memberikan ilmu kepada orang yang tak patut menerimanya sungguh dia telah menyia-nyiakan # Barangsiapa mencegah ilmu dari orang yang pantas menerimanya sungguh ia telah berbuat kedholiman.

Maka puaskanlah dirimu dengan berbagai isyarat singkat, sebab untuk menyakinkan perkataan dalam kitab ini membutuhkan pengukuhan barbagai dasar dan menguraikan semua fasal-fasal yang terkait, tetapi aku tidak memliki waktu yang cukup dan tidak pula terpusat dalam cita-cita dan pikiranku.

Mafatihul qulub, kunci-kunci pembuka hati, ada di tangan Allah. Ia membukakannya jika menghendaki sesuai dengan kehendak-Nya. Terkait hal diatas hanya ada tiga fasal yang akan kami kupas. Wallahu a’lam bissawab. (Bersambung).


*Diterjemahkan oleh Ali Ridho, Ustadz Muda Tebuireng. Judul aslinya adalah Misyakat al-Anwar karangan Abu Hamid Muhammad al-Ghazali. Di Pesantren Tebuireng, kitab itu diampuh oleh KH. Fahmi Amrullah Hadzik.

SebelumnyaPenyalinan Manuskrip, Kepedulian Mahasiswa Unhasy terhadap Peninggalan Klasik
BerikutnyaRamadan (Nikmatnya) ‘Ngaji Kilatan’ Ala Santri