Catatan Pisau di Hari Qurban

(Sumber foto: http://poskotanews.com)

Oleh: Hayah Nisrina Firdaus*

Akulah saksi dari segala kesakitan. Memberi rasa sakit dan mendapat rasa sakit. Baiknya, diriku bukanlah pembalas dendam. Jika diminta memilih, kegelapanlah yang terbaik. Kawan-kawan sudah memiliki masa pertempuran menyakitkan, kini giliranku keluar dari persemayaman nan gelap ini.

Perlahan tapi pasti, cahaya dan udara menyelimuti kepalaku secara lembut. Tapi, tersadar bahwa tubuh bagian bawah ini digenggam oleh tangan kasar. Tertebak pula bahwa itu tangan pekerja keras, dan pada hari inilah kebolehanku dimulai.

Sejauh mata memandang, tampak jelas cairan merah, memercik dan mengucur begitu segar. Suara-suara takbir meramaikan, riuh namun tak ricuh. Tabuhan bertalu-talu pun berpartisipasi jua mendukungku. Manusia-manusia lain serentak menyeruak mempertontonkan yang ada di lapangan ini. Termasuk diriku, meski hanya dianggap sebagai figuran. Barangkali aku akan menjadi andalan bagi para penggenggam, entah itu berupa nasib baik atau buruk.

Tiba-tiba genggamanya semakin erat. Kulihat kawan-kawan sudah termandikan cairan merah segar. Semakin didekatkan diriku pada sasaran. Bukan. Bukan sasaran utama. Dia hanya alat asah agar tubuhku mengkilat. Sakit? Iya! Inilah kesakitan yang kudapatkan, bak pelatihan sebelum menjadi hebat. Mulai terasakan amisnya bekas cairan merah dari kawan-kawan. Ah, betapa profesionalnya penggegam ini. Kesakitan membuatku semakin menarik dan sasaran utama tidak akan merasakan betapa jahat gorokan untuk mereka.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selang beberapa menit, diriku dihadapkan pada mata sang pengasah. Sama mengkilatnya kami. Terlebih, terik matahari sebelum bisa disebut siang mendukung kilatan ini. Senyum kebanggaan tersemat di wajahnya, beberapa titik peluh menghinggapi dahi jenong pria tersebut. Sepatutnya diriku berbangga mendapat penggenggam seprofesional dia.

“Allahu Akbar…Allahu Akbar..”.

Seruan suci itu menyeruak di seluruh penjara lapangan, tempat penuh barakah. Hampir seluruh sasaran, kami berlomba-lomba untuk mengembik hendak mengalahkan seruan warga pesantren. Namun, apalah daya mereka yang dipasrahkan dengan tujuan kebaikan. Jaminan akan dagingnya pun tak sembarangan. Pasti akan memancar kecerahan di wajah hewan berkah itu ketika kelak menjadi tunggangan bagi pemiliknya di surga.

Sampai pada saat yang mendebarkan, kukuatkan tekad. Sasaran pertama ialah kambing abu-abu gemuk berisi. Entah berapa lama ia berdekatan dengan pohon terindang di lapangan pesantren. Mereka disatukan dengan tali yang memungkinkan rasa terkekang pada setiap hewan. Meskipun sepertinya kambing ini adalah kebanggaan, karena terlihat paling gemuk di antara kambing lainnya, juga dengan penempatannya paling dikhususkan. Berbangga diriku untuk kehormatan menggorok leher kambing kebanggaan.

Penggenggam tadi mengacungkanku. Membiarkan kilatan dari tubuh ini memandang lepas seluruh santri, ustadz, ustadzah, warga pondok pesantren dan seisi lapangan bahkan lebih dari itu. Seruan takbir semakin menggelagar. Penggenggamku mulai merobohkan badan sasaran kami. Bantingannya yang belum berdebum terdengar olehku. Embikannya keras, hewan itu menggeliat penat. Diriku mulai diajukan, berharap supaya asahan tadi tidak sia-sia. Inilah masa di mana kesakitan yang kudapatkan memberi rasa sakit. Hingga ubun-ubunku sudah sampai pada leher si kambing. Nyawanya di ujung tanduk, inilah tugas utama penggorok. Dulu, buyut dari buyut- buyutku hampir menggorok leher Nabi Ismail AS oleh tangan ayahnya, Nabi Ibrahim AS. Pada tanggal yang sama pula, tragedi perintah dari bunga tidur yang dilaksanakan.

🤔  Tak Sanggup Mencinta

Terima kasih untuk kesempatan tanpa elakan. Partisipasi dalam peringatan hari besar sekali setahun. Sesungguhnya, inilah impian dari hampir seluruh pisau. Kawan, inikah perasaan kalian jika berada di posisiku? Angan di benak semakin tabu, badan tajam nun mengilatku merasakan bulunya yang memang tak begitu lembut. Penggenggam handal mulai menggorok cepat, keras, dan sekuat yang ia mampu.

Tubuhku mulai termandikan cairan merah kental, deras, mengucur, buatku amat kuyup. Seketika, terasa tetesan air nian lembut dan hangat. Namun, itu bukan air biasa yang kalian kenakan untuk mandi atau wudhu. Bukan pula percikan keringat dari penggenggam yang jidatnya jenong, apalagi air comberan seberang lapangan. Yang kurasakan, entah datangnya dari jalan mana, ini adalah embun mata sasaran kebanggaan. Keterharuan yang datang membuatku untuk semakin kuat menggoroknya dan meredupkan nadinya. “Bersabarlah, keberkahan menyertaimu, penunggang di taman surga menantikanmu.”

Bisikku, ketika embun mata membelaiku sebelum nadimu meredup dan dagingmu menjadi santapan manusia-manusia tamak. Maafkanlah diriku pula jika tugas ini terlalu menyakitkan. Karena sejatinya, caraku menyakiti sudah terlalu cepat dan sudah tak diragukan lagi ketajamannya.

“Banda! Ayahmu!

“Mengapa?”

“Ikutlah denganku !”

Lelaki yang sebaya dengan penggenggamku datang berseru dengan nafas tersengal-sengal. Sementara yang diserukan termangu masih menggenggam barang andalannya meski pekerjaan dapat dikatakan kelar.

“Cepat! Serahkan amanatmu pada santri lain!,” kabar dariku sungguh mendesak. Serunya sekali lagi lebih tegas. Genggamanpun merenggang dan diriku terlempar hingga terhampar di lapangan. Kupandang wajah termangu warga pondok pesantren lainnya. Sedangkan kambing tak berdaya itu sudah kubisikkan bahwa baru saja kudapatkan kabar dari salah satu kawan-kawan. Ia telah menggorok yang bukan haknya. Bukan kawan yang salah, penggenggamnyalah sang penggorok sosok yang dikabarkan. Malang nasibnya, santri rantau pemegang amanat untuk menggorok hak yang sebenarnya. Bukan seperti manusia tamak itu yang sengaja menggorokkan kawanku karena kemahiran, lebihnya pada manusia lain demi harta semata. Ah, mungkin si tamak itu belum mengerti akan sejarah diperingatinya salah satu hari raya umat Islam ini.

Jombang, 02 September 2017.


*Siswi SMA Trensains Tebuireng kelas X-Sains 3