Oleh: Anisa Faiqotul Jannah*

Dalam ajaran Islam, ulama berkedudukan sebagai waratsah al-an-biya (pewaris para Nabi). Secara historis, ia memiliki otoritas mendalam dalam keagamaan, oleh karenanya ulama sangat dihormati dan disegani baik dalam pikiran atau dalam gagasannya. Dengan kata lain ulama merupakan kelompok elit dalam keagamaan yang sangat penting di Nusantara seperti yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, Madura dan Wilayah lainnya di Indonesia.

Salah satu ulama yang turut andil dalam perkembangan Islam di Nusantara yaitu ulama-ulama di Sumatra Barat. Dari sekian banyaknya tokoh ulama yang lahir dari tanah Melayu ternyata banyak orang yang belum mengetahui, bahwa di tanah Sumatra melahirkan ulama ahli Falak atau Astronomi Islam yang mana pemikirannya dalam khazanah ilmu falak di Nusantara bahkan di dunia Internasional sangat penting

Syekh Tahir Jalaluddin al-Falaki al-Azhari dan Syekh Muhammad Djamil Djambek. Kedua tokoh ulama tersebut adalah ahli Falak yang berasal dari Sumatra Barat, keterangan tersebut juga dapat ditemukan dalam buku karangan Mahmud Yunus Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (1967).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Syekh Tahir Jalaluddin al-Falaki al-Azhari

Syekh Tahir Jalaluddin al-Falaki al-Azhari lahir di Cangking, Minangkabau, Sumatra Barat pada tanggal hari Selasa, 4 Ramadan 1286 Hijrah atau 8 Desember 1869 M. Beliau merupakan saah satu ulama yang mengikuti gerakan Islam modern dan pembaharuan. Pada masa itu ada suatu perdebatan antara ulama kaum muda dan kaum tua, terjadi diskursus-diskursus pemikiran yang saling bertentangan.

Keluarga

Syeikh Tahir Jalaluddin menikah beberapa kali. Catatan beliau sendiri dinyatakan bahawa: Nikah di Mekah pada hari Sabtu, 26 Dzulhijah 1305 Hijrah/4 Agustus 1888 Masehi dengan Aisyah binti Syeikh Muhammad bin Syeikh Ismail al-Khalidi. Diakadkan oleh Sayid Bakri Syatha yang menerima wakil daripada Syeikh Ismail bin Syeikh Muhammad di hadapan Sayid Umar Syatha, Syeikh Muhammad Nur bin Syeikh Ismail, Syeikh Muhammad Saleh al-Kurdi, Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau dan Syeikh Ismail bin Syeikh Muhammad, saudara Aisyah. Perkawinan yang pertama ini adalah dengan cucu Syeikh Ismail al-Khalidi al-Minankabawi, ulama besar yang terkenal dan penyebar Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah.

Kemudian Syeikh Tahir Jalaluddin menikah lagi dengan Kaltsum binti Haji Ibrahim, pada malam Jumaat, 9 Rajab 1310 Hijrah/27 Januari 1893 Masihi. Selanjutnya pada malam Jumat 13 Ramadhan 1310 Hijrah/31 Mac 1893 Masihi, menikah pula dengan Jamilah binti Haji Abdul Karim. Pada malam Khamis, 20 Jamadilawal 1317 Hijrah/23 September 1899 Masehi menikah dengan Aisyah binti Haji Mustafa bin Datuk Menteri Sati yang dihadiri oleh Syeikh Muhammad al-Khaiyath, Haji Hasyim Kelantan dan lain-lain. Selain yang tersebut masih ada lagi.

Perjalanan Pendidikan

Syekh Tahir ini mulai mengembara ilmu sejak dari belia, sejak kecil beliau sudah menampakkan rasa cintanya terhadap ilmu. Saat usianya menginjak 10 tahun, tepatnya pada tahun 1879 beliau hijrah ke Makkah untuk menimba ilmu kepada para ulama dengan mengikuti sepupunya Syekh Ahmad Khatib yang telah lebih dulu belajar di kota Makkah.

Selama 12 tahun lamanya beliau belajar kepada guru-guru yang ahli dalam bidang al-Quran dan ahli dalam bidang lainnya. Di antara gurunya yaitu Syekh Abdul Haq, Syekh Umar Syatha, Muhammad Al-Khaiyath, dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau yang tak lain merupakan sepupunya sendiri untuk mendalami ilmu Falak Syekh Tahir berguru kepada seorang ahli falak yang bernama Syekh Ahmad al-Fathani. Beliau menekuni ilmu falak hingga menguasainya, setelah menguasai ilmu Falak beliau di minta untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Al-Azhar Mesir guna untuk lebih mendalami lagi ilmu falak hingga usianya mencapai 30 tahun.

Setelah beliau merasa cukup, kemudian Syekh Tahir Jalaludin pulang ke Nusantara dan menjelajahi setiap sudut melayu untuk menimba dan mengajarkan ilmu falak. Beliau pergi ke Riau, Singapura, Surabaya, Bali, Sumbawa, Makassar, Palembang, Minangkabau, Kelantan, dan Gowa.  Beliau juga banyak berinteraksi dengan para ulama dan tokoh ahli falak di Nusantara.

Pembaharuan dan Karya-Karyanya

Dalam penentuan awal bulan hijriah Syekh Tahir Jalaludin melakukan pembaharuan hanya dengan perhitungan ilmu falak menggunakan logaritma atau dalam istilah dikenal hisab. Sedangkan ulama-ulama lain menentukan awal bulan hijriah berpatokan dengan melihat bulan baru (Hilal) atau rukyatul hilal.

Syekh Tahir Jalaludin  menghasilkan karya dalam ilmu Falak dengan judul kitab Nukhbat al-Taqrirat fi Hisab al-Awqat wa Sumut al-Qiblat bi Lugaritmat, Pati Kiraan pada Menentukan Waktu yang Lima dan Hala kiblat dengan Logaritma, Natijah al-Umr, al-Qiblah fi-Al-Nushus Ulama al-Syafiiyyah fi ma Yata’allaqu bi Istiqbal al-Qiblah al-Syar’iyyah Manqulah min Ummahat Kutub al-Madzhab.

Wafat

Pada tanggal 26 Oktober 1956 Syekh Tahir Jalaludin wafat di Kuala Kangsar, Perak, setelah menunaikan shalat subuh . Untuk mengenang beliau, di Malaysia dibangun Pusat Falak Syekh Tahir pada tahun 1991 di Pulau Pinang.


*Mahasiswi Universitas Hasyim Asy’ari

SebelumnyaKisah Mondok: Masa Ta’aruf Santri Baru
Berikutnya338 Mahasiswa FAI UNHASY Ikut Yudisium, Ini Peringkat Pertama