Tebuireng.online– KH. Muhammad Ilyas, namanya memang tidak cukup masyhur seperti tokoh-tokoh ulama di Pesantren Tebuireng. Sebut saja seperti, Hadratusyaikh KH. Hasyim Asyari, KH. Wahid Hasyim, atau Gus Dur dan Gus Sholah.

KH. Ilyas memang sosok tokoh yang memiliki tipikal low profil semasa hidupnya. Hal ini bermaksud untuk menghidari rasa riya’ yang biasa dihindari oleh para ulama-ulama terdahulu.

Bagi sebagian santri Pesantren Tebuireng saja, nama beliau terasa cukup asing. Keasingan ini disebabkan, karena beliau juga tidak di makamkan di halaman pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng umumnya ulama-ulama Pesantren Tebuireng dikebumikan, tetapi di makamkan di Taman Pahlawan Kalibata Jakarta.

KH. Muhammad Ilyas lahir pada tanggal 23 November 1911 di Keraksaan, Probolinggo, Jawa Timur. Semasa kecilnya, ia mendalami ilmu agama kepada ayahnya, terutama mengenai sharaf, nahwu, fiqih, dan Al-Qur’an.

Selain digembleng ilmu keagamaan oleh ayahnya, pada 1918 ia berkesempatan menempuh pendidikan di Holland Inlandscher School (HIS) Bubutan Surabaya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

HIS adalah jenis sekolah tingkat dasar untuk golongan penduduk keturunan Indonesia asli. Pada umumnya, sekolah ini disediakan hanya untuk anak-anak kalangan bangsawan, tokoh terkemuka, atau pengawai negeri. Kesempatan belajar di HIS tidak di sia-siakan olehnya (hlm.16)

Ketika KH. Muhammad Ilyas mondok di Pesantren Tebuireng, pesantren sudah cukup tertata dengan baik. Pola pengajiannya sudah menggunakan metode yang telah disesuaikan dengan kondisi santri pada itu.

Saat itu, Pesantren Tebuireng telah memperkenalkan adanya penjenjangan, pembagian tugas guru, dan kurikulum pengajian yang diinterasikan ke dalam sistem pengajaran madrasah.

KH. Muhammad Ilyas mengikuti pengajian yang diselengarakan pesantren dengan tekun. Dasar-dasar ilmu yang diperoleh semasa sekolah di HIS Surabaya, memudahkan baginya untuk mendalami bermacam-macam cabang pengetahuan, seperti tata bahasa Arab, kaidah fiqh, tafsir, hadist dan tasawuf.

Cabang-cabang ilmu pengetahuan itu kebanyakan diajarkan secara langsung oleh KH. Muhammad Hasyim Asyari karena kecerdasan KH. Muhammad Ilyas, KH. Muhammad Hasyim Asyari menunjuknya sebagai Lurah Pondok dan Kepala Madrasah Salafiyah.

Dua kunci ini dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh KH. Muhammad Ilyas untuk melakukan pembaruan di Pesantren Tebuireng. Semenjak itu, KH. Muhammad Ilyas membuka akses informasi dunia luar selebar-lebarnya, dengan memasukan surat kabar, majalah, buku-buku pengetahuan umum dengan tulisan huruf latin.

Selain itu, KH. Muhammad Ilyas juga memasukkan mata pelajaran umum seperti baca tulis, baca huruf latin, bahasa Indonesia, ilmu bumi, sejarah Indonesia dan matematika. Semuanya diajarkan dengan menggunakan huruf latin, kecuali pelajaran sejarah Islam yang masih menggunakan huruf Arab (hlm.24).

Dimasukkannya ilmu-ilmu umum ke Pesantren Tebuireng mengundang protes dari banyak kalangan, terutama para ulama dan orang tua murid.

Mereka beranggapan bahwa ilmu-ilmu itu tidak berguna bagi umat Islam yang mengejar kebahagiaan abadi di akhirat. Lebih-lebih, ilmu pengetahuan umum dibawa oleh orang-orang Belanda, kaum penjajah yang memusuhi umat Islam di Nusantara.

Banyak penolakan tidak membuat langkah KH. Muhammad Ilyas surut. Selagi KH. Muhammad Hasyim Asy’ari tidak melarangnya, ia tetap bersikeras menjalankan agenda-agenda pembaruan itu.

Meskipun pada awalnya memperoleh penolakan dan protes dari banyak kalangan, keputusan KH. Muhammad Ilyas yang mewajibkan santri untuk menggunakan bahasa Arab aktif dalam proses belajar mengajar kitab kuning mendapatkan pujian.

Melalui kebiasaan menggunakan bahasa Arab ini santri tidak perlu menerjemahkan kitab dengan menggunakan bahasa Jawa istilah per istilah. Diwajibkan menggunakan bahasa Arab secara aktif menjadikan santri termotivasi untuk dapat menguasai bahasa Arab. (hlm.26)

Judul Buku: Dari pesantren Untuk Bangsa. Biografi KH. Muhammad Ilyas
Editor: H.M. Said Budairy dan H. Ali Zawawi
Halaman: xxxvi + 362 halaman
Penerbit : Yayasan Saifudin Zuhri
Cetakan : Jakarta 2009
ISBN : 978-979-8719-05-9
Peresensi: Dimas Setyawan (siswa Sekolah Menulis Majalah Tebuireng)

SebelumnyaKrisis Lingkungan: Merawat Bumi Indonesia, Tugas Siapa?
BerikutnyaMengulik Isi Perpustakaan Pribadi KH. M. Ishaq Lathif