Oleh: Quratul Adawiyah*

Tidaklah kedua telinga mendengar kalimat musibah melainkan pada telinga satunya harus ada kalimat sabar, kalau seandainya hal itu tidak dilakukan maka masalah atau problem tersebut akan menjadi semakin membesar. Pada akhirnya membuat patah semangat dan berujung enggan untuk menyelesaikanya. Namun, Allah ‘Azza wajalla Maha Penyayang dalam hal ini kepada para hamba-Nya, Allah memberi petunjuk bagi mereka tentang cara jitu untuk mengatasi masalah, yaitu dengan kesabaran.

Dalam agama Islam, sabar mempunyai kedudukan yang sangat urgen, bahkan ia merupakan bagian dari agama itu sendiri, di mana sabar adalah tempat berteduhnya bagi para penyabar, dan merupakan harta simpanan dari simpanan-simpanan di surga. Allah SWT telah menjanjikan bagi orang-orang yang sabar dengan pahala yang sangat besar, hal itu dijelaskan dalam firman-Nya:

اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”. Q.S. az-Zumar: 10

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Nabi  SAW juga pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :( عَجَباً لأمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأِحَدٍ إِلاَّ للْمُؤْمِن: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خيْراً لَهُ). رواه مسلم

“Sungguh sangat menakjubkan perkaranya seorang mukmin itu, semua perkaranya baik, dan tidak ada pada seorang pun melainkan hanya seorang mukmin, jika dirinya mendapat reziki dia bersyukur, maka itu baik baginya, jika dirinya di timpa musibah lalu bersabar itu juga baik baginya”. HR Muslim.

Sikap sabar sendiri mempunyai makna yang dalam yaitu berhenti bersama musibah dengan cara menyikapi yang baik. Dan jangan dikira kalau musibah itu hanya pada perkara-perkara yang besar saja seperti kematian atau perceraian, misalkan, akan tetapi setiap perkara yang kamu merasakan sedih ketika kehilangan darinya maka itulah yang dinamakan musibah.

Pernah suatu hari tali sendalnya Umar bin Khatab, semoga Allah meridhoinya, putus maka beliau pun mengucapkan kalimat istirjaa’ lalu mengatakan: “Setiap kejadian buruk yang menimpamu maka itu adalah musibah”.

Dan jika seorang muslim tidak sabar ketika tertimpa sebuah musibah, tidak pula mengharap pahala dari sebab musibah tersebut, maka hilang sudah pahala dan ganjaran dari Allah ta’ala pada hari-hari musibah tersebut.

Ibnul Jauzi mengatakan: “Kalau sekiranya dunia itu bukan tempatnya ujian maka tidak ada yang namanya penyakit, cemas, bimbang dan perasaan suram, kehidupan tidak terasa sempit bagi para nabi dan orang-orang pilihan. Nabi Adam tidak akan diuji sampai keluar dari dunia, Nabi Nuh menangis dalam waktu yang sangat panjang tiga ratus tahun (lamanya), Nabi Ibrahim di lempar ke dalam api dan diuji untuk menyembelih anaknya yang ia cintai, Nabi Ya’qub menangis karena kehilangan anaknya Yusuf sampai hilang penglihatannya, Nabi Musa dikejar Fira’un, bukan itu saja, namun kaumnya pun mendapat ujian dari kezaliman Fir’aun, Nabi Isa bin Maryam tidak ada tempat untuk berlindung baginya melainkan hidup dalam kesengsaraan.

Dan Nabi kita Muhammad SAW sabar dalam kehidupan yang serba kekurangan, terbunuhnya Hamzah bin Abdul Mutholib pamannya yang merupakan orang yang paling beliau cintai dari kalangan keluarganya, begitu juga ditinggal lari oleh kaumnya, (pada pertama kalinya muncul dakwah beliau), mereka enggan untuk menerima dakwahnya. Dan masih banyak lagi selain mereka dari kalangan para Nabi dan para wali yang sangat luar biasa diuji kesabarannya.

Dan sabar yang dimaksud di sini, bukan hanya sekedar mampu menahan musibah yang menimpanya dan meneguk rasa sakit yang dialaminya serta kesedihan yang terasa menyekat di kerongkonganya, namun sabar di sini adalah sabar yang mampu mencari solusi permasalahannya dan sanggup menata kembali perkaranya.

Adakalanya sabar di dalam mencari solusinya dengan dakwah kepada Allah SWT, adakalanya sabar di dalam mencari solusinya dengan mendidik dan bergaul dengan cara yang indah, adakalanya sabar di dalam mencari solusinya dengan kembali menikah dan istiqomah bersamanya, demikian seterusnya setiap masalah dibutuhkan cara penyelesaian dan kesabaran dalam mencari solusinya.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaBagaimana Mahar yang Baik dalam Islam?
BerikutnyaKetika Pandemi Berubah Menjadi Krisis HAM