Oleh: Ikmaluddin Fikri*

“Aku pernah menguasai dunia, laut akan naik ketika aku berbicara, sekarang di pagi hari aku tidur sendiri, menyapu jalanan yang pernah aku kuasai.” Sebuah kutipan lagu berjudul Viva la Vida yang dipopulerkan oleh band asal Inggris, Coldplay ini merupakan interpretasi dari pidato apologi Raja Louis XVI, raja terakhir Perancis sebelum akhirnya dipenggal oleh rakyatnya sendiri. Pemenggalan Louis XVI ini merupakan salah satu dampak dari Revolusi Perancis, salah satu revolusi radikal yang merubah Perancis selamanya, yang mengakhiri monarki absolut yang berkuasa berabad-abad di Perancis, dengan mengorbankan Louis XVI dan Sang Ratu, Marie Antoinette, dalam pemenggalan oleh kemarahan rakyat yang lapar.

Begitulah perjalanan suatu kekuasaan, ada saatnya berkuasa ada saatnya runtuh. Selama sejarah peradaban manusia bergulir, hal ini terus terjadi. Melahirkan negara baru dengan dinastinya, serta mengakhiri kekuasaan yang lama dengan dinastinya pula. Dalam peradaban Islam kita mengetahui bagaimana kekhilafahan terakhir Ali diturunkan dengan mengawali khilafah baru bercorak monarki Dinasti Umayyah. Selanjutnya dinasti ini juga berakhir dengan melahirkan dinasti baru, Abbasiyah. Di Barat hal yang sama juga terjadi, peradaban berabad-abad Romawi berakhir dengan terpecahnya kekuasaan mereka, sehingga terlahirlah kekuasaan-kekuasaan baru. Begitu juga di Nusantara, Kediri yang digantikan Singosari, Singosari diruntuhkan juga, dan muncullah Majapahit, hingga akhirnya Majapahit juga runtuh dan memunculkan kerajan dan kesultanan baru.

Perjalanan alamiah manusia ini pernah dituliskan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqadimah-nya. Teori timbul dan runtuhnya peradaban ini dibaginya dalam lima tahap. Tahap pertama, tahap sukses atau konsolidasi, dimana suatu kekuasaan menggulingkan dinasti sebelumnya dengan persatuan masyarakat (ashabiah) yang mendukungnya. Tahap yang membuat bangsa Anglo-Saxon menggulingkan kekuatan yang menginvasi mereka di tanah Britania, bangsa Jermanik yang mengakhiri hegemoni Romawi, dan suku-suku Turki yang mendirikan Dinasti Seljuk setelah kekuasaan bangsa Arab.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tahap kedua, tahap tirani yang menjadikan penguasa berkuasa dengan seenaknya sendiri. Mereka berkuasa dengan tangan besi dan lebih mementingkan mengumpulkan harta dan pengikut, tahapan yang menjadikan Yazid bin Muawiyah (Yazid I) bertanggung jawab atas kematian Husain bin Ali, cucu Nabi SAW. Tahap ketiga, tahap sejahtera, tahapan ketika negara telah berfokus kepada pembangunan, tahapan yang mengenalkan Umar bin Abdul Aziz dalam Dinsati Umayah, dan Harun Ar-Rasyid dalam Dinasti Abbasiyah.

Tahap keempat, tahap kepuasan hati, tentram, dan damai. Tahapan yang membuat penguasa merasa nyaman dengan warisan pendahulunya. Tahap kelima, tahap hidup boros dan berlebihan, tahapan yang membuat penguasa menghancurkan warisan pendahulunya dengan hidup berfoya-foya dan melewati batas. Tahapan yang menjadikan Louis XVI membawa Perancis pada kemiskinan dan mengakhiri warisan pendahulunya dengan revolusi yang dilakukan oleh rakyatnya, serta Dinasti Qing yang mengalami Century of Humiliation (abad penghinaan) yang membuat dinasti ini berakhir dan mengenalkan Tiongkok modern di tangan pihak nasionalis dan komunis.

Menurut Ibnu Khaldun, tahapan-tahapan tersebut memunculkan tiga generasi. Pertama, generasi pembangun. Kedua, generasi penikmat. Ketiga, generasi yang bobrok yang sudah tidak perduli dengan keadaan negara. Generas-generasi ini banyak kita kenal dalam sejarah, atau bahkan ada pada saat ini di bangsa-bangsa dan negara yang ada di dunia saat ini. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah di tahapan mana negara kita Indonesia berada? Serta generasi yang mana generasi ini berada? Semoga kita berada pada tahap dan generasi yang benar. Umur panjang negeriku!


*Alumni Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Mengabdi di Tebuireng 08 Banten

SebelumnyaPantaskah Marah, Jika Nabi Muhammad Saw Dihina?
BerikutnyaPiala Kasad Liga Santri PSSI 2022, Resmi Dimulai!